Tiongkok Menjelma Jadi Negara Modern

MODERN: Tampak salah satu sudut informasi di pusat perbelanjaan di Tiongkok, yang semua telah menerapkan sistem elektronik. (sukisman azmy/radarlombok.co.id)

PERKEMBANGAN pembangunan di Tiongkok sejak merdeka dan membuka diri dengan dunia luar, sungguh sangat menakjubkan. Hal ini terungkap ketika kunjungan rombongan para wartawan yang tergabung dalam PWI wilayah Nusra, yakni Provinsi Bali, NTB dan NTT, selama seminggu, 23-30 Agustus 2019, ke Tiongkok.

Menurut H Sukisman Azmy, Ketua PWI NTB yang juga salah satu peserta kunjungan ke Tiongkok, kehidupan modern sangat terasa di Tiongkok, dimana semua serba memanfaatkan teknologi tinggi. Bahkan belanja pun sudah jarang menggunakan transaksi secara langsung, tetapi sudah menggunakan sistem elektronik. Cukup menempelkan HP di ‘barkode”, maka barang diinginkan otomatis sudah terbeli. Demikian juga penyewaan sepeda yang lalu lalang di jalanan, dan karcis masuk ke berbagai obyek wisata pun tidak menggunakan dana segar.

Jalan utama yang sangat luas, 3 hingga 6 jalur, diimbangi dengan taman kota sepanjang jalan, membuat Kota di Tiongkok tampak asri. Sungai pun tampak bersih dan jernih jauh dari sampah yang berserakan, baik sampah pohon maupun sampah plastik.

Kendaraan yang lalu lalang dijalan tidak menimbulkan kemacetan, meskipun kota seluas Beijing dengan penduduk diatas 100 juta jiwa. Perumahan berupa aparteman menjulang tinggi di setiap kota, dengan jumlah yang sangat banyak. Dimana lantai satu dimanfaatkan untuk sarana sosial dan supermarket.

Gedung-gedung modern dan pencakar langit bertebaran dimana-mana. Bahkan pembangunan apartemen terus dikebut, demikian juga dengan jalan layang yang menghubungan kawasan satu dengan yang lain.

Kehidupan masyarakat terlihat tertib untuk antri dalam setiap kegiatan, dengan tetap menonjolkan budaya daerahnya yang tinggi. “Budaya harus dipertahankan dan mendapat perhatian khusus, karena dipelajari dengan seksama dengan cara langsung ke daerah tersebut. Berbeda dengan teknologi, cukup dipelajari saja menggunakan sarana yang ada, seperti film,” kata Konjen Tiongkok di Denpasar, Bali, Gou Haodong.

Dimana menurut Konjen, akan lebih baik melihat langsung kondisi suatu daerah, meskipun hanya satu kali, daripada mendapatkan cerita 100 kali, yang belum tentu kebenarannya. Apalagi dengan budaya yang spesifik dan hanya ada pada daerah tertentu. Tiap daerah mempunyai budaya yang berbeda, dan harus dilestarikan, karena mempunyai keunikan tersendiri dan bisa dijual sebagai pelengkap di berbagai obyek wisata.

Kemajuan teknologi di Tiongkok, dapat disejajarkan dengan negara-negara maju lainnya, baik di Amerika dan Eropa, tanpa meninggalkan budayanya. Justru budaya yang dianggap positip membantu untuk mensejajarkan diri dengan negara maju lainnya. Kehadiran budaya sebagai bukti sejarah majunya peradaban Tiongkok ribuan tahun lalu, ternyata menjadi cambuk untuk kemajuan negari Tirai bambu ini. (kis)