Tamu Sepi, Hotel Mengandalkan Penjualan Paket Makanan

PROMO RAMADAN : Chef Hotel Holiday Resort siap menyajikan menu andalan berbuka puasa bagi tamu selama puasa Ramadan. (IST/ RADAR LOMBOK)

MATARAM – Bisnis hotel di Kota Mataram selama puasa Ramadan mengandalkan paket Food and Beverage (F&B) atau makanan dan minuman. Kondisi ini untuk menopang penjualan kamar hotel yang menurun. Mengingat kondisi ini biasa terjadi setiap tahunnya tapi paling parah karena dampak pandemi Covid-19 .

Ketua Asosiasi Hotel Mataram (AHM) Yono Sulistiyo mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan beberapa paket-paket pada Ramadan tahun ini, yakni paket buka bersama, karena biasanya permintaan untuk buka bersama akan meningkatk. Upaya ini dilakukan untuk mendongkrak penurunan kamar.

“Harapannya F&B ini bisa menopang bisnis perhotelan selama Ramadan, meskipun animo masyarakat masih kecil,” kata Yono Sulistiyo, Rabu (21/4).

Saat ini sebagain besar hotel di Kota Mataram berkreasi dengan menjual paket buka puasa dengan harga yang terjangkau. Namun masih belum begitu banyak yang berkunjung untuk diawal-awal bulan puasa ini. Jika di bandingkan dengan kondisi normal, antusias orang melakukan buka bersama di hotel cukup banyak.

BACA JUGA :  Terpuruk Corona, 50 Persen Pengusaha Menutup Usaha

“Animo agak kurang sih atau karena masih minggu awal. Sekarang kurang dari 50 persen dari kapasitas normal,” tuturnya.

Selama pandemi Covid-19 untuk keterisian satu tempat dikurangi, baik hotel maupun restoran. Hal tersebut sebagai salah satu upaya untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19  semakin lebih meluas. Sejak tahun 2020 lalu sudah ada pembatasan sosial, sehingga banyak hotel tidak menyediakan buka bersama. Pemerintah melarang untuk masyarakat mengadakan buka bersama di beberapa tempat. Seperti restoran, lesehan dan beberapa tempat makan lainnya. Kendati demikian dari hotel belum menerima Surat Ederan (SE) terkait dengan larangan tersebut.

“Saya tidak tau ada larangan bukber, edaran resminya belum kami terima juga,” ungkapnya.

Apalagi saat ini amino masyarakat masih kecil dan buka bersama juga dilarang, tetapi diharapkan F&B ini bisa menjadi penopang pemasukan hotel pada Ramadan tahun ini. Kalau dilarang bisa memengaruhi pemasukan untuk F&B, harapannya seperti yang dulu bukber denga maksimal 50 persen dari kapasitas dan menerapkan prokes Covid-19.

BACA JUGA :  YPK NTB Imbau Konsumen Tidak Tergiur Pinjaman Online

Sementara itu, Ketua Kehormatan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB I Gusti Lanang Patra mengatakan, saat ini memang banyak hotel yang menyediakan paket berbuka puasa untuk bisa bertahan bisnisnya. Meskipun tidak besar dalam menopang penurunan permintaan kamar hotel di Ramadan.

“Tidak terlalu menopang buat hotel. Karena kita tahu data beli masyarakat berkurang. Apalagi bisnis kuliner juga banyak yang tutup,” ujarnya.

Diakuinya memang berat untuk hotel dengan kondisi tersebut. Apalagi direstoran belum bisa banyak di harapkan. Jika dibandingkan dengan tahun lalu jauh berbeda, karena kondisi lebih banyak permintaan untuk buka bersama di hotel.

“Tahun sebelum covid itu banyak yang buka bersama di hotel dari kantor-kantor atau perusahaan-perusahaan. Cukup membantulah saat itu,” ungkapnya. (dev)