Tingkah Siswa-Siswi Smp Saat Imunisasi Measles Rubella

Ada yang Nangis, Sembunyi, Pura-Pura Berani dan Lari

Imunisasi Measles Rubella
IMUNISASI: Sejumlah siswa siswi SMPN 2 Mataram terlihat tegang dan pucat ketika akan disuntik. (ALI MA’SHUM/RADAR LOMBOK)

Jarum suntik masih menjadi momok bagi siswa. Banyak dari mereka ketakutan saat pemberian vaksin pencegahan penularan campak dan rubella di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di SMPN 2 Mataram, banyak siswa yang takut dengan jarum suntik saat diberikan imunisasi Campak (Measles) dan Rubella (MR).


*ALI MA’SHUM—MATARAM*


PEMBUKAAN kampanye pemberian imunisasi MR di Kota Mataram dilaksanakan di SMPN 2 Mataram. Imunisasi ini penting untuk untuk meningkatkan kesehatan sejak dini. Bahkan juga untuk bisa terhindar dari penyakit mematikan. Seperti gizi buruk, kelainan jantung, perubahan otak dan paru-paru.

BACA JUGA: Mengenal Loliana Febriani, Wakil NTB di Lomba WPI 2018

Sasaran dari imunisasi MR ini adalah anak usia 9 bulan sampai 15 tahun. Di Kota Mataram sendiri akan diimunisasi sekitar 117.007 orang. Petugas dari puskesmas Mataram menuju SMPN 2 Mataram. Mereka menuju kelas 7D untuk melakukan imunisasi terhadap siswa. Di kelas ini terdapat 35 orang siswa-siswi.

Petugas disambut hangat oleh siswa. Suasana masih terlihat riang. Namun berubah seketika setelah petugas membuka peralatan imunisasi MR. Raut wajah siswa-siswi kelas 7D ini mulai berubah. Posisi duduk mereka juga berubah. Bahkan ada yang pindah ke belakang. Tujuannya untuk bersembunyi. Beberapa di antara mereka tidak ingin disuntik lebih dulu. Setelah beberapa saat, seorang siswa menawarkan diri untuk disuntik pertama kali. ‘’Tidak sakit, biasa saja. Awalnya sih sempat takut,’’ ujar Indri Laksmi Oktavia dengan wajah memucat,’’ kemarin (1/8).

Setelah itu, petugas membutuhkan waktu untuk membujuk siswa. Beberapa di antaranya tidak ingin disuntik. Mereka ketakutan dan bahkan ada sampai ingin lari dari petugas. Dengan kesabaran tinggi, petugas berhasil membujuk beberapa siswa. Histeris dari beberapa siswi juga terjadi meski bersedia disuntik. Air mata turun juga sebelum diimunisasi MR. ‘’Saya sebenarnya sakit pusing, makanya sempat nangis,’’ kata Jessica Chandra.  

Siswa lainnya berdalih dengan alasan yang berbeda. Ada juga yang pongah dengan berani. Namun menitikkan air mata saat disuntik. Mereka ini mengaku tidak masalah untuk disuntik. Namun karena kondisi kelas yang ramai membuat grogi dan terkesan tidak ingin menjadi tontonan. ‘’Banyak yang melihat. Itu jadi bikin tegang,’’ ungkap siswi lainnya Shafa Desyani.

Ada juga yang menolak untuk diimunisasi di sekolah. Alsannya pun beragam, salah satunya mengaku masih sakit. Sehingga tidak boleh untuk disuntik. Alasan lainnya karena tidak diberikan izin oleh orang tuanya diimunisasi di sekolah. ‘’Saya dilarang sama papa diimunisasi di sekolah. Nanti imunisasinya di luar sekolah,’’ terang Radith.

BACA JUGA: Mengenal Lebih Dekat Grup Band Legendaris Amtenar

Erna Sukmawati, petugas puskesmas Kota Mataram mengaku, ada beberapa pendekatan yang dilakukan sebelum siswa diberikan imunisasi. Utamanya memberikan penjelasan. Bahwa imunisasi MR itu penting dan harus dilakukan. Terhadap siswa yang tidak mau disuntik, pihaknya tidak akan memaksakan. ‘’Kalau mereka berontak tidak bisa kita paksakan. Dari pada nanti terjadi apa-apa,’’ katanya.

Sebelum melakukan imunisasi, pihak sekolah dan puskesmas sudah bersurat kepada orang tua siswa. Jika orang tua siswa tidak mengizinkan, maka tidak akan diberikan imunisasi. Nantinya, pihak sekolah akan membuat surat pernyataan dengan orang tua siswa. Imunisasi di luar sekolah juga dimungkinkan atas permintaan orang tua. ‘’Syaratnya itu membuat surat pernyataan kalau anaknya akan diimunisasi di luar sekolah. Itu bisa saja,’’ terangnya. (**)