Tinggalkan Aksar, Dwi Gandeng Normal

Dwi Gandeng Normal
MENYERAHKAN: Salah satu tim Dwi-Normal saat menyerahkan persyaratan formil ke DPC PDI Perjuangan Lombok Tengah, Rabu (26/2).(M HAERUDDIN/RADAR LOMBOK)

AHZ Sama Siapa?  

PRAYA – Peta politik pilkada Lombok Tengah kembali menemui persimpangan. Bak perjalanan, salah satu kandidat bakal calon kepala daerah bahkan harus turun dalam persimpangan ini. Dia adalah Lalu Aksar Ansori.

Aksar diketahui sebelumnya digembar-gemborkan akan berpasangan dengan Dwi Sugianto. Mantan Kepala Dinas PU Provinsi NTB ini bahkan sudah menjalin komunikasi intens dengan mantan KPU Provinsi NTB ini. Tak cuma itu, tiga partai politik bahkan sudah mengajukan nama Dwi-Aksar ke DPP. Dalam perjalanannya, paket ini harus pecah kongsi.

Hal ini diketahui setelah DPC PDI Perjuangan Lombok Tengah menerima syarat formil kandidat. Dwi bukannya mengajukan persyaratan akan berpasangan dengan Aksar. Tapi secara mengejutkan Dwi dalam persyaratan formil itu berpasangan dengan mantan Wakil Bupati Lombok Tengah, H Lalu Normal Suzana. Praktis, pasangan baru ini mengejutkan publik di Lombok Tengah.

Ketua DPC PDI Perjuangan Lombok Tengah, Suhaimi SH mengatakan, DPC diberikan kesempatan untuk menyampaikan persyaratan formil kandidat hingga Rabu (26/2) kemarin. Baik curriculum vitae (riwayat hidup) maupun hasil survei. Namun, hanya paket Dwi-Normal yang sudah menyerahkan persyaratan formil itu. Persyaratannya pun masih kurang hasil survei. ‘’Tapi ini tetap akan kita sampaikan ke DPP, apapapun hasilnya nanti,’’ kata Suhaimi.

Suhaimi mengaku, PDI Perjuangan awalnya sudah mengusung paket Dwi-Aksar. Tapi dalam perjalanannya, Dwi bergandengan dengan Normal. Jika pasangan Dwi-Normal ini sudah menyerahkannya syarat formilnya, maka otomatis keduanya mendaftar secara paket. Mengingat belum ada kandidat yang mendaftar bersama paketnya melainkan secara personal. “Sekarang secara formal Dwi tidak lagi mendaftar sebagai individu, tetapi berpasangan dengan Lalu Normal Suzana,” terangnya.

Kandidat bakal calon bupati Lombok Tengah, Dwi Sugianto yang dikonfirmasi tak menafikan kabar ini. Dwi menjawab normatif, bahwa politik itu dinamis. Jika sebelumnya ia bakal menggandeng Lalu Aksar Ansor, maka tak ada jaminan rencana itu akan berlangsung sampai pemilihan. Kemungkinan besar paket ini akan berubah dan bubar di tengah jalan. “Paket Dwi-Aksar ini sangat mungkin berubah,” cetus Dwi.

Dwi mengaku harus bersikap realistis menghadapi dinamika politik di pilkada Lombok Tengah. Meski sudah berkomitmen berpasangan dengan Lalu Aksar Ansori, tapi tentu harus tetap melalui pertimbangan yang matang. Mengkaji dan menelaah peluang serta potensi kemungkinan kemenangan dan dukungan parpol sebagai kendaraan politik.

Jika dalam perkembangan politik ke depan, paket Dwi-Aksar tidak mungkin dipertahankan, tentu pihaknya harus mempersiapkan opsi paket pasangan lainnya. “Dalam komunikasi politik ini kita bersikap lentur dan tidak kaku,” terangnya.

Walau begitu, Dwi tidak menampik dirinya sudah  mempersiapkan opsi pasangan pendamping lain, jika dalam perkembangan dinamika politik tidak memungkinkan paket Dwi-Aksar dipertahankan hingga pendaftaran sebagai calon kada di KPU. “Jika opsi A tidak memungkinkan tentu kita harus siapkan opsi B,” terangnya tanpa menyebutkan akan berpasangan dengan Lalu Normal Suzana.

Lalu Aksar Ansori yang dikonfirmasi terkait pembubaran paket pasangan kandidat ini mengaku belum mengetahui perubahan itu. Tapi jika itu terjadi, baginya itu sah-sah saja. “Masa? Nanti kita cek. Bagi saya sah-sah saja karena toh juga parpol dan koalisi parpol yang menentukan. Jadi saya tunggu aja dinamikanya seperti apa. Peluang siapa saja kan selalu ada, namanya juga dinamika politik. Bulan Juni masih jauh. Yang jelas saya kan opsinya banyak. Jadi kita nikmati saja,” kata Aksar.

Jika paket Dwi-Normal jadi, lantas dengan siapa Ahmad Ziadi berpasangan. Mengingat paket Ziadi-Normal juga sudah digembar-gemborkan selama ini? timses Ahmad Ziadi, Dian Sandi Utama yang dikonfirmasi belum bisa menjawab pertanyaan itu. Tapi pada intinya, kata Dian, komunikasi masih terus berjalan. Waktu pendaftaran di KPU juga masih lama. Masih ada waktu empat bulan untuk menjalin komunikasi dengan kandidat. ‘’Kemungkinan masih bisa terjadi. Kami maju dan insyaallah menang!,’’ ujar Dian kepada Radar Lombok.

Dian juga mengaku tetap merujuk pada hasil survei Roda Tiga Konsultan (RTK). Dan hasil survei itu menunjukkan bahwa potensi kemenangan untuk Ahmad Ziadi cukup tinggi. ‘’Hasil survei AHZ itu cukup tinggi dan potensi untuk menang dari kompetitor yang sekarang ini muncul. Bahkan dari petahana sekali pun,’’ pungakas Dian. (met/yan)