Tanggul Pantai Telindung Dianggap Tidak Layak

TANGGUL: Tampak bangunan tanggul penahan ombak di pesisir pantai Telindung, Desa Anggareksa, Kecamatan Pringgabaya, Lotim yang telah rampung, namun ternyata masih menyisakan berbagai persoalan (JALAL/RADAR LOMBOK)

SELONG—Warga Desa Anggaraksa, Kecamatan Pringgabaya, Lotim menganggap pembangunan tanggul penahan abrasi di pesisir pantai Telindung tidak layak. Program yang dianggarkan dari dana APBN sekitar Rp. 1,6 miliar, dengan panjang 200 meter, dan ketinggian sekitar 2 meter lebih itu meski telah rampung, namun dianggap warga tidak layak.

“Kita tidak tahu apakah sudah selesai atau belum pengerjaannya, tapi nyatanya sudah tidak lagi ada aktivitas sejak beberapa minggu lalu,” kata Rudi, salah satu warga setempat, saat ditemui Radar Lombok, Kamis kemarin (10/11).

Tanggul yang dibangun dengan sistem batu lepas yang mulai dikerjakan sekitar Juni 2016 lalu itu dikatakan sejak bulan lalu sudah tidak ada lagi aktivitas pengerjaan. “Kami tidak yakin jika bangunan dengan menaruh dan menyusun batu seperti ini akan kuat bertahan. Mestinya diberonjong pakai kawat atau di beton, baru bisa kuat. Dan saya tidak yakin jika biaya habis Rp. 1,6 miliar dengan hasil yang hanya seperti ini,” kritiknya, menyangsikan pengerjaan proyek tersebut.

Rudi menambahkan, sebelumnya pengerjaan dilaksanakan dengan ketinggian kurang dari dua meter. Namun setelah ditegur pemborong, kemudian baru menambah tingginya. “Sebenarnya ketinggian bangunan ini masih kurang tinggi, karena tetap ombak masih menghantam lahan warga,” kata Katua BPD Anggareksa, Andi Odang menambahkan.

Ia membenarkan bahwa pemborong awalnya membangun dengan ketinggian kurang dari dua meter, namun setelah ditegur baru kemudian tingginya ditambah hingga mencapai dua meter lebih. Disamping itu, masyarakat setempat juga mengeluhkan pemborong (CV LE) yang mengerjakan proyek ini tidak mempekerjakan masyarakat setempat, dengan alasan dikerjakan oleh pekerja yang telah memiliki ketrampilan.

Padahal buruh kasar yang dipekerjakan perusahaan tersebut menurut mereka, adalah buruh kasar biasa. Sehingga hal ini kemudian memicu kecemburuan masyarakat, yang sama sekali tidak dilibatkan dalam pengerjaan tanggul ini.

Berharap kedepan jika proyek ini kembali mendapatkan anggaran, agar lebih baik lagi, dan melibatkan masyarakat setempat guna menghindari kecemburuan sosial. Lantaran pengerjaan proyek ini, aparat desa setempat kemudian mendapat cibiran masyarakat, karena diduga ada “main” dengan pemborong. (lal)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid