Terapkan Tiga Metode, Target Khatam Tidak Ditentukan

Kediri Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat (Lobar) selama dikenal sebagai kota santri. Predikat ini layak disematkan mengingat banyaknya ponpes di tempat ini.  Salah satunya yaitu Pondok Pesantren  Islahuddiny.

 


Janwari Irwan– Giri Menang


 

Pondok Pesantren (Ponpes)   Islahuddiny  didirikan Oleh TGH Ibrahim Kholidi. Usai menuntut ilmu di Makkah, TGH Ibrahim lalu mendirikan ponpes ini tahun 1985 lalu.  Dalam perjalanannya,   TGH Ibrahim Kholidi membuat lembaga tahfidz yang dinamakan dengan Darul Furqon Islahuddiny  pada tahun 1987. Sebagai pembina dipercayakan kepada TGH Yusuf Abddussatar yang merupakan salah satu penghafal Alqur'an pertama  di NTB.

Setelah memasuki usia uzur, TGH Yusuf digantikan oleh putranya TGH Khoilid Abdussatar.Akan tetapi  beliau meninggal di usia muda. Setalah itu dilanjutkan oleh TGH Ibrahim  Hilmi yang merupakan putra dari TGH Ibrahim Kholidi. TGH Ibrahim Hilmi juga meninggal di usia muda.  Saat ini Darul Furqon Islahuddiny dipercayakan kepada putra bungsu dari TGH Ibrahim Kholidi yang bernama TGH Muhammad Surur Ibrahim.

Wakil Pembina  Ponpes Tahfidz Darul Furqon Islahuddiny  TGH Hodari Ibrahim Lc,MH  menerangkan, sejak berdiri Darul Furqon Islahuddiny telah banyak mendidik dan mencetak tahfidz-tahfidz muda. Mereka kini tersebar di berbagai daerah bahkan ada yang tengah menimba ilmu di Makkah.

Dalam pembelajarannya, ponpes ini menerapkan tiga metode tahfidz yaitu metode Takhsin Tilawah atau yang isinya perbaikan bacaan atau tajwid. Setelah itu baru ketahap kedua  yaitu Hibsul Mu’ayyam atau disebut dengan hafalan terbatas. Dan yang ketiga baru Morojjah.

Sebelum  diterima menjadi santri  tahfidz, santri sebelumnya harus melewati beberapa tes, diantaranya, tes psikologi, tes tilawah atau tajwid, kemudian menghafal Juz Amma akhir yang bertujuan untuk mempercepat dalam pembelajaran. '' Jika selama jangka tertentu santri tidak ada perubahan, santri dikembalikan ke ponpes biasa, tidak diwajibkan untuk mengikuti kegiatan tahfidz,'' jelasnya Selasa lalu (28/6).

Selain itu tambahnya, sebelumnya Darul Furqon Islahuddiny hanya mendidik  santri dan santriwati tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan  Madrasah Tsanawiyah (MTs), tetapi sekarang fokusnya untuk santri dan santriwati tingkat MTs dan MA  saja.

Dalam prakteknya kata  TGH Hodari Ibrahim, Ponpes Darul Furqon Islahuddiny tidak mempunyai target tertentu bagi santri untuk khatam Alqur'an   seperti yang diterapkan oleh pesantren lainnya. Akan tetapi yang ditekankan di ponpes ini bagaimana menjadi orang atau jiwa yang pintar. ”Kalau kita bisa menghafal Alqur'an titik demi titik, otomatis kita akan mudah menghafal pelajaran yang lain,”tambahnya.

Santri belajar menghafal Alqur'an   setelah pulang sekolah atau belajar pendidikan formal. ”Dan santri Darul Furqon Islahuddiny rata-rata menghafal Alqur'an yang 30 juz dalam waktu 4- 5 tahun,”terang TGH Hodari.

Untuk mempercepat dalam menghafal Alqur'an, pembina membagi santri kedalam kelompok. Masing-masing kelompok dibina satu orang pembina. Asarama mereka juga dipisahkan. Santri yang hadalannya baru mencapai 1-5 juz dipisahkan dengan santri yang hafalannya lebih dari 5 juz. ”Untuk menghilangkan rasa bosan dan jenuh dalam belajar, kita pisahkan pondoknya. Santri yang hafalannya baru sampai  5 juz mondok sama yang santri yang hafalanya 5 juz,begitu seterusnya,”jelasnya.(*)

BACA JUGA :  Ribuan Ponpes di Lotim Belum Kantongi Izin