Tingkatkan SDM, SMPN 1 Pringgabaya Gelar Workshop

SELONG—Upaya meningkatkan kualitas SDM para guru, SMPN 1 Pringgabaya Kamis kemarin (8/9) menggelar workshop. Kegiatan diikuti oleh 54 guru yang ada di lingkungan sekolah ini, dan dibuka oleh Kabid PMPTK Dikpora Lotim, Drs Sarjono, yang didampingi Pengawas SMP dan Kepala SMPN 1 Pringgabaya, Drs Muksin, M.Pd.

Muksin mengatakan, kegiatan workshop ini dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan peran guru dalam mengoptimalkan penggunaan sarana yang telah disediakan sekolah, khususnya teradap keberadaan perangkat alat pembelajaran berupa LCD. Yang endingnya tentu bagi upaya peningkatan kualitas Proses Belajar Mengajar (PBM) guna mencapai peningkatan mutu dan kualitas pendidikan.

“Karena kita telah menyiapkan sarana berupa LCD, yang hampir di semua kelas telah terpasang sejak setahun lalu. Namun pemanfaatannya belum optimal, lantaran terkendala SDM,” katanya.

Karena itu, workshop ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman dan meningkatkan kualitas SDM guru, sehingga nantinya mampu mengoperasikan pembelajaran menggunakan LCD. Ini sebagai bentuk terobosannya semenjak menjabat Kasek di sekolah ini setahun lalu.

Seperti diketahui sambungnya, dengan workshop berisikan materi cara pembuatan powerpoin, maka para guru akan sangat efektif dalam mengajar dan menyampaikan materi pada siswa. Siswa tidak lagi habis waktu untuk mencatat dan menyalin materi. Melainkan siswa bisa meminta file yang diajarkan, dan tinggal memindahkan ke flashdisk bagi yang memiliki laptop, dan menyiapkan print out (cetak di kertas, red) bagi anak yang tidak memiliki laptop.

Pemateri adalah guru setempat, yang sebelumnya memperoleh predikat juara di tingkat kabupaten dalam bidang media pembelajaran berbasis IT. “Kita harapkan bila sudah jalan nantinya anak-anak tidak lagi perlu lelah-lelah mencatat pelajaran. Disamping itu, sarana yang telah kita siapkan tidak akan sia-sia dan mubasir,” jelasnya.

Dari 30 kelas yang ada di sekolah ini, telah tersedia 24 LCD yang pengadaanya sejak setahun lalu. Sedianya pembelajaran menggunakan alat ini telah berjalan sejak setahun lalu, namun lantaran terkendala oleh pemahaman dan pengetahun guru tentang pengoperasian alat ini, maka selama setahun pula alat tersebut nganggur, dan hanya sekedar menghiasi ruang kelas saja. “Bahkan selanjutnya kita akan berupaya mengadakan enam unit kekurangannya lagi, sehingga nantinya semua kelas akan terpasang,” tekat Muksin. (lal)