Tingkat Kepuasan Wisatawan, Lobar Kalah oleh KLU

WISATA : Wisatawan lokal menjajal keindahan kawasan perairan Lembar dan Sekotong menggunakan perahu sewaan belum lama ini (Igit/Radar Lombok)

GIRI MENANG – Kabupaten Lombok Barat kalah oleh Kabupaten Lombok Utara (KLU) soal kepuasan wisatawan. Ini didasarkan pada hasil penelitian ratusan mahasiswa Angkatan 55 Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) yang telah melakukan praktik kerja lapangan (PKL) di NTB dengan tema “Studi Pariwisata Berkelanjutan di Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Utara Tahun 2016”.

Di Lombok Barat, penelitian dilakukan di Senggigi, Taman Suranadi, Pantai Meninting, Pura Batu Bolong, Pura Gunung Pengsong, sentra kerajinan Cukli Sesela dan lain-lain. Sementara di KLU penelitian dilakukan di Gili Trawangan, Gili Meno, Pantai Nipah, Air Terjun Sendang Gile, Air Terjun Tiu Pupus, Malimbu dan Air Terjun Gangga. Jumlah responden mencapai 1.167 wisatawan, rinciannya 570 wisatawan di Lobar dan 597 di KLU. Wawancara langsung dilakukan pada tanggal 14 sampai 22 Maret 2016. Pemaparan hasil penelitian dilakukan di aula Bappeda Lombok Barat kemarin. Penyampainya adalah Amanda Putri Pertiwi dan Yustina Eva A.

Disampaikan, tingkat kepuasan wisatawan berdasarkan Indeks Kepuasan Pengunjung (IKP) yang mengukur tingkat kepuasan wisatawan dengan mempertimbangkan penilaian tingkat kepentingan dan kinerja atribut pelayanan pariwisata, IKP di Lobar sebesar 74,78 persen (puas) sementara IKP di KLU sebesar 75,26 persen (puas). Kendatipun keduanya pada tingkat puas, namun pariwisata di Lobar dan KLU memerlukan pengembangan untuk mempertahankan nilai berkelanjutan jika ditinjau dari indikator kepuasan wisatawan. Ada tiga hal yang perlu ditingkatkan yaitu ketersediaan toilet yang nyaman dan bersih di objek wisata, ketersediaan tempat sampah serta kenyamanan wisatawan. “ Untuk di Lobar sendiri itu ada dua objek wisata dalam penelitian kami yang belum memiliki toilet yaitu Pantai Meninting dan Pantai Mangsit,” ungkap Yustina.

Penelitian ini dibatasi pada tiga objek penelitian dan tiga dimensi. Tiga objek penelitian meliputi wisatawan, unit usaha pariwisata dan penduduk dengan pendekatan rumah tangga. Sedangkan tiga dimensi dimaksud mencakup dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan serta menganalisis indikator-indikator pariwisata berkelanjutan di Lobar dan KLU. Delapan indikator yang dipergunakan masing-masing dampak pariwisata terhadap ekonomi penduduk, daya saing unit usaha pariwisata, tingkat kepuasan wisatawan, dampak pariwisata terhadap sosial budaya penduduk, ketersediaan dan konservasi air, pengelolaan limbah cair, pengelolaan limbah padat dan dampak pariwisata terhadap lingkungan penduduk. Di Lombok Barat enam dari delapan indikator tersebut berada pada level intermediate (menengah) hingga potentially sustainable (berpotensi berkelanjutan). Sementara dua indikator lainnya berada pada level memprihatinkan, yakni indikator ketersediaan dan konservasi air berada pada level potentially unsustainable  (berpotensi tidak berkelanjutan). Kemudian indikator pengelolaan limbah padat pada level unsustainable (tidak berkelanjutan).

Berdasarkan hasil penelitian ini kata Amanda, diharapkan pemerintah dua kabupaten ini memperketat pemberian izin pembangunan usaha dengan syarat memiliki area resapan air. Kemudian untuk mengatasi permasalahan limbah padat disarankan agar mengoptimalkan program bank sampah di setiap desa yang memiliki objek wisata unggulan untuk meningkatkan kegiatan 3R dan mengadakan kompetisi wirausaha berbasis daur ulang secara rutin bagi masyarakat untuk meningkatkan ide-ide kreatif terkait pengolaan sampah.(zul)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid