Tenaga Medis Minim, Lobar Buka Pendaftaran Relawan

RUANG ISOLASI: Petugas Kesehatan di RSUD Tripat Lobar saat berada di ruang isolasi RSUD Tripat Lobar saat dilakukan simulasi penanganan pasien beberapa waktu lalu.( Dok/RADAR LOMBOK)
RUANG ISOLASI: Petugas Kesehatan di RSUD Tripat Lobar saat berada di ruang isolasi RSUD Tripat Lobar saat dilakukan simulasi penanganan pasien beberapa waktu lalu.( Dok/RADAR LOMBOK)

GIRI MENANG-Keberadaan tenaga kesehatan untuk penanganan Covid 19 yang terbatas di Lombok Barat kini mulai terasa. Para tenaga kesehatan menyampaikan unek-unek mereka kepada Bupati Lombok Barat H Fauzan Khalid kemarin. “Salam dari kami tenaga kesehatan, mohon bantu kami. Sudah satu bulan setengah kami tidak berkumpul dengan keluarga,” ungkap Kepala Bidang Pencegahan Penanggulangan Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (P3KL) Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat, H. Ahmad Taufiq Fatoni. Hadir pada acara ini para tuan guru dan alim ulama’ se-Lombok Barat bertempat di Bencingah Kabupaten Lombok Barat- Gerung.

Fatoni menuturkan, karena menjalankan tugas, dirinya harus berpisah lama dengan keluarga.”Contoh saya, dua anak saya harus saya ungsikan. Saya sendiri bertanggungjawab di Gugus Tugas, istri saya bertugas di ruang isolasi. Kami pun sangat beresiko terhadap penularannya,” tambah Fatoni.

Di tempat berbeda, salah seorang perawat di ruang isolasi RSUD Patut Patuh Patju, Dadang Priyanggono, saat dihubungi via telpon, menuturkan hal serupa. Menurutnya jangankan orang lain, rekan sejawatnya atau pegawai di RSUD Tripat pun beranggapan bahwa mereka yang bekerja di ruang isolasi bisa ikut menularkan Covid 19 sehingga sering dijauhi. Demikian pula dengan keluarga, Dadang menuturkan harus memperlakukan diri ketika di rumah secara khusus. “Saat pulang kerja dan sampai di rumah sebelum kita kontak dengan lingkungan rumah seperti pegang anak dan keluarga yang lain, harus sudah mandi bersih dan ganti baju dahulu serta langsung mencuci pakaian yang baru saja dipakai bekerja,” tutur Dadang memastikan hanya dengan prosedur itu dirinya merasa yakin bisa aman bergaul dengan keluarga.

Saat bekerja, Dadang bersama seluruh rekan sejawatnya di ruang isolasi harus disiplin menggunakan alat pelindung diri. Tidak cukup hanya menggunakan masker, namun untuk mereka yang bertugas di ruang isolasi, maka alat pelindung dirinya berlapis-lapis baju hazmat lengkap, masker, dan kaca pelindung wajah. Dadang menggunakannya berjam-jam, tidak peduli panas. Mereka harus tetap menggunakannya kembali saat terpaksa harus membuka karena harus ke kamar mandi. Jika tidak, maka mereka pun berpotensial menjadi pembawa penularan Covid 19 ke sanak familinya di rumah.

Baik Dokter Ahmad Taufiq Fatoni dan Dadang Priyanggono, mereka adalah potret tenaga kesehatan terdepan yang bekerja berjibaku dari urusan pencegahan sampai penanganan kepada para pasien Covid 19 di Kabupaten Lombok Barat. ”Sampai hari ini, Covid 19 ini tidak memiliki vaksin atau obatnya. Jadi untuk seterusnya, kita hanya mengandalkan pencegahan agar penyebarannya tidak semakin berbahaya,” papar Fatoni sambil menjelaskan prosedur yang harus terus dikedepankan seperti tidak berkerumun, selalu berjarak, tetap memakai masker, dan rajin mencuci tangan pakai sabun.

Menurutnya, jika saat ini penyebaran Covid 19 tidak bisa dikendalikan maka dikhawatirkan angkanya akan semakin bertambah. Bahkan menurutnya, berdasarkan prediksi untuk Lombok Barat bisa tembus sampai angka 450 pasien di mana akan sangat menyulitkan pihak pemerintah untuk menyiapkan rumah sakit dan para tenaga kesehatan.” Kemarin kapasitas ruang isolasi di RSUD Tripat baru 12 tempat tidur, maka hari ini akan mulai dibuka lagi menjadi 25 tempat tidur,” papar Fatoni.

Selain RSUD Tripat, pihaknya juga telah menyiapkan seluruh ruangan di RS Awet Muda Narmada menjadi rumah sakit khusus Covid 19 dan untuk pasien umumny akan dipindahkan pelayanannya ke Puskesmas Lingsar atau Narmada.

Dalam kesempatan terpisah, Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid menambahkan bahwa persoalan penanganan Covid 19 di Kabupaten Lombok Barat bukan hanya terkendala oleh mahalnya biaya dan jumlah fasilitas, namun juga oleh minimnya jumlah tenaga kesehatan yang menangani. “Kita sudah membuka penawaran untuk pendaftaran relawan, baik dokter maupun perawat. Kita siapkan insentif untuk dokter spesialis sebesar Rp 15 juta per bulan, dokter umum 10 juta, dan perawat 5 juta per bulan. Tapi sampai hari ini satu pun tidak ada yang mendaftar,” tutur Fauzan Khalid.

Dengan kondisi seperti itu, masyarakat hanya bisa bergantung kepada Ahmad Taufiq Fatoni, Dadang Priyanggono dan para tenaga medis lainnya yang jumlahnya di Lombok Barat sangat terbatas. Di sisi lain, Fatoni dan Dadang harus bertahan dan tetap berharap tidak ada lagi pasien yang harus dilayani di ruang isolasi.

Bersama timnya di Dinas Kesehatan, mereka tidak lelah mensosialisasikan protokol pencegahan, namun juga harus berjibaku dengan masyarakat yang sering memberikan penolakan bila mereka melakukan kontak tracking dan aneka test yang wajib dalam penanganan Covid 19.(ami)