Tiga Pasien Gagal Ginjal Akut di NTB Meninggal

dr. Nurhandini Eka Dewi (FAISAL HARIS/RADAR LOMBOK)

MATARAM — Tiga kasus gagal ginjal akut yang menyerang anak-anak usia 6 bulan – 18 tahun, ditemukan di NTB. Bahkan ke tiga kasus ini, pasiennya telah dinyatakan meninggal dunia, setelah sebelumnya menjalani perawatan di rumah sakit belum lama ini.

Hal tersebut disampaikan Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, yang juga Ketua IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) Provinsi NTB, saat dikonfirmasi terkait perkembangan kasus gagal ginjal akut pada anak di NTB.

“Memang ada kasus (gagal gingal akut pada anak) ditemukan pada Agustus dan September. Sebanyak 2 kasus dirawat di Rumah Sanglah (Bali), dan satu kasus ditemukan di Bima,” ungkapnya kepada Radar Lombok, Minggu (23/10).

Eka, sapaan akrab mantan Kepada Dinas Kesehatan (Dikes) Provinsi NTB ini menyebutkan, dari tiga kasus yang terserang penyakit gagal ginjal akut tersebut, dua diantaranya berasal dari Bima, dan satu pasien asal Lombok Barat.

“Ke tiga pasien saat ini telah meninggal dunia, yaitu umur 6 tahun, 11 bulan dan 8 bulan. Dua pasien meninggal dunia di Rumah Sakit Sanglah, Bali, yaitu satu pada awal Agustus, dan satunya lagi pertengahan September. Sementara satu orang lagi meninggal di Bima,” sebut Eka.

Ketika ditanyakan apa penyebab dari ke tiga pasien yang telah dinyatakan meninggal tersebut? Eka menyatakan belum mengtahui apa penyebabnya. “Penyebab belum diketahui (unknown),” singkatnya.

Meski demikian, sambung Eka, dengan ditemukannya kasus gagal ginjal akut pada anak di NTB. Maka masyarakat diminta supaya tetap waspada, dan bila ada anak yang sakit agar segera dibawa ke fasilitas kesehatan atau Rumah Sakit (RS) untuk dilakukan pemeriksaan. “Saat anak sakit segera ke sarana kesehatan, jangan membeli obat bebas,” imbuhnya.

Baca Juga :  Pasokan Telur Luar Dibatasi Masuk NTB

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi NTB, dr. HL. Hamzi Fikri yang dikonfirmasi terkait dengan ditemukannya tiga kasus gagal ginjal akut pada anak di NTB mengatakan, bahwa jika mengacu pada data laporan di Event Base Surveilans (EBS) atau SKDR per tanggal 22 Oktober 2022. Maka angka kasus gagal ginjal akut pada anak di NTB masih nihil, atau belum ditemukan kasus.

“Mengacu pada laporan di EBS atau SKDR tanggal 22 Oktober 2022, kasus gagal ginjal akut pada anak masih nihil di NTB,” tegasnya.

Hamzi sapaan akrab mantan Direktur RSUD Provinsi NTB ini juga menegaskan, bahwa hal tersebut mengacu pada Surat Edaran (SE) Nomor : 01 .05/III / 3461/ 2022 Perihal Penyelidikan Epidemiologi dan Pelaporan kasus gangguan ginjal akut Atipical. “Jadi acuannya SKDR,” tandasnya.

Dikatakan Hamzi, Kementerian Kesehatan Rl bersama BPOM, saat ini sedang mendalami secara lebih
serius kasus gagal ginjal akut pada anak, yang saat ini diduga menjadi penyebab kematian anak di beberapa daerah.

Sehingga untuk mangantisipasi hal tersebut, masyarakat diminta agar tetap tenang dan waspada. “Masyarakat diharapkan tidak melakukan tindakan atau kesimpulan sendiri sampai kasus tersebut menemui titik terang,” katanya.

Pihak Dinas Kesehatan Provinsi NTB sambungnya, juga telah mengeluarkan imbauan kepada masayarakat, yakni tidak mengonsumsi obat-obatan dalam bentuk sirop secara bebas. Kemudian, perawatan anak sakit lebih mengedepankan tatalaksana non farmakologis atau tanpa obat.

Baca Juga :  BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami di NTT, NTB, Maluku, Sulsel dan Sultra

Misalnya dengan menggunakan kompres air hangat untuk menurunkan demam selama masa perawatan, memastikan kebutuhan cairan anak terus terpenuhi, dan apabila sangat dibutuhkan dapat menggunakan obat selain sirop, seperti tablet, kapsul dan lainnya. “Tentu dengan terlebih dahulu berkonsultasi kepada dokter, apoteker atau tenaga kesehatan lainnya,” ucapnya.

Selain itu, ia juga mengimbau masyarakat agar menggunakan obat yang terdaftar resmi, dengan memperhatikan izin edarnya, dan memperoleh dari sumber yang resmi berizin. Serta memperhatikan aturan pakai dan membaca secara seksama peringatan dalam kemasan obat saat penggunaan obat, dan membuang sisa obat cairan yang sudah terbuka atau disimpan dalam jangka waktu lama.

Hamzi juga menjelaskan, gagal ginjal akut pada anak atau disebut juga Acute Kidney Injury (AKI) merupakan kondisi dimana terjadinya penurunan yang cepat dan tiba-tiba pada fungsi ginjal, yang ditandai dengan penurunan volume buang air kecil hingga tidak buang air kecil sama sekali.

“Gejalanya, demam, batuk, pilek pada usia 0-18 tahun. Gejala infeksi saluran cerna (mual, muntah), warna urine berubah menjadi cokelat, juga mengalami penurunan jumlah urine hingga
tidak buang air kecil sama sekali,” jelasnya.

Ketika ditemukan gejala seperti itu, kata Hamzi, masyarakat diminta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat, untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. “Apabila mengalami gejala khas, yaitu penurunan jumlah dan frekwensi BAK (buang air kecil) atau tidak ada urine selama 12 jam,” pungkasnya. (sal)

Komentar Anda