Tidak Mau Pasang Baliho Paslon, Pasokan Elpiji Dihentikan ?

Tidak Mau Pasang Baliho Paslon, Pasokan Elpiji Dihentikan
AGEN ELPIJI: Tampak plang PT Mitra Abadi Pratiwi, agen elpiji 3 Kg yang dimiliki oleh H Machsun Ridwainy, salah satu paslon Pilkada Lotim, tidak memasok ke pangkalan karena tidak mau memasang baliho Paslon dirinya. (JANWARI IRWAN/RADAR LOMBOK)

SELONG—Sejumlah masyarakat di Lombok Timur (Lotim) mulai mengeluhkan kelangkaan elpiji 3 kilogram.

Kelangkaan itu terjadi diduga bukan karena elpiji tidak ada, namun karena terbatasnya pasokan. Diuga elpiji sengaja ditahan oleh salah satu agen di Desa Paok Motong, Lotim. Ibu Matun, salah satu pemilik pangkalan elpiji  di Desa Rumbuk Kecamatan Sakra mengatakan, tidak adanya pasokan elpiji itu lantaran dirinya tidak mau memasang baliho pasangan bakal calon bupati (bacabup) H Hairul Warisin dan bakal calon wakil bupati (Bacawabup) H Machsun Ridwainy (Harum) di depan rumahnya. Sehingga pasokan elpiji yang biasanya dia dapatkan akhirnya dihentikan. “Karena tidak ada orang yang kita suruh pasangkan. Makanya saya tidak pasang. Dan setelah melihat baliho tidak dipasang, pasokan saya tidak diantarkan,” jelasnya kepada Radar Lombok, Sabtu lalu (21/10).

BACA JUGA :  Tiga TKW Lombok Timur Dikirim Ke Timur Tengah Secara Ilegal

Ibu Matun menjelaskan, sebelum perintah pemasangan baliho salah satu calon, pemasokan elpiji ke tokonya lancar-lancar saja. Namun sejak dirinya tidak memasang baliho, pasokan yang biasanya dia dapatkan sekali seminggu, tidak diberikan. ”Elpiji yang kita minta ini sudah kita bayar. Uangnya saja diambil, tapi gasnya tidak dianterin,” kesalnya.

Dari jatah elpiji yang dia terima setiap minggu ada sebanyak 60 tabung dengan harga  Rp 800 ribu. Namun karena dia tidak memasang baliho paket Harum, jatahnya tidak lagi dianterkan hingga saat ini. ”Saya konfirmasi ke kantornya, ada seorang perempuan mengatakan, kalau tidak memasang baliho tidak akan dianterin atau akan ditahan,” jelasnya kecewa.

Sebenarnya, jika ingin pasangan Harum dipilih, seharusnya dia meminta kepada toko secara baik-baik, bukan justru dengan menahan jatah elpiji yang memang telah dibayar dan akan digunakan untuk kebutuhan masyarakat. Akibatnya, masyarakat yang menjadi pelanggan setiap hari pontang-panting mencari gas elpiji sebagai kebutuhan sehari-hari. ”Kita sayangkan ini terjadi, karena bukan saya tidak mau pasang. Tapi kita kan juga dekat dengan rumah paslon yang lain. Kalau dipasang nanti kita diejek sama tetangga,” katanya.

Hal senada juga dikeluhkan oleh Solihin, asal Rumbuk, dimana pasokan elpiji yang biasa dia terima dari PT Mitra Abadi Pratiwi, kini juga sudah dihentikan. Dengan alasan dirinya tidak mau memasang baliho di depan rumahnya. ”Rumah kita kan dekat dengan masyarakat (paslon lain asal daerah itu). Masak kita pasang baliho orang lain. Nanti kita dikirain selingkuh,” jelasnya.

Sementara itu, Manager PT Bintang Energi Abadi Lotim, Muslih menegaskan sejauh ini pasokan elpiji  untuk Lotim tidak terjadi kekurangan. Sehingga ketika ada keluhan masyarakat kalau terjadi kelangkaan atau tidak ada pasokan, maka masalahnya itu  terjadi di agen yang bertugas menyalurkan ke pangkalan. “Jadi agen itu merupakan ujung tombok Pertamina yang bertugas menyalurkan ke pangkalan. Kemudian masyarakat akan membeli di pangkalan,” jelasnya.

Adanya keluhan masyarakat yang menyatakan tidak diberikan pasokan elpiji oleh agen, itu tidak ada kaitannya dengan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE). Pasalnya, sejauh ini pasokan elpiji 3 Kg di SPBE masih terbilang cukup.”Kalau ada kelangkaan elpiji di lapangan, harganya lebih mahal, sama sekali tidak ada kaitanya dengan kita. Kecuali kalau pengangkutan dari pusat tersendat, sehingga di SPBE elpiji tidak ada, baru kita mempunyai hak. Tapi sejauh ini tidak ada kendala di kita,” ujarnya.

Seharusnya ketika ada permasalahan seperti ini, pihak pangkalan elpiji harus berkoordinasi dengan pihak agen. Sehingga hal-hal seperti ini tidak perlu terjadi. Tidak hanya itu, sejauh ini di semua SPBE tidak ada pengurangan alokasi dari Pertamina. Artinya, pasokan elpiji  ini masih tergolong normal di semua SPBE.

”Kalau ada jatah yang tidak diberikan atau dikurangi, seharusnya pangkalan tanyakan langsung ke agen. Kalau dari kita sudah aman dan stoknya masih normal,” katanya.

Jumlah agen di Lotim sendiri kurang lebih sebanyak 12 agen. Namun dari jumlah agen yang ada itu, tidak semuanya mengambil di PT Bintang Energi Abadi. Banyak agen yang mengambil di wilayah Lobar, Loteng, dan SPBE lainnya,dimana regulasi pengambilan sudah diatur oleh Pertamina sendiri.

BACA JUGA :  Empat Desa di Kabupaten Lombok Tengah Terendam Banjir

Namun melihat kondisi seperti ini lanjut Muslih  mestinya agen membina pangkalan dengan baik. Jangan sampai terjadi kekurangan elpiji di masyarakat. Karena dalam hal ini tentunya agen diuntungkan dengan keberadaan pangkalan yang menyalurkan elpiji ke masyarakat luas.

Menurutnya, penyaluran elpiji seharusnya tidak perlu dikaitkan dengan politik. Pasalnya, dalam aturan tidak diperbolehkan memasang stiker atau baliho di fasilitas mobil agen, atau sejenis alat kampanye tidak diperbolehkan. ”Tapi kalau seperti yang terjadi saya tidak ngerti juga. Ini kembali ke kita masing-masing, dan ini bukan ranah saya. Yang jelas tidak boleh dilakukan sebagai sarana politik,” sebutnya.

Sementara itu, Pimpinan PT  Mitra Abadi Pratiwi, Adam mengakui bahwa permintaan pemasangan baliho untuk semua pangkalan elpiji merupakan perintah dari atasannya dalam hal ini H Machsun Ridwainy (Paslon Harum). Hal ini sudah diumumkan oleh pimpinan kepada semua pangkalan untuk memasang baliho  dan jika tidak, maka distribusi elpiji akan ditahan. “Pangkalan ini kan mengambil elpiji di kita. Sehingga kita meminta bantuan kepada pangkalan hanya sekedar memasang baliho saja. Bukan menyuruh harus memilih. Hanya sekedar memasang saja, tapi banyak yang tidak mau. Makanya kita tahan,” ujarnya.

Dikatakan, pangkalan-pangkalan itu merupakan perpanjangan tangan dari PT Mitra Abadi, sehingga harus memasang baliho. Yang tidak mau, akan ditahan pasokan dan meminta untuk menghadap ke kantor. ”Karena sudah ada perintah dari atasan untuk meninjau langsung mana-mana pangkalan yang tidak mau memasang baliho kita minta untuk ke kantor dan pendropan elpiji d tahan,” jelasnya.

Diakui, penahanan elpiji bukan hanya terjadi di wilayah Sakra saja namun juga terjadi di berbagai wilayah lain seperti Kecamatan Masbagik dan kecamatan lainnya yang tidak mau memasang baliho. ”Jadi tetap kita berikan ke beberapa pangkalan yang masih kurang. Tapi untuk pangkalan yang tidak mau memasang baliho kita tahan dan minta untuk datang ke kantor. Karena ini sesuai dengan perintah,” kata Adam melalui Hand Phone (HP)-nya.

BACA JUGA :  Kapal Bantuan Kementerian Terbakar

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Lotim, H  Teguh Sutrisman, mengaku belum mendapatkan laporan mengenai adanya elpiji yang ditahan pihak agen karena tidak memasang baliho salah satu calon. Karena itu pihaknya belum bisa mengambil keputusan apa-apa. ”Saya belum menerima laporan dari masyrakat. Kalau sudah ada laporan, nanti kita koordinasikan dengan Hiswana Migas,” katanya.

Untuk bisa menentukan tindakan kedepannya, Dinas Perdagangan Lotim juga meminta kepada semua pangkalan yang ditahan pasokan elpijinya, untuk membuat laporan kepada pemerintah, guna mengantisipasi informasi yang diterima tidak salah. ”Suruh saja buat laporan. Nanti kalau kita cek di agen terus tidak benar, gimana? Suruh saja buat laporan,” pintanya. (cr-wan)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid