Tiongkok Masih Tinggal Landas siap Terbang

Tiongkok
Tiongkok

Denpasar (Radar Lombok) – Keberadaan Tiongkok saat ini seperti sedang tinggal landas belum sampai terbang. Untuk bisa terbang perlu bantuan negara lain dalam bentuk kerjasama dan investasi sehingga sama-sama  membantu dan saling menguntungkan. Hal tersebut disampaikan Konsulat Jenderal (Konjen) Tiongkok untuk Bali NTB dan NTT  Gou Haodong di Denpasar beberapa waktu lalu.

“Untuk itu kami akan mengadakan Forum investasi di Kupang NTT bulan November mendatang dengan mengundang beberapa investor dari Tiongkok yang berencana investasi di Sunda kecil, Bali, NTB dan NTT. Kami juga berharap kepada Pemerintah Daerah di Sunda kecil dapat memberikan informasi kepada investor yang akan berinvestasi,berbagai peluang yang menjanjikan didaerahnya masing-masing’’ tambahnya.

Sejak Tiongkok membuka diri  untuk menjadi  kawasan investasi dan menerima investor asing di negara tirai bambu  1979, sekaligus membuka diri dengan negara luar membuat negara ini berkembang sangat baik. ‘’Kami memanfaatkan investor yang membangun Tiongkok untuk kepentingan masyarakat dan saling menguntungkan antar negara. Sejak itulah terjadi perubahan sangat drastis menyebabkan Tiongkok berkembang sangat pesat dengan tingkat pertumbuhan diatas 8 persen setahun,’’ tambah Gou Haodong.

Kini pembangunan di Tiongkok terus berbenah menjadi negara maju, di berbagai kota muncul ekonomi baru dengan berbagai kelebihan masing-masing dengan memanfaatkan potensi lokal secara optimal termasuk tenaga kerjanya. Bahkan Tiongkok saat ini surplus dan berusaha keluar berinvesatasi mencari kerjasama yang saling menguntungkan antar pengusaha maupun antar negara.

Sarana transportasi udara sangat maju dan luas bahkan harus antre untuk bisa terbang, pengalaman kami ketika meninggalkan Bejing terpaksa menunggu 20 pesawat turun baru bisa terbang, Demikiannjuga dengan saat turun landasan terpaksa harus antri karena sibuknya penerbangan domistrik di negara tersebut. Luas bandaranyapun sangat luas dengan teknologi tinggi. Penggunaan kereta cepat antar kota dengan kecepatan 350 km/jam yang menghubungkan kota-kota di Tiongkok bukan pemandangan lagi. Demikian juga dengan kereta bawah tanah yang setiap 4 menit berhenti dipemberhentian umum.

Sementara di Provinsi Giangxi yang merupakan provensi terkaya ke 5 di Tiongkok  dengan tingkat pertumbuhan 8,6-9 %/tahun.” Dengan penduduk 46 juta mampu memproleh pendapatan  US$ 3.500 Miliar setahun berasal dari sektor  informasi dan pelayan publik sekitar 50 %. Sektor ini meliputi pariwisata, telpon cellular hiburan , kemudian 30 % disumbangkan dari sektor industri  dan sektor pertanian hanya memberikan 10 % dan sisanya dari sektor lainnya 10%,” kata Huang Jiawen Wakil Direktur  kantor Urusan Luar Negeri Jiangxi di Nancang ibukota pprovinsinya.

Jiawen menambahkan,   sedangkan Tiongkok sendiri 2018 tingkat pertumbuhannya  sangat baik meskipun lebih kecil dari Jiangxi.  Provinsi dikenal sebagai daerah Industri karena memiliki Industri pesawat terbang, lensa kamera, pembuatan telpon cellular dan pertambangan khususnya bahan konduktor berupa tembaga terbesar di negaranya.

Jiangxi dikenal sebagai tentara pertama Tiongkok dengan kaum pergerakannya untuk menjadi negaranyamerdeka di tahun 1949 . Sehingga Jingxi selain dikenal juga sebagai daerah industri, pariwisata dikenal juga sebagai kota Pahlawan. Karena kaum pergerakan mulai pertama kali di provinsi dan akan merakan hari kemerdekaannya ke 70 tanggal 1 Oktober mendatang.

Obyek wisata alami banyak di provinsi ini bahkan terkenal dengan desa terbaik di Tiongkok disamping obyek wisata budaya dan peninggalan bersejarah. Sepanjang jalan di provinsi ini dan sebagain besar Tiongkok tamannya  tertata rapi berwarna hijau jauh dari sampah dan kotoran. Bahkan toiletnyapun bersih dan gratis disemua tempat. (kis)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid