Tembok Penghalang Dirobohkan, Tiga KK Bernafas Lega

DIROBOHKAN: Tembok penghalang yang sebelumnya menutup akses jalan yang dilalui tiga keluarga di Lingkungan Tiwu Buak, akhirnya dirobohkan, Kamis malam (31/12/2020). (haerudin/radarlombok.co.id)

PRAYA-Kejadian memprihatinkan yang menimpa warga tergolong kurang mampu di Lingkungan Tiwu Buak, Kelurahan Jontlak, Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah, yang untuk keluar dan masuk halaman rumahnya, terpaksa harus memanjat tangga, karena akses ditutup tembok oleh pemilik tanah, akhirnya kini bisa bernafas lega.

Pasalnya, persoalan lahan itu kini telah diselesaikan atas bantuan dan kepedulian berbagai pihak. Salah satunya dari Relawan Maiq Meres dan Tim H.Bambang Kristiono (HBK), Anggota DPR RI Dapil Lombok, yang langsung turun tangan menyelesaikan permasalahan yang sempat membuat publik merasa prihatin ini.

Seperti diketahui, sudah sebulan lamanya Amaq Munakip dan dua kepala rumah tangga lainnya, tak bisa keluar masuk rumahnya lantaran gang jalan menuju rumahnya di tembok oleh pemiliknya, yakni Suparman, setinggi 1,5 meter.

Untuk dapat keluar dan masuk halaman rumahnya, tiga kepala keluarga (KK) itu terpaksa harus menggunakan tangga. Karena pemilik tanah Suparman hanya mau membuka jalan, jika tanahnya dibayar dengan harga Rp 5 juta.

Wakil Sekretaris DPC Partai Gerindra Kabupaten Lombok Tengah, yang juga juru bicara Maiq Meres (Pathul-Nursiah, red), Lalu Amrillah menegaskan, bahwa kasus tiga kepala keluarga (KK) yang keluar masuk rumahnya dengan memanjat tangga yang viral di media sosial (Medsos) itu, membuat H Bambang Kristiono (HBK) yang merupakan anggota DPR RI Dapil Lombok, langsung tergerak hati untuk membantu sesama.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI itu langsung mengeluarkan dana Rp 5 juta untuk membebaskan tanah seluas kurang lebih 15×1 meter itu.

“Pak HBK telah memerintahkan Timnya untuk survei terlebih dahulu, guna mengetahui secara pasti permasalahan yang ada. Setelah tahu duduk masalahnya, beliau langsung menyumbang dana Rp 5 juta, dan diserahkan oleh Ketua Tim HBK Peduli Loteng kepada Pemilik Tanah Suparman, disaksikan Lurah Jontlak, Babinkantibmas, Babinsa, pihak Kecamatan, Kaling dan RT Tiwu Buak Kelurahan Jontlak,” ungkap Lalu Amrillah, Kamis (31/12/2020).

Pihaknya menegaskan, bahwa penandatanganan surat pembebasan tanah dilakukan di Kantor Kelurahan Jontlak, Kecamatan Praya Tengah. Hadir juga yang mewakili Relawan Maiq Meres, L. Martawijaya.

Selain bantuan dari HBK, bantuan dana juga datang dari para relawan Maiq Meres. Dana itu merupakan bentuk solidaritas dari para relawan atas nasib yang dialami oleh tiga KK itu.

“Alhamdulillah Pak HBK tidak pernah ketinggalan membantu sesama yang mengalami kesusahan. Kami dari Relawan Maiq Meres juga urunan, dan Alhamdulillah terkumpul Rp 5 juta dan sudah diserahkan sebagian, sisanya besok,” ungkapnya.

Usai penandatanganan berita acara pembebasan lahan, Tim HBK dan Relawan Maiq Meres serta Lurah dan jajarannya, Babinsa dan Babinkantibmas bersama pemilik tanah langsung merobohkan tembok pembatas tersebut.

Tentu dengan telah dirobohkan tembok itu, maka persoalan tanah tidak ada lagi. Kini tiga Kepala Keluarga (KK), yakni Munakip, Zainuddin dan Ahmad Fatoni bisa bernapas lega.

“Tadi pihak Munakip dan yang lainnya sangat bahagia, dan berterima kasih kepada semua pihak yang telah peduli kepada dirinya dan keluarganya, terutama kepada Bapak HBK dan Relawan Maiq Meres” ungkapnya.

Lebih jauh disampaikan, bahwa Lurah Jontlak juga memohon maaf atas lambannya penyelesaian Maslaah itu akibat tarik ulur harga tanah. “Pak Lurah tadi minta maaf. Sebab, baru sekarang bisa selesai karena prosesnya panjang. Pak Lurah juga menyampaikan terimakasih dan apresiasi setinggi-tingginya atas kepedulian Bapak HBK dan relawan Maiq Meres, serta semua pihak yang telah membantu menyelesaikan masalah warganya itu,” jelas Amril.

HBK maupun dari relawan juga berpesan agar dana yang diberikan dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, termasuk sisa dana dari pembebasan tanah itu untuk kebutuhan tiga kepala keluarga itu, baik untuk berusaha maupun memperbaiki rumahnya.

“Jangan lihat dari besar kecilnya bantuan itu tapi lihatlah dari keikhlasan dan kepeduliannya atas penderitaan masyarakat kita terutama masyarakat miskin, sebab seandainya mereka kaya mungkin tak perlu uluran tangan kita semua,” jelasnya. (met)