Tiga Problem Klasik Masih Jadi Kendala Dunia Pendidikan

Ilustrasi Pendidikan
Ilustrasi Pendidikan

MATARAM – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Prof Muhadjir Effendi menyebut dunia pendidikan di Indonesia secara umum masih tetap memiliki tiga problem klasik. Diantaranya akses pemerataan pendidikan, kualitas pendidikan dan relevansi kesesuaian lulusan siswa.

“Tiga problem klasik  dunia pendidikan itu yang penting dan harus untuk kita perbaiki. Terutama yang berada di wilayah pinggiran, ”  kata Mendikbud, Prof Muhadjir Effnei usai membuka acara LKS SMK 2018 dan Puncak Hardiknas di LCC, Senin kemarin (7/5).

Tiga problem itu diakui Muhadjir Effendi, yang masih setia menjadi masalah bersama dunia pendidikan di Indonesia. Mulai dari persoalan akses pemerataan sektor pendidikan, dalam hal ini cukup kesulitan melakukan pemerataan terutama di wilayah pinggiran. Sehingga wilayah tersebut yang paling diutamakan, termasuk didalamnya Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Kemudian masalah kualitas, dalam hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk masalah yang pertama yakni akses. Adapun yang terkahir adalah masalah relevansi yang sejauh ini kesesuaian lulusan siswa dengan dunia kerja dan studi lebih lanjut masih banyak yang terhambat.

Atas dasar ketiga problem tersebut,  Kemendikbud terus berupaya untuk semakin kerja keras dan kerja cerdas. Diantara kerja dan upaya yang dilakukan belakangan ini adalah melalui beberapa trobosan atas kebijakan yang dijalankan Kemendikbud RI. Diantaranya seperti pemerataan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), program penguatan pendidikan karakter, membuat sistim zonasi dan yang terbaru membuat model soal dengan istilah HOTS (higher order thinking skills).

“Itu sebabnya kita membuat banyak trobosan baru belakangan ini, tujuannya supaya bisa mengatasi tiga problem klasik  dunia pendidikan tersebut,”  ucapnya.