Tim JODA Ingatkan ASN dan Penyelenggara Pemilu Netral

Raden Nuna Abriadi (IST FOR RADAR LOMBOK)

MATARAM – Ketua Tim Pemenangan Djohan Sjamsu-Danny Carter Febrianto Ridawan (JODA), Raden Nuna Abriadi mengingatkan kepada seluruh jajaran ASN untuk menjaga netralitas dalam Pilkada Kabupaten Lombok Utara (KLU) 2020.

Pasalnya, pihak JODA mencium ada gelagat mobilisasi dukungan ASN dan program pemerintah daerah (pemda) untuk pemenangan petahana Najmul Akhyar-Suardi (NADI). Misalnya kasus perekaman KTP di rumah Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) KLU Fahri di Dusun Menggala, Desa Menggala, Kecamatan Pemenang. Di mana Fahri adalah paman dari Najmul Akhyar. “Itu sulit kita lepaskan bahwa itu bagian dari skenario dan strategi dalam upaya untuk memenangkan pasangan petahana,” tuding Anggota DPRD NTB Dapil Lobar-KLU tersebut.

Sebagai tim pemenangan pihak penantang, tentu akan sangat dirugikan jika ASN dan program pemda dimanfaatkan untuk pemenangan petahana. Dan hal itu jelas-jelas menyalahi aturan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena itu, JODA tidak akan tinggal diam dengan berbagai praktik pelanggaran tersebut.

Selain itu, pihaknya juga mengingatkan penyelenggara pemilu baik KPU dan Bawaslu agar tetap menjaga netralitas dan independensi. Apalagi dengan ketatnya persaingan elektabilitas JODA dan NADI berdasar survei Polram, di mana JODA 28,0 persen, NADI 32,8 persen, dan sisanya swing voters atau belum menentukan pilihan, dengan margin error 4,5 persen. Survei ini berarti kedua paslon yang bertarung memiliki peluang dan kesempatan berimbang untuk bisa memenangkan pilkada dan sangat terbuka kemungkinan intervensi penyelenggara pemilu untuk memenangkan petahana.

Sebab itu, pihaknya tetap mengingatkan kepada jajaran penyelenggara pemilu baik KPU dan Bawaslu agar tetap menjaga netralitas dan independensi. “Kita minta juga semua pihak termasuk kepolisian melakukan pengawasan. Ini bentuk antisipasi dan langkah pencegahan terhadap hal yang tidak kita inginkan bersama,” terangnya.

Lebih lanjut, JODA sudah melatih saksi yang akan ditempatkan di seluruh TPS. Para saksi sudah dijelaskan berbagai bentuk potensi kecurangan, manipulasi, dan pelanggaran di TPS. Pengawalan dari saksi diharapkan membuat raihan suara JODA tidak berubah. “Saksi ini jadi ujung tombak pengawalan raihan suara,” terangnya.

Kemudian di sisa waktu kampanye beberapa hari lagi. Pihaknya mengefektifkan dan mengoptimalkan pengamanan basis dukungan yang sudah digarap JODA. Pasalnya, dalam waktu-waktu akhir, basis dukungan rentan berubah jika tidak dilakukan pengamanan maksimal. Sehingga diberikan prioritas kepada pengamanan basis dukungan. (yan)