Terdampak Corona, 50 Persen Perusahaan Tutup

illustrasi (source : detik.com)

MATARAM – Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Provinsi NTB Ni Ketut Wolini menyebutkan kondisi pengusaha selama pandemi Covid-19 tidak mampu bertahan. Bahkan sampai dengan saat ini sekitar 50 persen pengusaha terpaksa tutup sementara, bahkan hingga gulung tikar alias bangkur karena Corona.

“Hampir 50 persen perusahaan tutup karena terdampak Corona ,” kata Ketua Apindo NTB Ni Ketut Wolini, Senin (15/2).

Wolini menyebut jika perusahaan yang tutup tidak semuanya melakukan penutupan secara permanen. Ada tutup sementara dan ada yang benar-benar tutup permanen atau bangkrut. Artinya yang tutup sementara ini mereka tidak ada pembeli, karena daya beli menurun. Tetapi masih ada harapan untuk buka kembali ketika Corona sudah mereda. Sementara perusahaan yang gulung tikar ini sudah menutup sama sekali usaha mereka.

Saat ini ada, kebijakan PPKM mikro pada tingkat RT/RW, kelurahan dan desa di NTB juga semakin memberi dampak besar terhadap pengusaha. Kebijakan tersebut akan berdampak serius terhadap pengusaha yang bisa berakibat fatal, seperti penutupan sementara hingga tutup permanen.

“Pasti terdampak terhadap pengusaha, karena yang sekarang ini hanya UMKM bisa ada geliat untuk membangkitkan ekonomi. Kalau usaha menengah ke atas masih menunggu,” terangnya.

Dikatakan Wolini, pengusaha terdampak karena Covid-19 juga disebabkan adanya aturan pembatasan jam buka usaha. Apalagi sekarang para pengusaha ini mengandalkan pembeli lokal yang tidak seberapa, ditambah daya beli merosot.

“PPKM diluar sana sama seperti kita. Jelas orang tidak bisa datang ke sini, kita juga tidak bisa sebebasnya datang ke sana,” jelasnya.

Senada, Ketua Perhimpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Mataram H Ricky Hartono Putra mengatakan beberapa anggotanya memang ada yang tutup sementara seperti di sektor pariwisata belum bangkit lagi. Tetapi sebagian diantaranya justru beralih membuka usaha baru.

“Dari HIPMI Mataram yang masih belum buka dari sektor pariwisata,” ujarnya.

Apalagi saat ini adanya penerapan kebijakan PPKM mikro, beberapa anggota HIPMI sudah menanyakan hal tersebut. Tetapi memang ini lebih kepada skala mikro di lingkungan. Sebelumnya juga sudah ada skala besar dilakukan, hal tersebut memang sangat berpengaruh terhadap dunia usaha.

“Kalau yang skala kecil memang akan lebih berpengaruh terhadap pengusaha kaki lima, karena memang market mereka masyarakat desa. Untuk HIPMI hanya di sektor pariwisata belum pulih kalau makanan menurun pendapatan,” jelasnya. (dev)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Berita sebelumyaUnram Akan Terima 5.780 Calon Mahasiswa Baru
Berita berikutnyaPolisi Harus Serius Usut Longsor Senggigi