Tidak Ada Warga Lombok Utara Mendaftar Jadi TKI Berkeahlian Khusus

Kabid Tenaga Kerja pada Disnaker PMPTSP KLU Furqon (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

TANJUNG–Sejumlah negara tidak menutup pintu untuk TKI yang ingin bekerja di negaranya pada masa pandemi covid-19 ini. Kendati begitu, masih minim warga Kabupaten Lombok Utara (KLU) yang mendaftar sebagai TKI. “Ada beberapa negara yang tetap menerima tenaga kerja dengan syarat memiliki keahlian khusus seperti Uni Emirat Arab, Afrika, dan lainnya. Kemudian, ada dua negara yang membuka pembantu rumah tangga (PRT) yaitu Hongkong dan Singapura,” ungkap Kabid Tenaga Kerja pada Disnaker PMPTSP KLU Furqon kepada Radar Lombok, kemarin.

Keahlian khusus yang dimaksud di sini yaitu alat berat, industri, otomotif, kapal pesiar, dan lainnya. Soal adanya lowongan tersebut, apakah diketahui oleh masyarakat, pihaknya tidak tahu. “Sedangkan, untuk PRT ke Hongkong dan Singapura sudah ada yang meminta rekomendasi ke kami sekitar 10 orang,” terangnya.

Diakui, syarat bekerja di negara yang membutuhkan TKI berkeahlian khusus, memang tidak mudah dipenuhi. Di mana calon TKI perlu sertifikat tenaga ahli. Sementara di tengah situasi covid-19 ini, pihaknya tidak pernah memberikan pelatihan khusus sesuai lapangan pekerjaan yang dibutuhkan di negara tujuan. “Kami tidak mengetahui dan tidak bisa merekomendasikan mana masyarakat kita yang memiliki tenaga ahli, sementara kita tidak pernah melakukan pelatihan selama dua tahun berturut-turut. Semestinya peluang seperti itu dapat ditangkap sehingga dapat menutup jumlah pengangguran yang ada sekarang,” jelasnya.

Disebutkan, jumlah pengangguran hingga sekarang sudah mencapai 2 ribuan dari angka kerja 10 ribuan dari sektor pariwisata. Tentu kondisi itu harus menjadi perhatian serius oleh pemerintah daerah sehingga dapat memulihkan ekonomi masyarakat. Apalagi sekarang, banyak TKI yang bekerja di Malaysia pulang ke KLU; mencapai 100 orang sejak Januari-Mei 2021.

Menyinggung TKA Cina yang masuk ke Indonesia, tentu mereka memiliki keahlian khusus, sehingga hal itu semestinya menjadi bahan pembelajaran bersama dalam meningkatkan SDM. “Kalau di KLU tidak masuk TKA karena pariwisata lagi kolaps. Situasi pandemi harus kita manfaatkan dengan melatih anak-anak muda sehingga pembukaan di negara lain bisa dikirim. Jika keahlian khusus maka diperhitungkan dengan gaji besar dan posisi yang berbeda pula,” imbuhnya.

Diharapkan nanti, saat situasi normal, putra putri KLU bisa diberikan pelatihan agar memiliki keahlian khusus. Sehingga bisa bekerja ke mana saja, karena sudah memiliki kemampuan khusus tersebut. “Kalau kami saat ini sudah tidak ada anggaran dalam memberikan pelatihan. Sekarang tergantung kepentingan pimpinan seperti apa,” katanya. (flo)