Tinggi, Angka Kematian Pedet di NTB

Ilustrasi Sapi

MATARAM–Tingginya angka kematian anak sapi (pedet) di Provinsi NTB disinyalir bisa mengancam populasi sapi, bahkan menghapus sebutan NTB sebagai daerah Bumi Sejuta Sapi (BSS). Buktinya, angka kematian pedet usia 0-6 bulan di Provinsi NTB sudah masuk kategori kritis, yang mencapai 20 persen lebih setiap tahunnya, dari jumlah total indukan yang bunting melahirkan.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB, H. Ratmoko mengakui jika tingkat kematian anak sapi (pedet) usia 0-6 bulan cukup tinggi, utamanya yang ada di Pulau Sumbawa. “Kematian pedet di NTB memang masih tinggi, utamanya di Pulau Sumbawa,” ucap Ratmoko, Selasa (29/11).

Tingginya angka kematian pedet (anak sapi) lanjut Ratmoko, lebih disebabkan penggembalaan ternak sapi, utamanya di Pulau Sumbawa yang dilepas begitu saja di areal lahan luas. Akibatnya, ternak sapi, utamanya pedet mudah terserang penyakit jenis cacing askaris yang menjadi penyebab tertinggi kematian anak sapi di Pulau Sumbawa.

Selain itu, persoalan manajemen peternakan sapi di Pulau Sumbawa juga masih kurang bagus, yang berimbas rentan terkena penyakit, dan bisa membawa pada kematian pada ternak sapi.

Namun menurut Ratmoko, pihaknya tidak tinggal diam begitu saja melihat kondisi tingginya angka kematian pedet di Pulau Sumbawa dan juga Pulau Lombok itu, dengan melakukan pemberian obat secara gratis kepada para peternak, yang kemudian diberikan untuk Pedet usia 0-6 bulan.

“Kami setiap tahun intensif melakukan de worming (pengobatan cacing) secara gratis untuk pedet di NTB, dan telah mampu menekan rata-rata 3 persen angka kematian setiap tahunnya,” jelas Ratmoko.

Disebutkan, pengobatan cacing melalui program de worming yang dilakukan sejak tahun 2011 itu didanai dari sumber APBD NTB. Dan ternyata upaya tersebut cukup efektif untuk menekan angka kematian anak sapi, untuk mengamanankan populasi sapi di Provinsi NTB.

Disampaikan, anak sapi (pedet) usia 0-6 bulan ini memang sangat rentan terserang hama penyakit cacing jenis askaris. Terlebih para peternak yang ada di Sumbawa membiarkan ternak sapinya hidup secara liar di alam terbuka, dan tidak menggunakan sistem kandang.

Kalau memanfaatkan sistem kandang, maka kesehatan hewan tentu akan terjaga, dan bisa berdampak terhadap menurunnya angka kematian anak sapi. “Tahun 2016 ini dari APBD dianggarkan untuk program de worming sebanyak 7.760 ekor anak sapi usia 0-6 bulan. Kita berharap peternak lainnya bisa membeli obat cacing ini secara mandiri, karena harganya cukup murah. Sehingga kematian pedet bisa berkurang,” harapnya. (luk)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid