Taman Langit hingga ‘Sidratul Muntaha’, Wajah Bengkaung Hari Ini

WISATA : Patung Garuda yang menjadi salah satu ikon wisata Desa Bengkaung Kecamatan Batulayar.(Rasinah Abdul Igit/Radar Lombok)

Lama menyandang status terpencil, Desa Bengkaung Kecamatan Batulayar kini berubah menjadi tempat wisata yang dikunjungi ribuan orang tiap pekan. Dari jualan panorama alam di atas ketinggian, hingga usaha budidaya madu Trigona.

Sejumlah wisatawan lokal sedang berswafoto tepat di bawah replika monumen nasional (Monas) yang berdiri kokoh di atas bangunan restoran yang belum jadi. Di samping Monas, terdapat gapura khas Bali dan patung naga. Dari dua spot wisata ini, pengunjung bisa menikmati pemandangan Kota Mataram dan Lombok Barat dari ketinggian. Jika malam hari, pemandangan makin indah dengan kilau lampu kota di kejauhan. ” Ayo foto saya dulu. Biar dikira sedang di Jakarta, ” kata seorang pengunjung kepada temannya. Keduanya dari Pancor Lombok Timur.

Lokasi bangunan paling tinggi di antara tempat wisata lainnya.  Sekitar 50 meter di bawah, ada tempat nongkrong yang diberi nama “Taman Langit”. ” Jadi kalau itu Taman Langit, maka ini namanya Taman Sidratul Muntaha,” kata pemilik Bangunan, Multazam, berkelakar.m

Multazam adalah salah satu tokoh di balik kian menterengnya nama Bengkaung menjadi kawasan wisata. Anggota DPRD NTB Dapil Lobar-KLU ini sekarang sedang mempersiapkan tempat wisata baru, Taman Sidratul Muntaha. Diperkirakan pertengahan tahun ini bangunan sudah rampung. Nanti tempat ini akan menyediakan tempat nongkrong dengan menu kuliner nusantara dan mancanegara. Ia juga akan melengkapi tempatnya dengan teropong bintang. ” Jadi pengunjung nanti bisa melihat bintang lewat teropong dari sini,” terangnya kepada Radar Lombok saat dikunjungi beberapa waktu lalu.

Tempat wisata ini bisa dicapai lewat Desa Sandik, atau bisa juga lewat samping kantor Camat Batulayar. Beberapa tahun lalu tempat ini masih berstatus terpencil. Program jalan aspal mengubahnya. Ada sekitar 3 kilometer jalan yang diaspal menggunakan APBD Lobar senilai lebih dari Rp 3 miliar. ” Diaspal sampai atas. Itu waktu saya masih jadi dewan Lobar,” ungkap politisi Nasdem ini.

Kondisi jalan yang mulus membuat kegiatan ekonomi di kiri dan kanan jalan tumbuh. Dulu, mengunjungi Bengkaung butuh keberanian karena berada di gunung dan jalan yang jelek. Kini sebaliknya. Jika akhir pekan, orang-orang kota datang untuk menikmati makanan dan pemandangan indah sekaligus.

Jualan Bengkaung tidak hanya panorama alam. Desa Bengkaung kini menjadi pusat budidaya madu Trigona. Madu berkualitas dan dipakai untuk menyembuhkan berbagai penyakit ini oleh warga setempat disebut madu Nyanteng. Ada beberapa kelompok warga yang oleh pemerintah desa dibina menjadi pembudidaya madu Trigona. Hasilnya menggiurkan. Kini madu Trigona produksi Bengkaung sudah menembus pasar nasional. ” Banyak wisatawan yang ingin melihat langsung proses budidaya madu Trigona. Mereka datang lalu kita arahkan ke sentra budidaya kita yang kebetulan dibiayai oleh BUMDes, ” ungkap Imam, pembudidaya madu Trigona.

Beragam menu wisata ini membuat pemerintah desa mesti cekatan melakukan pengemasan dan promosi. Ada usul agar wisata Desa Bengkaung dikemas dengan sistem satu pintu. Modelnya, pengunjung membeli tiket atau kipon masuk di loket yang disiapkan di areal bawah. Nanti petugas wisata menjemput wisatawan dan membawa mereka naik ke tempat atau spot yang telah mereka tentukan di menu tiket. Pemerintah desa bisa menyiapkan areal parkir yang luas di bawah. Dengan demikian tidak terjadi penumpukan kendaraan di atas yang dapat membahayakan keselamatan. ” Ini masih kita matangkan. Mungkin kedepan akan seperti itu, ” ungkap Multazam.(git)