Target Angka Kunjungan Wisatawan KLU Menurun

Target Angka Kunjungan Wisatawan KLU Menurun
Wisatawan mancanegara saat berkunjung ke Elephant Park di Desa Sigar Penjalin, Kecamatan Tanjung, KLU. (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

TANJUNG — Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lombok Utara (KLU) di bawah nakhoda baru Vidi Eka Kusuma tak berani menargetkan angka kunjungan wisatawan sesuai yang digariskan Perda Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), yakni 1,2 juta pada 2019. Disbudpar hanya berani menargetkan angka kunjungan 800 ribu wisatawan pada tahun ini. Itu lebih rendah dari target wisatawan 2018 sebesar 1 juta wisatawan.

Kabid Promosi Pariwisata Disbudpar KLU, Setiadi mengungkapkan, dampak gempa masih berimbas pada kunjungan wisatawan hingga tahun ini. Bahkan 2018 hanya mampu direalisasikan 600 ribu kunjungan wisatawan. Sehingga tahun ini hanya ditargetkan 800 ribu kunjungan wisatawan. “Kami tidak menargetkan melampaui dari itu. Itulah yang menjadi acuan untuk menentukan target angka kunjungan wisatawan tahun ini,” ungkapnya kepada Radar Lombok, Jumat (15/2) kemarin.

BACA JUGA: Penyeberangan Wisatawan Bali-Gili Diklaim Stabil

Selain itu lanjutnya, tahun ini merupakan tahun pemilu. Hal itu berimbas pada wisatawan mancanegara. Melihat situasi politik, ada yang takut datang ke Indonesia, salah satunya Lombok. Namun yang paling berpengaruh yakni bencana alam seperti longsor, banjir, puting beliung, dan lainnya.

Upaya yang dilakukan untuk merealisasikan target itu yakni mengajak para pihak yang berkepentingan untuk aktif mempromosikan pariwisata Lombok Utara. Di mana saat ini kondisinya sudah pulih. “Sekarang kita ajak masyarakat untuk ikut terlibat dalam promosikan pariwisata,” harapnya.

BACA JUGA: Imbas Tiket Mahal dan Bagasi Berbayar, Pariwisata Lombok Keteteran

Kemudian dari segi anggaran promosi diakui masih sangat minim hanya Rp 500 juta, sekadar untuk pameran skala nasional. Dengan anggaran yang ada, Disbudpar mengejar wisatawan nusantara. Sementara mancanegara dilakukan pelaku wisata, Kementerian Pariwisata, dan Pemprov NTB. “Promosi ini keroyokan bersama banyak pihak, termasuk travel agent,” katanya.

Tema yang dijual tetap mengacu pada pariwisata bahari, budaya, cagar budaya, dan desa wisata berbasis alam. (flo)