Teliti Naskah Kuno, Museum NTB Kerjasama dengan IAHN Gde Pudja Mataram

KERJASAMA: Kepala Museum NTB, Bunyamin, M.Hum, dan Wakil Rektor I IAHN Gde Pudja Mataram, Dr Drs I Wayan Sumertha, M.Ag, melakukan penandatanganan MoU tentang pengkajian dan penelitian naskah-naskah kuno koleksi Museum NTB. (ist for radarlombok)

MATARAM—Museum Negeri NTB meneken Memorandum of Understanding (MoU) dengan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Gde Pudja Mataram, terkait penelitian, pengkajian dan pengelolaan naskah-naskah kuno koleksi Museum Negeri NTB.

Penandatanganan naskah kerjasama dilakukan langsung oleh Kepala Museum Negeri NTB, Bunyamin, M.Hum, dan Wakil Rektor I IAHN Gde Pudja, Dr Drs I Wayan Sumertha, M.Ag, bertempat di Rektorat IAHN Gde Pudja Mataram, Selasa kemarin (16/11).

“Kerjasama ini tujuannya adalah untuk pengelolaan, pengkajian dan pemanfaatan naskah-naskah kuno koleksi Museum NTB. Dimana didalamnya berisi antara lain proses digitalisasi naskah kuno, sehingga memudahkan para mahasiswa melakukan penelitian dan pengkajian isi dari naskah-naskah kuno tersebut,” kata Kepala Museum NTB, Bunyamin.

Tentu pihaknya menyambut baik kerjasama ini. Pasalnya, dari sekitar 7.444 koleksi Museum NTB, dengan 1.361 koleksi diantaranya berupa 416 judul naskah kuno berbahan baku daun lontar dan kertas, ternyata belum semua isi naskah kuno itu dipahami.

“Karena itu, dengan adanya bantuan pihak akademis seperti IAHN yang memiliki jurusan Sastra Agama dan Bahasa Bali, dengan salah satu materi perkuliahannya adalah Filologika. Maka setelah dilakukan pengkajian dan penelitian nanti, berbagai naskah kuno yang ada di Museum NTB, terutama naskah yang menggunakan Bahasa Bali, dapat ditranslate dan didigitalisasi, untuk memudahkan para pengunjung, khususnya pelajar dan mahasiswa memahami kandungan dari naskah dimaksud,” ujar Bunyamin.

Dalam kerjasama nanti sambungnya, dari pihak IAHN Gde Pudja akan melakukan digitalisasi dan pengkajian naskah-naskah kuno koleksi Museum NTB. Sementara pihak Museum NTB yang akan menyiapkan koleksinya.

BACA JUGA :  Selama Seminggu, Museum NTB Pamerkan Naskah-naskah Kuno

“Tentu penelitian dan pengkajiannya nanti harus dilaksanakan di Museum NTB. Karena untuk benda koleksi ini tidak boleh keluar dari Museum NTB,” jelas Bunyamin.

Sementara Wakil Rektor I IAHN Gde Pudja Mataram, Dr Drs I Wayan Sumertha, M.Ag, mengatakan bahwa kerjasama dengan Museum NTB ini sebagai bentuk pengabdian terhadap masayarakat, untuk mengangkat nilai-nilai yang terkandung dalam peninggalan masa lalu.

“Kita sebagai dunia akademik, Museum adalah objek kajian dan penelitian yang sangat tepat. Jadi kerjasama yang kita bangun dengan Museum NTB ini, bagaimana kita bersama-sama bisa mengelola dan mempelajari peninggalan-peninggalan masa lalu, yang banyak tertuang dalam naskah-naskah kuno ini,” kata Sumertha.

Disampaikan, apapun peninggalan benda-benda bersejarah seperti naskah kuno dan lainnya yang ada di Museum NTB, akan dilakukan penelitian dan pengkajian oleh para dosen dan juga mahasiswa IAHN Gde Pudja, yang nantinya dapat dijadikan untuk penulisan tesis maupun skripsi.

“Pengkajian dan penelitian ini maksud utamanya adalah sebagai bentuk pemeliharaan terhadap warisan budaya nenek moyang kita. Apalagi kami sebagai akademisi sekaligus juga sebagai penganut Agama Hindu, yang notabene sumber-sumber lokal tetap kami jadikan sebagai dasar-dasar dalam perilaku beragama,” jelas Sumertha.

Museum NTB sendiri sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah, yang memiliki tugas pokok dan fungsi untuk melestarikan peninggalan berbagai benda bersejarah, termasuk naskah-naskah kuno, tentu juga akan terbantu.

BACA JUGA :  Wakil Bupati Nursiah Berharap Ada Museum di Loteng

“Kami selaku akademisi IAHN memiliki fungsi dalam pengembangan. Tentu kami juga mempunyai tanggung jawab bersama dengan pihak Museum. Atas dasar pemikiran itulah sehingga kerjasama ini kita lakukan,” jelas Sumertha.

Intinya bersama-sama pihaknya hendak mengembangkan, memelihara serta melestarikan peninggalan budaya dan tradisi yang terdapat di naskah-naskah kuno koleksi Museum NTB. “Koleksi naskah kuno ini menjadi objek kajian kita, agar nilai-nilai yang tersembunyi di balik simbol-simbol itu dapat dipahami dengan oleh masyarakat. Khususnya para pelajar, guru, dosen dan mahasiswa,” harapnya.

Setiap tahun pihaknya juga mengarahkan mahasiswa maupun dosen untuk melihat tema-tema apa yang diangkat, sebagai laporan hasil akhir perkuliahan dalam bentuk skripsi maupun tesis.

“IAHN Gde Pudja Mataram memiliki program Pascasarjana di dua Prodi Komunikasi Hindu dan Pendidikan Agama Hindu. Tentu saja kami sangat membutuhkan referensi untuk menulis dan menyusun karya ilmiah laporan akhir (tesis/skripsi). Dan itu bisa didapatkan di Museum NTB,” jelas Sumertha.

Apalagi para dosen dalam pengembangan SDM Dosen, setiap tahun juga diberikan anggaran untuk melakukan penelitian.

“Kerjasama ini otomatis akan memudahkan dosen dan mahasiswa kami dalam menentukan objek penelitiannya, terutama yang berhubungan dengan budaya tradisi dan adat yang bersumber dari peninggalan masa lalu tersebut,” pungkas Sumertha. (adi/gt)