Tiga Pengikut Ahmadiyah Janji Tinggalkan Pemahamannya

MEDIASI: Bupati Lombok Timur Ali BD, Kapolres Lombok Timur, Komandan Kodim 1615 dan Kajari Selong melakukan mediasi dengan warga dan pengikut Ahmadiyah di lantai dua kantor bupati, Sabtu lalu (8/4) (Janwari Irwan/Radar Lombok)

SELONG – Tiga warga Gubug Grepek Dusun Lauk Eat Desa Gereneng Kecamatan Sakra Timur pengikut Ahmadiyah dibolehkan kembali ke kampungnya.

Keputusan ini diambil setelah digelar pertemuan   Tim Pengawas Aliran Kepercayaan dan Keagamaan dalam Masyarakat (Pakem)  yang dihadiri  juga  Bupati Ali BD serta perwakilan masyarakat, Sabtu lalu (8/4). Ketua Pakem Tri Cahyo Hananto  mengatakan pertemuan ini untuk mencari solusi atas permasalan yang terjadi di Desa Gereneng. ”Karena ada keributan yang terjadi dan ada sedikit perselisihan di masyarakat  sehingga kita  mengumpulkannya disini dengan  harapan tidak ada keributan – keributan lagi,”ungkapnya.

Dari pertemuan itu disepakati jika ketiga warga bisa kembali ke kampungnya. Namun ketiganya akan kembali kepada ajaran Islam. “Jadi berdasarkan perjanjian yang kita sepakati tadi dengan masyarakat, penganut aliran Ahmadiyah bersedia kembali ke jalan yang benar dan mau bergabung dengan masyarakat lain. Mereka juga  akan beribadah di masjid yang sudah disiapkan. Tiga poin itu sudah disepakati,”terangnya.

[postingan number=3 tag=”lotim”]

Disampakannya, pada tahun 2002 dan tahun 2015 penganut  Ahmadiyah di desa Gereneng pernah membuat perjanjian dengan masyarakat untuk tidak mengulangi dan menyebarkan aliran ini. Namun saat ini   kembali timbul  gejolak. ”Sehingga kita memberikan peringatan untuk menjadikan peristiwa ini sebagai peristiwa yang terakhir,” tegasnya.

Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri, kalau pengikut Ahmadiyah tidak boleh menyebarkan alirannya kepada masyarakat luas. Jadi penganut Ahmadiyaah harus mengkuti aturan yang berlaku.

Kepala Desa Greneng Budi Harlin mengatakan masyarakat desa Gereneng tidak menghendaki adanya aliran Ahmadiyah berada di desanya.

Karena itu, ia tetap meminta kepada pemerintah  memindahkan pengikut Ahmadiyah ke tempat lain agar paham dan ajaran ini tidak tersebar luas di desanya. “Berdasarkan pengakuan jamaah Ahmadiyah,pengikut Ahmadiyah di desa Gereneng sebanyak 11 kepala keluarga yang terdiri dari 37 jiwa yang tersebar di dua dusun yaitu dusun Lauk Eat dan dusun Gereneng,”terangnya.

Dijelaskan, paska peristiwa pengusiran pengikut Ahmadiyah di Lombok Timur  tahun 2002, sehingga lahirlah perjanjian pada tanggal 17 September pada tahun 2002 di Desa Gereneng. Isinya, pengikut  Ahmadiyah yang ingin kembali ke Islam sejati diberikan izin pulang dengan membuatkan surat perjanjian. “Jamaah yang tidak menghendaki dan merupakan pengikut setia Ahmadiyah dipindahkan ke Wisma Transito  Kota Mataram,”terangnya.

Namun pengikut Ahmadiyah yang dulunya mengaku kembali ke ajaran Islam yang benar, ternyata kembali menyebarkan pemahamannya ke masyarakat luas.  Pengikut  Ahmadiyah menjadi besar yang disebarkan melalui perkawinan.”Dengan adanya penyebaran Ahmadiyah melalui tali pernikahan ini sehingga masyarakat khawatir dan resah dan meminta agar penganut Ahmadiyah minta dipindahkan ke luar desa,”jelasnya. Dirinya kata Budi Harlin, tetap  melakukan upaya  agar masyarakat tidak bersifat anarkis terhadap masyarakat penganut Ahmadiyah ini.

Salah satu warga Inaq Komar mengatakan pengikut Ahmadiyah sudah sering berjanji kalau  ajarannya tidak akan disebarluaskan di desa Gereneng, akan tetapi janji itu selalu diingkari.”Pokoknya saya tidak percaya kalau dia (pengikut Ahmadiyah) akan bertobat. Saya yakin jamaah – jamaah (Ahmadiyah) ini akan ingkar lagi,”ceritanya.

Inaq Komar meminta pemkab memperhatikan tuntutan warga agar pengikut Ahmadiyah ini dipindahkan dari desa Gereneng. ”Kalau sekarang pemerintah sudah melarang, apalagi kita masyarakat bawah. Pemerintahkan tahu aturan tolonglah pindahkan demi masyarakat yang lain karena kita tahu bagaimana jamaah  (Ahmadiyah) ini meresahkan warga,”harapnya.

Sebelumnya ratusan  warga Gubuk Lauk Eat Dusun Gerepek  Desa Gereneng Kecamatan Sakra Timur  ramai-ramai mendatangi rumah tiga warga setempat Jumat  malam (7/4).  Mereka menolak keberadaan ketiga warga ini karena diketahui seabgai jemaah Ahmadiyah.  Mencegah aksi massa, polisi lalu mengamankan ketiga warga ini.(cr-wan)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid