Tidak Ada Tanda-Tanda, Tinggi Air Setinggi Pohon Kelapa

AMBIL BARANG: Warga Dusun Batularar Utara mengeluarkan barang dagangannya yang bisa diselamatkan dari timbunan lumpur yang menutupi rumahnya. (ZULFAHMI/RADAR LOMBOK)

Senin (6/12) pagi menjadi hari menakutkan bagi warga Dusun Batulayar Utara Desa Batulayar Barat Kecamatan Batulayar Kabupaten Lombok Barat. Air tiba-tiba saja meluap memasuki permukiman warga. Tingginya pun tak terbayang, setinggi pohon kelapa. Suasana itu membuat masyakat sekitar menjadi ngeri.

  ZULFAHMI-LOMBOK BARAT  

FATIMAH dan puluhan ibu-ibu di kampungnya dirundung galau. Raut wajah mereka terlihat pilu. Bagaimana tidak, mereka baru saja selamat dari tawaran maut. Banjir bandang yang menerjang permukiman mereka nyaris saja membuat mereka hanyut ke lubang lahat.

Namun, tampaknya Tuhan masih sayang mereka. Warga masih selamat dari bencana banjir bandang yang menghantam kampung mereka, Senin (6/12) pagi. Hanya rumah dan perabotan mereka yang rusak parah.

Selasa (7/12), Fatimah dan warga kampung setempat terlihat letih. Mereka berusaha membersihkan rumah masing-masing dari lumpur yang singgah terbawa banjir. Mereka juga berusaha memilah barang perabotan yang masih bisa dimanfaatkan.

Mereka lantas berusaha mengulum senyum manis dalam hati yang pedih saat Wakil Gubernur NTB, Sitti Rohmi Djalilah mengunjungi posko pengungsian mereka. Semburat wajah memandang secercah harapan ketika orang nomor dua di Provinsi NTB itu datang membawa pesan moral. Mereka diminta tabah dan bersabar dalam menerima musibah ini.

Rumah Fatimah masih berdiri tegak di dekat masjid. Beberapa bagian dasarnya sudah rusak parah. Begitu pula dengan masjid di samping rumahnya, bagian dasarnya terlihat hancur. Semuanya diterjang banjir dan kini berlumpur.

Fatimah menuturkan, sekitar pukul 03.00 Wita, Senin dini hari, hujan deras turun mencumbu bumi di sekitar kampungnya. Namun, tak sedikit pun ada firasat curiga akan terjadi melapeteka keesokan harinya.  ‘’Malam hari tetap saya keluar lihat ketinggian air,” tuturnya.

BACA JUGA :  Made Yogga Anggara Pangestu, Siswa Peraih Nilai UN Tertinggi NTB

Karena rumahnya dekat pinggir sungai, Fatimah mengaku sudah terbiasa melihat luapan air. Karena selama ini, luapan air sungai di dekat rumahnya tak pernah sampai membawa banjir separah sekarang ini. Hingga pagi hari, suasana di kampungnya masih normal seperti biasa meskipun hujan deras terjadi sejak semalam. Namun suasan sekitar pukul 09.00 Wita ketika air bah tiba-tiba datang disertai batang pohon besar dari hulu.

Batang pohon besar itu kemudian mandek di bawah jembatan dan tidak bisa melintasi sungai. Akibatnya jembatan menjadi tersumbat, airpun tiba-tiba naik hingga lebih tinggi dengan pohon kelapan kurang lebih sekitar 20 meter. “Tidak ada tanda-tanda, tiba-tiba air datang, tingginya lebih tinggi dari pohon kelapa,” tutur Fatimah.

Melihat ketingian air seperti itu, dalam pikiran Fatimah,  dia tidak akan bisa selamat karena air seperti seakan menimpa dirinya dan anak-anaknya. Dia tidak berpikir yang lain kecuali berusaha untuk menyelamatkan diri dan keluarganya. Dia dan empat orang anaknya. ‘’Pokoknya sudah sangat menakutkan, saya hanya berusaha untuk menyelamatkan anak-anak dan segera lari ke atas,” tegasnya.

Karena pohon kayu yang ada di pinggir kali sudah mulai ambruk, air mulai naik dan terus semakin naik, sehinga menjadi tinggi melebihi pohon kelapa. ‘’Kalau saya terlambat, mungkin saya jadi korban,” terangnya.

BACA JUGA :  Cerita JCH Lanjut Usia yang Berharap Memeluk Wali Kota Sebelum Berangkat Haji

Karena air sudah tidak ada jalan mengalir sehingga air meluap ke rumah warga, termasuk rumah miliknya yang berdekat dengan masjid. “Tidak ada jalan air mengalir, sehingga menerjang rumah kami,” ungkapnya.

Warga lainnya, Rusni menuturkan, kalau kejadian banjir bandang ini tidak pernah disangka dan tidak pernah dan tanda-tanda. Masyarakat sekitar sungai sudah biasa melihat debit air sungai yang ada di depan rumah mereka hampir naik, namun tidak pernah terjadi banjir seperti sekarang ini. ‘’Sudah biasa air kali ini besar, bahkan hampir sampai melewati jembatan tetapi tidak pernah banjir,”  tuturnya.

Namun kejadian yang kemarin tidak pernah dia sangka dan bayangkan akan terjadi, bahkan hingga menyebabkan lima orang warga setempat meninggal dunia. ‘’Tidak ada suara apapun, tidak ada tanda apapun dari atas,” ujarnya.

Semua terjadi secara tiba-tiba, tetangganya yang meninggal dunia,sempat ia lihat terbawa arus air. Saat korban terbawa arus air hanyut, ia terbentur di salah satu kayu besar sehingga tidak sampai hanyut terbawa arus namun ia terhimpit kayu. ‘’Korban yang meninggal terbawa arus, namun terbentur di kayu,” jelasnya.

Sebelum air meluap kepemukiman warga, ketinggian air sempat dilihat setinggi 15-20 meter. Air melambung tinggi seperti tingginya ombak yang siap menghempaskan benda di depannya. Karena jembatan sudah tertutup, air dengan derasnya tumpah ke arah masjid dan menyampu rumahnya di dekat dengan masjid. ‘’Rumah saya rusak, barang-barang juga habis rusak,” tandasnya. (**)