TGB Minta Warga NTB Jaga Ketentraman

TGH M Zainul Majdi
TGB BICARA : Gubernur NTB, TGH M Zainul Majdi meminta kepada umat Islam agar tidak terprovokasi atas penghinaan pada dirinya, Jumat lalu (14/4). (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Gubernur   TGH M Zainul Majdi mengakui dirinya bersama istri Hj Erica Majdi telah mendapat penghinaan saat berada di Bandara Changi, Singapura oleh seorang mahasiswa Indonesia akibat kesalahpahaman dalam antrian. Hal tersebut diungkapkannya di seluruh hadapan jamaah setelah salat Jumat lalu (14/4).

Dituturkan, saat itu terjadi kesalahpahaman yang membuat dirinya dihina dengan perkataan sangat tidak pantas oleh Steven Hardisurya Sulistyo. “Memang benar berita yang menyebar itu, mungkin  kalau banyak yang sebut penghinaan itu bisa dikatakan penghinaan,” ungkapnya.

Pria yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) itu dihina dengan sebutan Tiko (Tikus kotor – red). Steven mengeluarkan banyak kata-kata umpatan dan menghina pribumi karena menganggap TGB menyerobot antrian di bandara Changi.

[postingan number=5 tag=”TGB”]

Ketika mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Steven masih saja mengumpat. Itulah yang membuat TGB melaporkan Steven ke petugas bandara. “Saya mau melapor karena awalnya tidak mau meminta maaf, tapi kemudian meminta maaf. Ya sudah saya maafkan,” katanya.

Pristiwa penghinaan tersebut kemudian menyebar secara luas di media sosial. Masyarakat NTB dan dari berbagai daerah lainnya tidak menerima penghinaan yang dinilai sangat keji tersebut. “Tapi saya minta kepada warga NTB untuk tetap menjaga ketentraman, jangan terpancing emosi,” imbaunya.

Ia sendiri menyadari tidak bisa melarang jika ada orang yang marah. Namun kemarahan tersebut jangan sampai membuat masyarakat berbuat kemaksiatan. Rasa aman, nyaman dan ketenangan NTB harus tetap dijaga oleh seluruh elemen.

Untuk menyikapi penghinaan yang terjadi, TGB mengingatkan umat islam agar berpedoman pada Alquran dan tuntunan Nabi Muhammad SAW. “Tuntunan pertama dari Alquran, jika mendapat perbuatan yang tidak menyenangkan haruslah bersabar. Karena rasa sabar akan semakin mendekatkan ketaqwaan diri kepada Allah SWT,” terangnya.

Menurutnya, masyarakat hebat itu yang mampu mengendalikan diri pada saat marah. Semua pihak harus bersama-sama menjaga persaudaraan dan keberagaman yang selama ini telah terjalin dengan baik. Jangan sampai ada yang terprovokasi sehingga berbuat hal-hal di luar tuntutan agama. “Lelah kita bangun NTB ini, mari kita rawat dengan sebenar-benarnya,” ajak TGB.

Ditegaskan, tidak boleh ada seseorang atau sekelompok yang merasa lebih hebat dari kelompok lainnya, apalagi kemudian merendahkan kelompok lain hanya karena memiliki kelebihan. “Semoga apa yang terjadi pada diri saya dan keluarga jadi pelajaran. Kita mayoritas harus selalu mengayomi yang minoritas di NTB, saya yakin umat Islam NTB itu sabar,” ujarnya.

Provinsi NTB sendiri sangat heterogen. Beragam etnis, suku, ras, agama, tradisi, budaya dan bahasa berkembang, namun toleransi dan kerukunan selama ini terjalin dengan baik. Kondisi inilah yang harus tetap dijaga kedepannya.

Menurut TGB, kerukunan warga NTB menjadi dambaan semua orang. Hal itulah yang membuat banyak daerah lain yang datang ke NTB hanya untuk belajar tentang toleransi dan kerukunan. “Keharmonisan dalam kehidupan akan mendukung pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan untuk mencapai kemajuan yang besar, yakni mensejahterakan masyarakat seperti pembangunan infrastruktur dasar, pertanian, pariwisata dan lainnya,” sebut TGB.

TGB sangat tidak ingin ada gerakan yang merusak keharmonisan karena akan menghambat laju pembangunan daerah. Apabila ada masalah, sudah selayaknya diselesaikan dengan cara-cara dewasa dan bermartabat.

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Wathan (PWNW) Provinsi NTB, TGH Mahally Fikri sangat marah atas penghinaan yang dilakukan Steven kepada TGB. Bagi TGH Mahalli yang juga pimpinan DPRD NTB, TGB bukan sekedar ulama, namun juga symbol daerah selaku gubernur dan Ketua Umum organisasi Nahdlatul Wathan. “Jelas kita marah, ini sangat tidak etis,” ucapnya.

Keluarga besar NW juga mendesak aparat kepolisian baik Kapolda NTB dan Kapolri mengusut tuntas kasus pelecehan sekaligus penghinaan yang dilakukan Steven terhadap seorang ulama, Gubernur NTB yang menjadi panutan rakyat Indonesia, khususnya nasyarakat NTB.

Penegakan hukum sangat penting agar tidak menjadi kebiasaan yang akan diikuti oleh oang lain pada masa mendatang. “Indonesia harus bebas dari rasis dan tidak boleh satu pun dan siapapun dia yang dibiarkan bebas hidup di negara tercinta Indonesia. NKRI dan Bhineka Tunggal Ika harga mati,” tegasnya.

Dikatakan, selama memimpin sebagai Gubernur NTB hampir 10 tahun, TGB menjadikan NTB sangat aman dan sikap toleransi antar umat menjadi prioritas utama. Hal itulah yang membuat tidak pernah terjadi riak-riak dan saling melecehkan antar kelompok maupun etnis. (zwr)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid