Tambang Galian C Resahkan Warga Anggaraksa

TAMBANG: Penambangan galian C yang dilakukan di Desa Anggareksa kini mulai meresahkan masyarakat, karena dianggap tidak sesuai komitmen JALAL/RADAR LOMBOK
TAMBANG: Penambangan galian C yang dilakukan di Desa Anggareksa kini mulai meresahkan masyarakat, karena dianggap tidak sesuai komitmen (JALAL/RADAR LOMBOK)

SELONG—Keberadaan tambang galian C  di wilayah Desa Anggaraksa, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lotim, kini mulai meresahkan masyarakat setempat. Hal tersebut dipicu perusahaan yang dianggap tidak komit dengan persetujuan, menyangkut tanah untuk reklamasi yang kini dijual perusahaan.

“Janjinya perusahaan penambang, bahwa tanah yang telah digali dari permukaan bukit tidak akan dijual, melainkan untuk persiapan pelaksanaan reklamasi nantinya. Akan tetapi kenyataanya malah tanah tersebut kini dijual, dan ini yang memicu kekhawatiran kami,” kata salah satu tokoh masyarakat setempat, Andi Odang, yang sekaligus Ketua BPD Anggaraksa, Kamis (10/11).

Keresahan masyarakat dikatakan semakin dipicu atas keberadaan dua perusahaan tambang lainnya yang berada di sebelah perusahaan penambang pertama. Malah keberadaan perusahaan penambang yang belakangan keberadaannya ini justeru lebih membuat masyarakat terganggu, baik polusi akibat lalu lalang kendaraan besar pengangkut material tanah yang dijual keluar, maupun rusaknya infrastruktur jalan, bahkan jembatan. “Sementara konstribusinya bagi masyarakat atau desa sama sekali tidak ada,” geramnya.

Yang menjadi pertanyaan besar masyarakat, karena surat izin operasional perusahaan belum ada. “Kami mempertanyakan surat izin operasional yang sampai dengan saat ini belum ada,” imbuhnya.

Pihak perusahaan dikatakan hanya meminta surat rekomendasi, dan mayarakat masih belum menerima, namun justeru dikatakan setuju semua. Inilah yang dikatakan kemudian semakin memicu berbagai spekulasi pada masyarakat yang kemudian saling mencurigai.

Sementara itu, salah satu tokoh perempuan, Mukminah menambahkan bahwa informasi yang berkembang di masyarakat tentang rencana lokasi tambang tersebut akan dijadikan perusahaan pengolah aspal panas, dikatakan semakin memicu keresahan massyarakat. “Ini yang semakin memicu kekhawatiran masyarakat tentang dampaknya nantinya, baik udara mapun suara pabrik dan sebagainya,” jelasnya.

Bahwa masyarakat Desa Anggaraksa menurutnya, sampai dengan saat ini masih tidak setuju atas keberadaan perusahaan penambangan dan pengolahan aspal panas ini. Terlebih dengan kondisi kekeringan yang kini dialami masyarakat, kemudian dikait-kaitkan dengan keberadaan perusahaan tambang ini.

Menurutnya, keberadaan perusahaan yang menggali dengan kedalaman 10 meter dari permukaan tanah datar, dianggap sebagai pemicu keringnya sumur-sumur warga, sehingga mengakibatkan warga menjadi kesulitaan air bersih.

Meski sebenarnya kekeringan tidak saja dialami masyarakat setempat, akan tetapi juga masyarakat desa-desa lainnya di Lotim. Namun masyarakat Desa Anggaraksa, dan beberapa desa sekitar kemudian menganggap hal tersebut dipicu oleh keberadaan tambang ini. Terlebih tidak jauh dari lokasi galian terdapat mata air Timba Malaka. Dimana mata air yang berada di antara bebukitan dekat penambangan ini tahun-tahun sebelumnya tidak pernah kering meski saat musim kemarau. Namun kini mongering, dan hal ini dianggap masyarakat disebabkan oleh aktivitas penambangan yang dilakukan perusahaan penambang ini. (lal)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid