Tipu Investor, Bos Walet Kateng Divonis Lima Tahun

SIDANG: Suasana sidang perdana kasus penipuan investor oleh dua terdakwa, Chuck Wijaya, seorang oknum Notaris, dan Lalu Ading Buntaran, pengusaha walet di Desa Kateng. (DOK/RADAR LOMBOK)

PRAYA — Pengadilan Negeri (PN) Praya memvonis terdakwa Chuck Wijaya, yang merupakan seorang oknum Notaris, dan Lalu Ading Buntaran, pengusaha burung walet di Desa Kateng, dengan masing-masing penjara lima tahun. Kedua terdakwa dinilai terbukti bersalah dalam kasus penipuan investor jual beli tanah di Desa Kateng, Kecamatan Praya Barat, yang menjerat mereka.

Selain vonis penjara selama 5 tahun, Majelis Hakim yang menyidangkan perkara tersebut pada Senin (12/12) itu juga membebankan kedua terdakwa untuk sama-sama membayar denda masing-masing Rp 3 miliar, dengan subsider 6 bulan penjara.

Diketahui, vonis untuk terdakwa Chuck Wijaya lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut terdakwa Chuck Wijaya penjara 7 tahun dan denda  Rp 3 miliar dengan subsider 6 bulan penjara. Sementara vonis Lalu Ading Buntaran sama dengan tuntutan JPU yang menuntut terdakwa 5 tahun penjara, denda Rp 3 miliar subsider 6 bulan.

Kasi Pidum Kejari Lombok Tengah, Arin P. Quarta ketika dikonfirmasi membenarkan sudah adanya vonis kedua terdakwa itu. Hanya saja dari vonis tersebut, para terdakwa, termasuk juga JPU memutuskan untuk sama-sama melakukan banding.

“Terdakwa Chuck dan Ading masing-masing di pidana penjara selama lima tahun, dan sikap terdakwa banding. Termasuk JPU juga banding,” ungkap Arin P. Quarta saat dihubungi Radar Lombok, Senin kemarin (12/12).

Ia menegaskan majelis hakim memutuskan pasal yang sama dengan tuntutan JPU, yakni pertama kesatu 378 Jo 55 ayat 1 ke 1 KUHP Jo Pasal 64 ayat 1 KUHP dan kedua kesatu Pasal 3 Undang- Undang (UU) Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) jo 55 ayat 1 ke 1 KUHP Jo Pasal 64 ayat 1 KUHP. “Jadi atas putusan ini JPU dan terdakwa juga mengajukan banding,” terangnya.

Seperti diketahui, terdakwa Chuck Wijaya dan terdakwa Lalu Ading Buntaran dalam dakwaan sebelumnya didakwa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum. Dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya.

Pada 16 Oktober 2019, terdakwa Chuck Wijaya di kantornya di Praya menyampaikan kepada Handy, kalau tanah seluas kurang lebih 17 hektare milik terdakwa Lalu Ading Buntaran mau dijual seharga Rp 10 juta per are, atau total harga Rp 17 miliar.

Baca Juga :  Pemprov Didesak Transfer Dana Bagi Hasil ke Kabupaten/Kota

Handy menyatakan bersedia, dan sanggup membayar tanah yang berada di kawasan main area sesuai yang ditawarkan oleh terdakwa Chuck Wijaya, dengan syarat tanah seluas 17 hektare itu harus dalam keadaan satu hamparan utuh sesuai peta bidang.

Saat itu, terdakwa Lalu Ading Buntaran menunjukkan bukti kepemilikannya atas tanah-tanah tersebut, serta telah dapat dilakukan peralihan hak atau sertifikatnya atas nama Handy selaku pembeli.

Untuk memenuhi persyaratan dari Handy, lalu terdakwa Chuck Wijaya menunjukkan setumpuk dokumen kepada Handy guna menyakinkan kalau tanah yang berada dalam kawasan area utama milik Lalu Ading Buntaran.

Terdakwa Chuck Wijaya menyampaikan dari tanah seluas kurang lebih 17 hektare di kawasan area utama, 9 hektare telah menjadi milik terdakwa Lalu Ading Buntaran. Sedangkan yang 8 hektare segera akan dibebaskan oleh terdakwa Lalu Ading Buntaran dengan cara menukar guling tanah dengan pemilik tanah lainnya.

Sekitar pertengahan November 2019, terdakwa Chuck Wijaya kembali menghubungi Handy melalui handphone, menyampaikan kalau waktu itu tanah-tanah di kawasan area utama dan lahan sebagai akses jalan masuk, sudah menjadi milik terdakwa Lalu Ading Buntaran. Chuck Wijaya meminta Handy untuk datang ke Lombok menandatangani akta jual beli dengan terdakwa Lalu Ading Buntaran.

Pada 24 November 2019, Handy datang ke Lombok dan bertemu dengan terdakwa Chuck Wijaya maupun terdakwa Lalu Ading Buntaran di Hotel D-Praya. Pertemuan itu selain ada dua terdakwa, hadir juga Kades Kateng Lalu Syarifudin.

Saat itu, terdakwa Chuck Wijaya kembali menegaskan tanah di kawasan main area dan tanah-tanah sebagai akses jalan masuknya sudah menjadi milik terdakwa Lalu Ading Buntaran, sambil menunjukkan SHM-SHM asli untuk tanah-tanah kawasan area utama yang telah bersertifikat, serta draf Surat Pernyataan Penguasaan Bidang Tanah (Sporadik) atas tanah-tanah area utama yang ternyata sudah atas nama Handy.

Baca Juga :  11.074 Ekor Sapi di Pulau Lombok Terjangkit PMK

Begitu pula untuk tanah-tanah yang belum bersertifikat, serta puluhan draf akta jual beli tanah-tanah main area antara terdakwa Lalu Ading Buntaran sebagai penjual dan Handy sebagai pembeli. Untuk memastikan kebenaran penyampaian terdakwa Chuck Wijaya, Handy menanyakannya kepada Lalu Syarifudin selaku Kades Kateng, dan dibenarkan oleh Lalu Syarifudin.

Untuk lebih memastikan kebenarannya, maka Handy meminta agar terdakwa Chuck Wijaya dan terdakwa Lalu Ading Buntaran dan Lalu Syarifudin menandatangani peta bidang tanah main area. Karena terdakwa Chuck Wijaya bersama dengan terdakwa Lalu Ading Buntaran telah berhasil meyakinkan Handy, maka kemudian Handy pun bersedia membelinya sesuai kesepakatan dan persyaratan sebelumnya.

Saat itu, terdakwa Chuck Wijaya meminta kepada Handy untuk menyerahkan uang sebesar 70 persen dari harga pembelian tanah Rp 11.889.920.000 sebagai jaminan. Chuck Wijaya pun menyampaikan jika keseluruhan tanah-tanah main area tidak dapat tuntas seluruhnya diproses menjadi atas nama Handy, maka uang jaminan atau titipan senilai Rp 11.889.920.000 akan dikembalikannya kepada Handy tanpa dipotong atau dikurangi sepeser pun.

Setelah itu, pada 25 November 2019, Handy menyerahkan uang jaminan Rp 11.889.920.000 kepada terdakwa Chuck Wijaya. Namun hingga saat ini sertifikat atas tanah area utama belum dapat diterbitkan atas nama Handy, termasuk pula tanah akses masuk ke lokasi belum terselesaikan.

Handy sudah berusaha berulang kali meghubungi Chuck Wijaya untuk menanyakan perihal penerbitan sertifikat SHM atas tanah-tanah main area sesuai kesepakatan. Namun terdakwa Chuck Wijaya selalu memberikan berbagai macam alasan hingga suatu ketika saksi Handy bertemu dengan Lalu Syarifudin selaku Kades Kateng pada bulan Januari 2020 dan mengatakan, sebenarnya tanah yang berada dalam kawasan main area yang dibeli oleh Handy tidak seluruhnya milik terdakwa Lalu Ading Buntaran.

Atas penyampaian Kades Kateng Lalu Syarifudin tersebut, Handy meminta kepada terdakwa Chuck Wijaya untuk mengembalikan uang jaminan senilai Rp 11.889.920.000 yang telah diserahkannya. Namun hingga saat ini tidak pernah ada pengembalian uang jaminan. Akibat perbuatan kedua terdakwa, Handy mengalami kerugian Rp 11.889.920.000. (met)

Komentar Anda