Tetangga Ungkap Fakta Sebelum Kematian Rani

AUTOPSI: Jasad Rani dipindahkan untuk dilakukan autopsi oleh Tim Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Mataram. (ABDURRASYID EFENDI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Kematian Haerani atau Rani (22) seorang guru TK yang tinggal di BTN Citra Persada Medas, Blok S Nomor 5, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat (Lobar) masih menyisakan tanda tanya.

Apalagi ada luka lebam di muka dan jeratan kain di leher hingga menutupi muka. Mayat Rani pertama kali ditemukan oleh ibu kandungnya bernama Nurmah di kamar mandi, sekitar pukul 19.30 WITA, Jumat (29/7) lalu.

Nurmah saat ditemui di Rumah Sakit Bhayangkara Mataram menceritakan, dirinya datang ke rumah anaknya karena sudah dua hari tidak ada kabar. Namun yang ditemui malah mayat anaknya yang tidak berdaya di pojokan kamar mandi rumah BTN itu.

Ia pun membenarkan bahwa sepeda motor, laptop, dan lainnya masih ada, kecuali HP. “Hanya HP-nya yang hilang, jumlah dua unit,” cerita Nurmah berlinang air mata, Sabtu (30/7).

Sepekan sebelum kejadian ini, Rani menemuinya dan menceritakan akan menjual motornya. Nurmah pun menanyakan akan dipergunakan untuk apa uang hasil jual motor itu nanti. “Saya tanya, buat apa nak? Dia jawab, saya ada perlu,” tutur Nurmah yang tinggal di Ampenan ini.

Mendengar jawaban itu, Nurmah pun langsung mengiyakan. Kemudian dua hari setelah itu, Nurmah kembali dihampiri oleh Rani ke tempatnya biasa jualan nasi. Selain datang untuk makan, ia juga dibawakan makanan oleh anak gadisnya itu. “Dia bawakan saya jajan, tisu dan lainnya. Setiap kali datang, pasti dia bawain makanan,” sambungnya.

Rani lanjutnya adalah anak yang terbuka, yang selalu bercerita tentang kehidupannya. Termasuk soal asmara. Tetapi belakangan ini, Rani tidak pernah bercerita lagi soal asmara yang dijalaninya. “Katanya dia tidak mau pacaran lagi, dia ingin fokus membahagiakan keluarga saja,” ujarnya.

Baca Juga :  Kematian Rani Guru TK di Gunungsari Masih Misterius, Ibunya Beberkan Fakta Baru

Semenjak pertemuan terakhir itu, Rani tidak ada kabar. Kemudian Nurmah menelepon, namun nomornya tidak aktif. Perasaan tidak enak menghampiri, terlebih lagi Rani tinggal sendirian. Dengan perasaan tidak enak, Nurmah bergegas mendatangi rumah Rani. “Saya sampai di sana (rumah korban) pukul 17.20 WITA. Saya datang sama bapak tirinya,” sebutnya.

Di sana, keadaan rumah sepi dengan gerbang tidak terkunci. Ia pun terus memanggil nama Rani, tetapi, tidak ada sautan. Nurmah berusaha menanyakan ke tetangga, juga tidak pernah melihat korban. Tidak berselang lama, ia berhasil masuk berkat kunci cadangan yang diberikan korban beberapa waktu lalu. “Saya masuk, saya lihat motornya di dalam, biasanya tidak pernah naruh motor di dalam rumah,” ungkapnya.

Semua sisi rumah ditelusuri sembari meneriakkan nama korban. Lagi-lagi, tidak ada jawaban yang diterima. Berada pada situasi seperti itu, membuatnya semakin panik. Tangisnya pecah ketika mendobrak pintu kamar mandi, di sana Nurmah menemukan anaknya sudah tidak bernyawa.

Sementara itu, Nana tetangga korban mengaku tidak tahu persis kejadian yang menimpa korban. Hanya saja, pada Rabu (27/7) siang atau dua hari sebelum mayat korban ditemukan, ia mendengar adanya suara benturan di tembok. Namun dirinya tidak terlalu menggubris suara tersebut, karena berpikir itu hanyalah suara tetangga sebelah yang tengah memotong sesuatu untuk dimasak. “Saya kirain suaranya dari tetangga sebelah yang sedang memotong daging atau apa gitu,” katanya.

Baca Juga :  Rani Guru TK Dibunuh karena Meminta Tanggung Jawab Pria yang Menghamilinya

Nana bertetangga dengan korban sudah tiga tahun lamanya. Selama itu, ia tidak mengenal korban secara mendalam. Sekilas, ia mengenal sosok korban orang yang ceria dan ramah, tetapi jarang keluar. “Jarang keluar, kalau ada sesuatu baru keluar. Orangnya ramah, sering berbagi jika memiliki makanan. Selebihnya saya kurang tahu, soalnya tidak terlalu dekat juga,” tuturnya.

Korban lanjutnya, tinggal sendirian. Selama menjadi tetangga, ia tidak pernah melihat korban membawa lelaki ke rumah tersebut. “Setahu saya, korban sudah tinggal selama tiga atau empat tahunan,” katanya.

Sebelum kejadian, korban juga tidak menunjukkan gelagat yang mencurigakan. Terlebih lagi, korban tidak pernah bercerita apa-apa. Dan selang beberapa saat korban ditemukan oleh ibunya, saat orang Salat Magrib, barulah tetangga berhamburan. “Kata ibunya sudah beberapa hari tidak ada kabar. Pas sudah dilihat, tahu-tahunya sudah meninggal,” sebutnya.

Kapolresta Mataram Kombes Pol Mustofa juga tidak menampik dengan hilangnya HP korban. Dan saat ini masih dilakukan pendalaman. Diperkirakan, korban meninggal sudah dua hari. Pada saat jasad korban ditemukan, sudah mengeluarkan bau. “Semuanya masih kita telusuri, mulai dari keterangan saksi. Termasuk juga jika ada rekaman CCTV di sekitar lokasi,” sambungnya.

Dan untuk membuat terang penyebab kematian, pihak Kepolisian masih menunggu hasil autopsi Tim Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Mataram. Untuk keluarnya hasil autopsi korban, diperlukan waktu selama tujuh hari ke depan. “Kesimpulan penyebab kematian korban, kita masih menunggu hasil autopsinya keluar dulu,” tutupnya. (cr-sid)