TGKH Zainudin Abdul Majid Harus Diusulkan Ulang

SALAMI VETERAN: Gubernur TGH Zainul Majdi menyalami para veteran usai upacara peringatan Hari Pahlawan di kantor Gubernur, Kamis kemarin (10/11).

MATARAM – Sampai penghujung tahun 2016, belum ada satupun tokoh NTB yang diangkat menjadi pahlawan nasional.

Dua nama yang sejak lama  telah diusulkan yaitu Sultan Salahudin dari Bima dan TGKH Zainudin Abdul Majid asal Lombok Timur masih dalam proses. Sultan Salahudin sendiri telah dua kali diusulkan menjadi pahlawan nasional pada tahun 2008 dan 2012. Namun semua berkas masih mengendap  di Dewan Gelar Tanda Jasa dan Kehormatan. “Tapi dua bulan lalu sudah turun Dewan Gelar ke Bima, hasilnya belum kita ketahui. Sementara untuk Almagfirullah TGKH Zainudin Abdul Majid harus diusulkan ulang,” terang Kepala Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil (Sosdukcapil) Provinsi NTB, H Ahsanul Khalik saat ditemui Radar Lombok di ruang kerjanya, Kamis kemarin (10/11).

Pada tanggal 10 November yang diperingati sebagai Hari Pahlawan ini, Khalik menegaskan bahwa berkas usulan  TGKH Zainudin Abdul Majid sebagai pahlawan nasional tidak lengkap. Akibatnya,  pemerintah pusat mengembalikan dokumen usulan  yang ada.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) telah mengirimkan usulan pada bulan April 2015 lalu. Namun berbagai kendala dialami diantaranya saksi hidup yang lemah dan sejarah perjuangan kurang didukung oleh bukti dokumentasi. “Misalnya dalam narasi perjuangan pernah Almagfirullah menyuruh adiknya H Faesal melawan Belanda karena beliau sedang mengajar. Tapi bukti-bukti itu yang kurang,” terang Khalik.

Belum lengkapnya data pendukung tersebut membuat proses menjadi lamban. Tahapan diusulkannya TGKH Zainudin Abdul Majid menjadi pahlawan nasional pernah sampai di tangan Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP). Apabila telah dianggap lengkap barulah dinaikkan ke Dewan Gelar. Namun karena bukti yang lemah, dokumen dikembalikan dan harus diusulkan lagi mulai dari awal.

Mekanisme seseorang bisa mendapatkan gelar pahlawan nasional diawali dengan adanya usulan dari keluarga atau masyarakat setempat ke bupati melalui dinas sosial setempat. Kemudian dikaji  Tim Peneliti Pengkaji Gelar Kabupaten (TP2GK). Setelah itu diteruskan ke gubernur melalui dinas sosial provinsi. Apabila semua data dianggap lengkap maka Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) akan melanjutkannya ke tingkat kementerian. Lalu setelah lolos di TP2GP ditangani oleh Dewan Gelar untuk dilaporkan ke presiden tentang layak atau tidaknya seseorang diberikan gelar pahlawan nasional. “Saat ini kita sedang persiapkan lagi usulan untuk Almagfirullah ( TGKH Zainudin Abdul Majid), kita memang harus memulai kembali dari nol,” katanya.

Untuk mengusulkan kembali   TGKH Zainudin Abdul Majid, batas  terakhir pengusulan ke Kementerian Sosial sampai bulan April 2017. Oleh karena itu, semua proses di kabupaten dan provinsi harus segera tuntas sebelum batas waktu yang telah ditentukan. “Nanti kan akan kita seminarkan juga, tapi memang untuk yang kedua kali ini kita harus lebih telitu lagi. Dokumen harus lebih lengkap, karena Almagfirullah (TGKH Zainudin Abdul Majid)  memang sangat layak menjadi pahlawan ansional. Apalagi teman seperguruannya Almagfirullah (TGKH Zainudin Abdul Majid)  yang dari Jawa Timur hari ini sudah diangkat jadi pahlawan nasional,” ucap Khalid.

Kepada seluruh masyarakat NTB, Ahsanul  mengimbau agar membantu pemerintah mewujudkan nama TGKH Zainudin Abdul Majid   sebagai pahlawan nasional. Caranya dengan memberikan informasi  apabila ada diketahui saksi hidup atau dokumentasi perjuangan TGKH Zainudin Abdul Majid  semasa hidupnya. Siapapun yang memiliki bukti diminta untuk segera menyerahkannya ke dinas sosial. Baik itu berupa foto, rekaman, dokumen, karya  TGKH Zainudin Abdul Majid   dan lain sebagainya.

Sementara itu, untuk memaknai pesan-pesan perjuangan para pahlawan bangsa, Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi menyampaikan empat pesan penting di hadapan seluruh tamu undangan dan peserta upacara peringatan Hari Pahlawan di lapangan Bumi Gora. “Selalu bertakwa kepada Allah SWT, selalu berjuang dengan ikhlas mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan golongan, percaya diri dalam membangun negara, dan membangun NTB. Yang terakhir, mengutip pesan dari Bung Hatta, jangan sampai kita mencuri dari ibu pertiwi,”kata Gubernur tegas.

Sebelumnya, dalam amanat Menteri Sosial Republik Indonesia yang dibacanya, gubernur selaku inspektur upacara menyampaikan, warisan terbaik para pahlawan bangsa bukanlah politik ketakutan melainkan politik harapan. Seberat apapun tantangan yang dihadapi dan keterbatasan yang ada, tidak akan menyurutkan semangat perjuangan.

Peringatan Hari Pahlawan tahun ini mengangkat tema Satukan Langkah Untuk Negeri. Tema tersebut mengandung harapan seluruh warga negara Indonesia agar bersatu dalam kebersamaan dan kebersamaan dalam persatuan. “Kepada seluruh lapisan masyarakat dihimbau untuk terus berjuang, bekerja, serta berkarya menjadi pahlawan bagi diri sendiri, pahlawan bagi lingkungan, pahlawan bagi masyarakat maupun pahlawan bagi negeri ini,” ucap Gubernur.

Seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) lingkup Provinsi NTB mengikuti upacara bendera, sebagai bentuk penghormatan untuk memperingati Hari Pahlawan ke-71. Peserta upacara terdiri dari ASN, perwakilan TNI dan Polri, pelajar di Kota Mataram, anggota Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) dan lain-lain.

Pada akhir upacara, Gubernur didampingi ketua DPRD Provinsi NTB, Hj Baiq Isvie Rupaeda menyerahkan bingkisan sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada 25 veteran. Hal itu sebagai ungkapan rasa terimakasih generasi saat ini kepada para pahlawan bangsa. (zwr)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid