Tanpa Tambang, Triwulan 1-2022 Ekonomi NTB Tumbuh 5,15 Persen

KONSTRUKSI : Pada triwulan I-2022, sektor konstruksi mengalami kontraksi sebesar 19,44 persen. Padahal, konstruksi menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi NTB. (LUKMAN HAKIM / RADAR LOMBOK)

MATARAM – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB mencatat pertumbuhan ekonomi NTB tanpa tambang bijih logam pada triwulan I-2022 tumbuh sebesar 5,15 persen year on year (yoy). Sementara jika dihitung dengan tambang bijih logam, ekonomi NTB pada triwulan I-2022 tumbuh di angka 7,76 persen yoy.

Kepala BPS Provinsi NTB Wahyudin menyebut ekonomi NTB pada triwulan I-2022 terhadap triwulan sebelumnya mengalami pertumbuhan sebesar 0,92 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 14,28 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, komponen ekspor luar negeri mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 61,29 persen.

“Ekonomi NTB tanpa tambang bijih logam pada triwulan I-2022, tumbuh 5,15 persen (y-on-y), dan turun 1,04 persen (q-to-q),” sebut Wahyudin, Senin (9/5).

Dijelaskannya, perekonomian NTB berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan I-2022 mencapai Rp 36,64 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp24,43 triliun.  Ekonomi NTB pada triwulan I-2022 terhadap triwulan I-2021 mengalami pertumbuhan sebesar 7,76 persen (y-on-y). Dari sisi produksi, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 22,29 persen. Dari sisi pengeluaran, komponen ekspor luar negeri mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 187,28 persen.

BACA JUGA :  Insentif Pajak UMKM Diperpanjang Hingga Desember

Dari sisi produksi, lanjut Wahyudin, sektor lapangan usaha penyedia akomodasi dan makan minum menjadi penopang terbesar perekonomian NTB, dengan kontribusi sebesar 22,29 persen terhadap PDRB NTB di triwulan 1-2022 terhadap triwulan 1-2021 (y-on-y). Kemudian diikuti sektor pertambangan dan penggalian sebesar 19,18 persen. Menyusul sektor transportasi dan pergudangan sebesar 15,36 persen. Sedangkan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi pada triwulan 1- 2022 (y-on-y) hanya mencapai 4,65 persen.

Dari sisi pengeluaran, komponen ekspor luar negeri menjadi penopang tertinggi ekonomi NTB sepanjang tahun 2021, dengan kontribusi sebesar 187,28 persen, diikuti komponen pengeluaran konsumsi lembaga non profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) 9,16 persen dan komponen konsumsi rumah tangga (PKRT) 4,06 persen.

Sementara itu, komponen impor luar negeri yang merupakan pengurangan dalam PDRB mengalami kontraksi sebesar 8,47 persen. Jika diamati struktur PDRN NTB berdasarkan pengeluaran atas dasar harga berlaku triwulan 1-2022, kontribusi semua komponen tersebut tidak mengalami perubahan yang signifikan. Di mana perekonomian NTB masih didominasi oleh komponen PK-RT sebesar 60,51 persen, komponen PMTB sebesar 35,73 persen. Berikutnya komponen ekspor luar negeri sebesar 20,73 persen dan komponen PKP sebesar 13,53 persen. Sedangkan komponen PK-LNPRT kontribusinya hanya 1,62 persen, diikuiti komponen impor luar negeri memiliki share sebesar 1,94 persen.

BACA JUGA :  Pabrik Pakan Ternak Belum Miliki Izin Edar

Sementara itu, pada triwulan 1- 2022 terhadap triwulan sebelumnya mengalami pertumbuhan sebesar 0,92 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, kontribusi sektor lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan masih mendominasi dengan besaran mencapai  14,28 persen, disusul komponen transportasi dan pergudangan sebesar 8 persen. Disisi lain, lapangan usaha yang mengalami kontraksi terdalam adalah sektor kontruksi, yakni sebesar 19,44 persen.

“Termasuk juga industri pengolahan kontraksinya sebesar 16,89 persen, sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 12,20 persen,” kata Wahyudin. (cr-rat)