Termakan Janji Calo, Pengantin Baru pun Jadi TKI

Dua warga Dusun Tanak Embang Daye Desa Selebung Kecamatan Batukliang Lombok Tengah, menjadi korban kapal tenggelam di perairan Teluk Mata Ikan Tanjung Bembam, Nongsa, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (2/11). Yaitu, Mahrun 49 tahun, dan Aisyah 27 tahun. Kedua tercatat sebagai TKI/TKW gelap alias tanpa dokumen pemberangkatan selama ini.

 


UHAMMAD HAERUDDIN-PRAYA


 

ADA segudang cerita di balik kematian TKI/TKW asal Dusun Tanak Embang Daye Desa Selebung Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah. Warga kampung setempat tak hanya sekedar mempertaruhkan hidupnya merantau ke negeri orang. Tetapi, kondisi geografis dan demografis telah menyulut mereka harus merantau.

Kondisi ini diceritakan Kepala Dusun Tanak Embang Daye, HM Sahwan Ismail, bahwa sebanyak 50 persen warga setempat pergi merantau ke negeri orang. Dari 227 kepala keluarga (KK) yang berpenghuni di kampung itu, setengahnya menjadi TKI.

Ironisnya, rata-rata menggunakan jalur gelap. Maklum, rendahnya pendidikan masyarakat menjadi salah satu penyebab mereka harus merantau. Kebanyakan penduduk setempat hanya tamatan SMP. Selain itu, kondisi alamnya juga kurang bersahabat. Hanya sedikit sekali area pertanian di wilayah kampung itu, sehingga menampung angka pengangguran di kampung itu.

Inilah salah satu alasan mereka kemudian tak betah berada di rumah. Mereka ingin mencari rezeki di negeri luar. Ditambah lagi dengan iming-iming dan manisnya janji palsu pada calo yang memberangkatkan mereka. Sehinga bersedia meninggalkan kampung halamannya dengan segenggam harapan meraih impian. ‘’Area pertanian di sini sangat sempit, tidak ada lahan untuk digarap. Sehingga warga di sini harus memilih merantau,’’ tutur Sahwan.

Kondisi ini, sambung dia, secara langsung memengaruhi psikologis warga lainnya. Sehingga mereka tak bisa bertahan dengan kondisi kampung yang dirasa tak memungkinkan untuk menyambung hidup. Bahkan, tak sedikit para pengantin yang baru menikah, berniat merantau. Begitu mereka selesai hajatan/pesta, mereka berkeinginan untuk merantau.

Tak hanya sang suami (laki-laki) tapi juga sang istri. Mereka sepertinya tak tahan dengan himpitan ekonomi yang terus menghantui. Sehingga rela mengorbankan masa-masa indah demi harapan masa depan yang lebih cerah. ‘’Tidak sedikit warga di sini, begitu sebulan mereka menikah langsung pergi merantau. Kadang-kadang keduanya (istri dan suami, Red), dan mereka berangkat lewat jalur pariwisata (melancong, Red),’’ beber Sahwan.

Sahwan sendiri tak menapikan, kerap mengingatkan warganya agar berangkat lewat jalur resmi. Sehingga punya jaminan dan identitas jelas dalam bekerja di luar negeri. Tapi, lagi-lagi janji manis calon lebih kuat dibandingkan imbauannya. Sehingga warganya banyak memilih jalur ilegal/gelap. ‘’Padahal biayanya lebih mahal lewat jalur gelap ini. Tapi karena sistem setoran ongkosnya potong gaji, jadi mereka senang saja tanpa memikirkan akibatnya,’’ sesalnya.

Dalam hal ini, Sahwan hanya bisa meminta kepada pemerintah agar menertibkan para calo ini. Karena selama ini mereka adalah biang keladi maraknya TKI/TKW gelap. ‘’Seharusnya para calon ini yang ditertibkan,’’ harapnya.

Penuturan Sahwan tak dinapikan juga Inaq Mahsun, bahwa kedua anaknya Mahsun dan Mahdan pergi merantau lewat jalur gelap. Keduanya hanya menggunakan paspor pelancong saat berangkat. Jalur itu sudah beberapa kali ditempuh anaknya. Bahkan, selama dua kali merantau ke Malaysia. ‘’Tapi dia berhasil, dulu ketika masih muda hasilnya saya bisa bangun toko. Tapi sekarang dikirim ke manantu saya, karena keduanya sudah menikah,’’ cetusnya. (**)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid