Tambatan Perahu Gili Lampu Dinilai Mubazir

Tambatan Perahu Gili Lampu Dinilai Mubazir
MUBAZIR: Tambatan Perahu yang ada di Pantai Gili Lampu, keberadaanya jarang difungsikan sejak selesai dibangun tahun 2014 lalu, sehingga dinilai mibazir oleh masyarakat sekitar. (M. GAZALI/RADAR LOMBOK)

SELONG—Tambatan perahu yang telah dibangun di objek wisata Gili Lampu, Sambelia, dinilai mubazir. Hal itu karena keberadaan tambatan perahu tersebut tidak pernah dimanfaatkan oleh warga.

Meski telah lama dibangun, namun sebagian fisik tambatan perahu itu juga banyak yang belum selesai dikerjakan. Sehingga terkesan dibangun seadanya. Bahkan juga kondisinya terlihat tidak pernah terurus.

“Hanya dijadikan untuk tempat mengikat perahu dan sampan saja. Jarang dipakai,” kata salah seorang warga sekitar, yang setiap harinya berada di pantai Gili Lampu, namun enggan namanya dikorankan, Selasa kemarin (6/3).

Dia sendiri sama sekali tidak mengetahui apa tujuan dibangunnya tambatan perahu di lokasi itu. Jika tujuannya untuk menunjang fasilitas bagi para wisatawan yang akan mengunjungi sejumlah Gili di sekitar pantai itu. Tapi  nyatanya  jarang difungsikan. “Kalau dibuat untuk nelayan. Tapi nelayan jarang memarkir perahu di sini,” ujarnya bingung.

Terpisah, Sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) Lotim, Idham ketika dikonfirmasi terkait keberadaan tambatan perahu tersebut, pihaknya mengakui jika itu telah dikerjakan oleh Dishub.

Pengerjaan sendiri telah dilakukan pada tahun 2014 lalu. Namun secara rinci dia juga tidak mengetahui berapa total anggaran pengerjaanya, mengingat pengerjaannya dilakukan sebelum dia menjabat. “Yang jelas pengerjaanya itu menggunakan DAK. Tapi anggarannya saya tidak tau,” jawab Idham.

Dikatakan, keberadaan tambatan perahu di wilayah itu, mengingat lokasi tersebut merupakan kawasan objek wisata. Sehingga keberadaanya memang dihajatkan untuk menunjang fasilitas para wisatawan yang henda berkunjung. Terutama bagi para wisatawan yang ingin menyeberang ke Gili Kondo dan sekitarnya.

“Itu fasilitas penghubung ke Gili Kondo. Yang jelas pembangunanya itu untuk wisata, bukan untuk nelayan. Soalnya lokasi disitu memang bukan tempat nelayan,” jelas dia.

Sedangkan terkait tiga tambatan perahu lainnya yang dikerjakan di tahun 2017 lalu, dipastikan semuan telah selesai dikerjakan. Dari tiga tambatan perahu itu, dua diantaranya berada di wilayah Sambelia, sedangkan satu lagi berada di Pare Mas, Jerowaru. “Tiga tambatan perahu yang kita kerjakan di 2017 lalu semua sudah rampung. Sementara untuk 2018 ini, tidak ada pengerjaanya,” pungkas dia. (lie)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut