Terinspirasi Kecelakaan Siswanya, Temuannya Kini Ramai Dipesan

HEBAT : Berkat ketekunan Siti Raudah menjadi penemu mesin penggiling kaca (beling) di Indonesia. Siti Raudah memperlihatkan piagam penghargaan yang diterimanya (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

Menjadi  seorang guru Bimbingan Konseling (BK), tidak membatasi Siti Raudah berkarya. Dia berhasil menemukan  sebuah mesin penggiling kaca (beling) pertama di Indonesia.

 

 


AZWAR ZAMHURI – MATARAM


 

Wanita kelahiran Selong, 31 Desember 1960 itu masih terlihat segar. Sikapnya begitu ramah dan menyenangkan kala Radar Lombok menemui Siti Raudah di sela-sela aktivitasnya.

Jadwalnya setiap hari memang begitu padat. Pagi berada di sekolah, pulang ke rumah mengajar anak-anak teater di sanggar Sandat Dasan Agung yang didirikannya. Belum lagi mengisi waktu untuk mencipta lagu, melakukan hoby penelitian dan segudang kesibukan lainnya.

Itulah kehidupan seorang Siti Raudah, yang sejak lama telah menetap di Dasan Agung Kota Mataram dan sebagai guru Pegawai Negeri Sipil (PNS). Hari-harinya memang tidak jauh dari mengabdi, mengajar dan berkreasi.  “Mungkin karena saya hidup sendiri, makanya sangat banyak waktu untuk sesama dan sering juga meneliti,” tuturnya datar. a telah hidup menjanda sejak 7 tahun lalu. Sementara kelima anaknya telah hidup mapan dan berumah tangga.

Buah ketekunannya ini, membawa Raudah ini mendapatkan berbagai penghargaan, dan beberapa hari lalu mewakili NTB dalam ajang Tekhnologi Tepat Guna (TTG). Raudah berhasil juara satu pada kategori stand terbaik.

Awal mula penemuannya itu ketika ada seorang siswa Raudah tidak masuk sekolah. Kemudian ia langsung menjenguk ke rumah. Ditemukanlah siswa tersebut sedang kesakitan karena terluka oleh pecahan kaca atau beling.

Raudah kesal pada beling, anak didiknya tidak bisa menuntut ilmu. Namun ia lebih marah pada masyarakat yang membuang beling di sungai Jangkok hingga siswanya terluka. “Itu kejadian tahun 2013, saya susuri sungai itu dan minta ke masyarakat agar tidak buang beling sembarangan,” katanya mulai bercerita serius.

Raudah tidak ingin ada lagi siswanya terluka. Ia pun meminta pemulung untuk memungut semua beling yang ada di sungai dan Raudah membelinya. Semua dilakukan agar tidak ada lagi beling tercecer.

Berkarung-karung beling terkumpul di rumahnya. Raudah mulai bingung akan digunakan untuk apa. Kesendiriannya membuat inspirasi lebih mudah datang. Hoby menelitinya menguat, meski Raudah seorang guru BK, namun ilmu IPA yang didapatkan saat SMA masih tersimpan di pikirannya. “Terus saya menumbuk beling itu dengan alat dari batu sampai jadi halus seperti serbuk. Saya teliti mungkin bisa dimanfaatkan,” ceritanya.

Raudah mendapatkan ide agar serpihan-serpihan kecil dari beling tersebut bermanfaat. Dari serbuk beling itulah ia bisa menyulap sesuatu menjadi lebih indah dan menawan. Misalnya seperti meja, kap lampu, bahan bangunan seperti batako, aksesoris bangunan dan lain-lain. “Tapi saya teliti lagi karya saya, saya coba rendam ke air laut. Ternyata teksturnya tidak berubah bertahun-tahun,” katanya.

Beberapa temannya ternyata tertarik dengan kreasi yang dibuat oleh Raudah, padahal masih dalam fase penelitian. Seiring berjalan waktu, beberapa orang lainnya juga menginginkan karyanya. “Jadinya kan saya harus lebih banyak lagi menumbuk beling, sementara untuk satu kilo beling saja butuh waktu setengah jam,” ujar alumni SDN 6 Selong dan SMPN 1 Selong ini.

Kebingungan Raudah dijawab Tuhan ketika secara tidak terencana. Ia melihat orang-orang yang bekerja gelondongan emas di Sekotong. Mesin yang digunakan bisa memisahkan antara emas dengan tidak, itulah awal mula inspirasi hingga ditemukannya mesin penggiling beling.

Pikirannya langsung tertuju membuat sebuah mesin yang bisa bekerja seperti yang digunakan untuk gelondongan emas. Tapi harus lebih sempurna agar tidak ada yang bolong. “Itu artinya bantalan beling harus kita buat dari baja, saya harus buat mesin seperti itu agar bisa lebih cepat menumbuk atau menggiling beling,” ucapnya.

Setelah dirancang sedemikian rupa, dengan bantuan tukang las terbuatlah sebuah mesin yang bisa menggiling beling. Hasilnya memuaskan, jika sebelumnya dalam setengah jam hanya mampu menghasilkan 1 kilogram serbuk beling, kini bisa hingga 10 kilogram. Raudah pun bisa lancar melanjutkan kreasinya memenuhi permintaan orang untuk kebutuhan meja, kap lampu dan lain sebagainya.

Namun masalah baru muncul lagi, Raudah mulai kehabisan beling. Sebuah beling atau kaca yang berbahaya, di tangan Raudah bisa bernilai uang. “Masyarakat kita kan membuang beling, tapi saya malah butuh untuk kita buat jadi sesuatu yang berharga. Makanya saya keliling ke rumah-rumah warga, bahkan sampai ke toko-toko kaca itu. Daripada beling dibuang terus nanti membahayakan orang seperti yang menimpa murid saya, lebih baik saya beli saja beling itu,” kenangnya.

Para pemilik toko  sangat senang jika beling yang bisa membahayakan itu ada pembelinya. Raudah pun menjadi tidak kesulitan mendapatkan beling dengan cara membeli. Sebanyak apapun beling, dengan mesin yang ditemukannya semua menjadi mudah.

Cara kerja mesin yang ditemukannya sederhana. Beling dimasukan ke dalam mesin yang sudah dirancangnya itu, kemudian secara otomatis mesin akan memilah beling menjadi empat jenis. “Ada yang jadi serbuk, kecil, besar dan masih cukup besar. Itu secara otomatis keluar di tempatnya masing-masing yang telah saya sediakan juga pada bagian emsin itu,” terangnya.

Keempat jenis hasil olahan mesin tersebut semuanya bermanfaat. Jenis serbuk halus bisa dibuat untuk meja, yang lebih besar dari serbuk dimasukkan ke pot bunga sehingga akan terlihat indah. Kemudian yang agak besar dan besar menjadi batako atau digiling ulang untuk perbanyak persediaan jenis serbuk.

Temuan Raudah diakui sangat berguna oleh semua pihak. Dalam gelaran TTG pekan lalu, malah banyak yang ingin memiliki mesin seperti ciptaannya. Bahkan beberapa perwakilan dari Papua, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur telah memesannya. “Biaya saya buat mesin itu sekitar Rp 15 juta, saya akan jual seharga Rp 17 juta. Kan uang ongkos kirim. Tapi kalau untuk ponpes sih, malah saya ingin jual setengah harga, biar dapat pahala gitu,” katanya.

Atas temuannya tersebut, banyak penghargaan yang telah diperoleh. Diantaranya piagam penghargaan dari Pemkot Mataram sebagai penemu mesin penggiling kaca (beling) pada tahun 2015, mewakili Indonesia di seminar counselling internasional di Bali yang dihadiri banyak negara, mendapat hak paten tahun 2015 dan lain-lain. “Belum lagi kalau kita bicara materi dari hasil kerja mesin itu, harga saya jual mulai dari Rp 200 ribu seperti kap lampu, terus meja pojok/telpon Rp 800 ribu. Kalau untuk material bangunan atau aksesoris bangunan saya jual Rp 2 juta per meter. Tapi masih ingin saya sempurnakan lagi mesinnya, biar benar-benar tidak ada kelemahan saat ikuti TTG tahun 2017 nanti,” tutup Raudah bercerita. (*)