Tiga Sekolah Sepi Peminat, Satu Ditutup

SEKOLAH: Salah satu sekolah yang peserta didiknya sedikit dan sekarang sudah ditutup. (M Haeruddin/Radar Lombok)

PRAYADinas Pendidikan Lombok Tengah tidak bisa menafikan saat ini setidaknya ada tiga sekolah yang mengalami kekurangan peserta didik. Dari tiga sekolah tersebut, bahkan salah satunya adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 7 Praya di Kelurahan Panjisari Kecamatan Praya Barat yang sudah ditutup.

Kepala Disdik Lombok Tengah, Lalu Muliawan menyampaikan, selain SMP Negeri 7 Praya ada juga SMP Negeri 6 Jonggat di Desa Labulia Kecamatan Jonggat dan SMP Negeri 2 Praya Barat yang jumlah peserta didiknya sangat sedikit. Tapi yang sudah ditutup baru satu, sementara dua sekolah lainnya masih beraktivitas dengan normal meski murid mereka sedikit. “Kalau di SMP Negeri 6 Jonggat muridnya cuma 30 dari kelas VII sampai kelas IX. Sementara kalau di SMP Negeri 2 Praya Barat muridnya cuma 38 orang. Padahal dari sisi aturan, jumlah peserta minimal 60 orang. Namun sekolah tidak kita tutup, karena masuk kategori sekolah terpencil. Jadi boleh berapapun muridnya kalau sekolah terpencil tidak ada acuan jumlah siswa,” ungkap Lalu Muliawan kepada Radar Lombok, Jumat (18/2).

BACA JUGA :  Unram Terima 3.252 Calon Mahasiswa Baru Jalur SBMPTN

Karena sudah ada satu sekolah yang ditutup akibat kekurangan siswa, kini tinggal dua sekolah di daerah tersebut yang kekurangan. Namun pihaknya mengaku masih belum ada rencana untuk melakukan penutupan atau merger. Karena masyarakat masih diberikan pelayanan untuk pendidikan umumnya. “Sejauh ini belum ada rencana untuk dilakukan merger juga, sedikitnya peserta didik seperti SMP Negeri 6 Jonggat di Desa Labulia karena banyak madrasah di sekitarannya. Di satu sisi, masyarakat atau orang tua yang mau menyekolahkan anaknya di sekolah umum juga masih kurang. Tapi tetap kita berikan layanan pendidikan bagi yang ingin melanjutkan ke sekolah umum,” terangnya.

BACA JUGA :  Ombudsman NTB Ingatkan Sekolah Tidak Tahan Ijazah Siswa

Muliawan menambahkan, dari dinas juga tidak bisa berbuat banyak, mengingat kesadaran masyarakat dalam memajukan dunia pendidikan dengan membuat sekolah juga sangat tinggi. Di satu sisi, kurangnya kepatuhan terhadap persyaratan dalam membangun sekolah misalkan jarak antara sekolah yang satu dengan sekolah yang lain ternyata saat ini masih kurang. “Sebenarnya minimal 60 siswa untuk sekolah umum, hanya saja kita anggap ini yang kekurangan murid adalah sekolah pinggiran. Karena kalau sekolah pinggiran atau terpencil, maka berapapun siswanya akan bisa di layani. Sementara sekolah-sekolah umum lainnya sebenarnya 60. Bahkan meskipun tahun ini peserta didik yang masuk kosong dan baru ada tahun depan, akan tetap kita layani,” terangnya. (met)