Tidak Pernah Sekolah, Sabet Banyak Penghargaan

Ada orang yang hebat setelah belajar formal di sekolah.Ada juga yang hebat karena belajar otodidak lewat pengalaman dan alam. Seperti Khosiah warga Dusun Labuapi Utara Desa Labuapi Kecamatan Labuapi. Ia adalah perajin topeng kayu yang banyak menyabet penghargaan, meski ia tak berpendidikan formal.

—————————–

Hery Mahardika-Giri Menang

—————————-

Ia adalah satu dari sekian seniman di daerah ini yang mampu membuat aneka macam topeng kayu sebagai hiasan rumah.

Khos, panggilan akrabnya, dikenal banyak orang sebagai perajin topeng. Karyanya diminati banyak orang, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Perempuan yang masih lajang ini menyukai seni rupa sejak kecil. “ Saya tidak pernah sekolah, makanya saya tidak pernah bisa baca sampai sekarang,” ungkapnya kepada Radar Lombok, Kamis lalu (4/8).

Sejak kecil, perempuan 55 tahun ini sudah menjadi yatim piatu. Untuk bertahan hidup,dia  berjualan berbagai macam jenis kebutuhan sehari-hari dengan berkeliling kampung.  Saat dewasa, ia kemudian mematangkan proses berwiraswasta. Sementara itu bakat seninya terus diasah.

Pada tahun 2000, ia mulai mempekerjakan sejumlah remaja yang kebetulan berhenti bekerja di artshop di Lombok Timur. Ia menjadikan rumahnya sebagai markas seni. Seiring berjalan waktu, seni topeng yang ditekuninya berjalan lancar. Banyak turis yang datang berbelanja sebagai cinderamata.

Pada saat itu banyak pesanan dari luar negeri dengan nilai hingga ratusan juta rupiah. Dalam perjalanannya ia mampu mempekerjakan puluhan orang dari Lombok Timur, Lombok Tengah, dan masyarakat Labuapi sendiri.  Banyak pemuda Labuapi yang akhirnya bisa membuat kerajinan topeng.

Dalam perkembangannya, usaha topengnya stagnan karena kondisi ekonomi yang buruk. Belum lagi banyak bermunculan artshop-artshop besar di kawasan wisata dan sekitarnya berpengaruh pada pesanan pada hasil kerajinannya. “Kita kalah sama modal,” kecewanya.

Itu sebabnya ia terpaksa memberhentikan banyak pegawai. Yang tersisa hingga saat ini hanya empat  orang.“Pekerja saya semuanya pergi merantau, ada ke luar negeri dan dalam negeri, saya merasa sedih,” tuturnya.

Dari kerajinan ini ia banyak mendapat penghargaan diantaranya menjadi dosen kehormatan Seni Rupa di Universitas Negeri Jakarta, dan banyak lagi penghargaan lainnya. “Yang terpenting saya ingin memberikan yang terbaik,”katanya.

Meski banyak mendapat penghargaan, perhatian pemerintah terhadap dirinya tidak tidak ada. Dia tidak pernah mendapat bantuan modal ataupun bantuan pemasaran. “Saya tidak pernah mendaptkan perhatian dari pemerintah, banyak yang datang untuk mencatat, tapi ujung-ujung hilang tidak pernah datang kembali. Itu membuat saya kecewa memainkan seninya,” kesalnya.(*)