Tanggap Covid-19, Ini Imbauan MUI dan Tokoh NTB Terkait Idul Fitri 1441 Hijriah

FKUB dan Gerakan Pemuda Ansor Bima Serukan Salat Ied di Rumah

TOKOH NTB: Dari kiri, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi NTB Prof. H. Saiful Muslim, M.M, Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) NTB Prof. Dr. TGH. Masnun Tahir, M.Ag, Budayawan Lombok, HL. Muhammad Putria, M.Pd, dan Kabid Humas Polda NTB, Kombes Pol. Artanto, S.I.K., M.Si. (ilustrasi for radarlombok.co.id)

MATARAM—Setelah beberapa waktu lalu pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) tetap mengalami peningkatan, maka guna memutus rantai penyebaran Covid-19, berbagai kalangan di NTB menegaskan agar masyarakat NTB tidak menggelar pelaksanaan Salat Idul Fitri 1441 H (Hijriyah) seperti tahun-tahun sebelumnya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi NTB Prof. H. Saiful Muslim, M.M. menegaskan, agar pelaksanaan Shalat Hari Raya Idul Fitri tidak digelar di masjid, mushalla maupun di lapangan.

“Mohon dengan hormat kepada seluruh umat Islam Nusa Tenggara Barat, untuk kita bersama-sama tidak melaksanakan Shalat Idul Fitri di masjid, di mushalla atau di lapangan, tetapi kita laksanakan Shalat Idul Fitri tahun ini di rumah kita masing-masing bersama keluarga,” tegasnya Kamis (21/5/20200).

Sejalan dengan itu, Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) NTB Prof. Dr. TGH. Masnun Tahir, M.Ag., juga menganjurkan hal yang sama dengan Ketua MUI NTB.

“Terkait dengan pelaksanaan Idul Fitri tahun 1441 Hijriyah, kami mengajak kepada segenap kaum muslimin untuk melaksanakan takbiran dan Shalat Idul Fitri di rumah, sesuai dengan anjuran ataupun imbauan dari Bapak Gubernur, Bapak Bupati/Walikota, dan Aparatur Pemerintah yang lainnya dalam suasana kekeluargaan dan suasana damai dengan persahabatan,” ujarnya.

Menurutnya, hal itu dipandang perlu dalam rangka menghindari penyebaran Covid-19 yang semakin memprihatinkan. Ketua PW organisasi keagamaan terbesar di Indonesia bahkan di dunia itu menegaskan, agar segenap masyarakat NTB khususnya warga Nahdliyin, untuk mengikuti protokol dan arahan dari pemerintah maupun ulama dan mengajak untuk melaksanakan Idul Fitri di rumah.

“Itu tidak mengurangi kekhusyu’an dan kebahagiaan kita bersama keluarga. Mudah-mudahan amal ibadah puasa kita dan Idul Fitri kita diterima oleh Allah subhânahu wa ta’ala,” ajaknya sembari menutup dengan kalimat penutup ala NU “Wallâhulmuwaffiq ilâ aqwâmiththârieq,” ucapnya dan dilanjutkan dengan salam.

Sementara itu, tokoh adat dan budayawan Lombok, HL. Muhammad Putria, M.Pd. yang dikenal sebagai Datu Siledendeng, juga mendukung anjuran pemerintah dalam pelaksanaan Idul Fitri 1441 H/2020 M.

“Kepada seluruh masyarakat Gumi Sasak Lombok, pelungguh-deweq (bahasa Sasak yang berati “anda-saya”, red) wajib untuk pertama patuh terhadap seluruh keputusan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, baik Presiden, Gubernur maupun Bupati/Walikota,” tegasnya.

Selanjutnya, angggota Majelis Agung Raja Sultan sekaligus Dewan Pembina Forum Silaturrahmi Keraton Nusantara itu juga mengatakan, guna memutus penyebaran Covid-19, masyarakat juga harus melaksanakan semua protokol kesehatan, yang telah ditetapkan Satuan Tugas (Satgas) Covid-19.

“Secara budaya pelungguh-deweq harus tetap hindari tempat-tempat keramaian, besoq bersih ime-nae (cuci bersih tangan dan kaki, red), kalau kita berpergian selalu menggunakan masker dan menjaga jarak, menjaga keselamatan diri dan keselamatan orang lain,” tutupnya.

Sementara Kapolda NTB Irjen Pol. M. Iqbal melalui Kabid Humas Kombes Pol. Artanto, S.I.K., M.Si, yang dikonfirmasi terpisah menyampaikan, pencegahan pandemi Covid-19 tidak akan pernah berhasil apabila tidak didukung penuh oleh segenap elemen.

“Apapun upaya yang dilakukan pemerintah tidak akan berpengaruh signifikan, tanpa dukungan seluruh unsur yang ada. Bahkan, ketaatan masyarakat mengikuti kebijakan dan atau anjuran pemerintah, itu yang paling penting dalam memutus rantai penyebaran Covid-19,” ujarnya.

“Karena itu, mari kita ikuti apa yang telah dianjurkan oleh MUI, NU, dan tokoh masyarakat kita di NTB ini. Semoga wabah ini segera dapat tertangani, dan aktifitas kehidupan kita kembali normal seperti sedia kala. Amiiin,” ucap Kombes Artanto.

TOKOH BIMA: Ketua FKUB Kabupaten Bima, Drs H Suadin Abdullah M.Pd, dan Ketua Gerakan Pemuda Anshor Kabupaten Bima, Muhamad Kurnia. (ist for radarlombok.co.id)

Terkait pelaksanaan Salat Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijiriyah, Ketua FKUB Kabupaten Bima, Drs H Suadin Abdullah M.Pd, dan Ketua Gerakan Pemuda Anshor Kabupaten Bima, Muhamad Kurnia, juga menghimbau masyarakat Kabupaten Bima untuk tetap mengacu dan mematuhi Keputusan Gubernur NTB, Dr. Zulkiefliemansyah, dengan melaksanakan Takbir melalui Media TV, Radio, Media Sosial dan media digital lainnya pada hari Kamis tanggal 21 Mei 2020.

Keputusan Gubernur NTB, Nomor 003.2-504 Tahun 2020, tentang penetepan Idul Fitri 1 Syawal 144 1 H, di tengah Pandemi Wabah Covid-19. Dan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid -19 di wilayah Kabupaten Bima khususnya, dan Provinsi NTB umumnya, diperlukan kebersamaan, kesatuan tekad dari seluruh masyarakat dan Pemerintah Daerah, untuk mengurangi potensi penularan antar orang.

Kedua tokoh tersebut juga menghimbau segenap masyarakat, tetap bersabar menghadapi ujian Pandemi Covid-19. Tetap mematuhi protokol kesehatan dalam penanganan Virus Corona seperti wajib memakai masker, menyediakan sarana cuci tangan dan sabun serta selalu menjaga Jarak.

Ramadan yang berlangsung dalam bayang-bayang penyebaran virus  Covid-19, telah membatasi  kita untuk melaksanakan ibadah secara berjamaah, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Namun hal tersebut tidak menyurutkan kita, mengasah keimanan untuk meningkatkan intensitas ibadah, meningkatkan kepedulian dengan berinfak dan bersedekah. Serta memelihara diri dari sikap-sikap yang kurang terpuji.

Semoga semangat dan jiwa Ramadhan seperti itu tetap terpelihara, peningkatan kualitas ibadah tetap terjaga dengan konsisten, perhatian terhadap sesama tetap terpelihara dengan baik. Dan kita mampu mengendalikan diri dari hal-hal yang kurang baik.

“Diharapkan masyarakat Kabupaten Bima, mampu menghayati makna puasa dan memiliki semangat penilaian diri yang kuat sepanjang hidupnya,’’ ujarnya. (der)