Tak Terima Anak Perempuannya Disetubuhi, Orang Tua Laporkan Pacar

MAA, pria 22 tahun diamankan di rumah Kepala Lingkungan Dasan Agung Pelita, Kota Mataram. (IST FOR RADAR LOMBOK)

MATARAM–Unit PPA Sat Reskrim Polresta Mataram menangkap MAA, pria 22 tahun, asal Dasan Agung, Mataram pada Kamis malam (20/6/2024) sekitar pukul 21.30 WITA.

Kasat Reskrim Polresta Mataram Kompol I Made Yogi Purusa Utama mengatakan, penangkapan berdasarkan Laporan Polisi Nomor LP/B/164/VI/2024/SPKT/POLRESTA MATARAM/POLDA NTB, tanggal 20 Juni 2024 atas nama korban berinisial BP, perempuan 16 tahun asal Ampenan, Mataram

“Tindakan asusila tersebut sudah terjadi sejak sekitar April 2024 dengan TKP di sebuah penginapan wilayah Cakranegara, Mataram,” ungkap Kompol Yogi.

Awalnya Senin (17/6/2024) sekitar pukul 05.00 WITA, pelapor selaku bapak kandung korban, baru selesai salat subuh.

Kemudian pelapor dipanggil anaknya yang bernama LR, kakak korban dan memperlihatkan sebuah foto yang bergerak.

“Di mana foto tersebut berisikan gambar anak korban bersama dengan terduga pelaku sedang berpelukan dan ada beberapa gambar yang menunjukkan perilaku asusila,” ungkapnya

Setelah mengetahui hal tersebut pelapor menanyakan kepada korban apa maksud dari foto tersebut dan menjelaskan bahwa korban telah berpacaran dengan terduga pelaku sejak kelas 3 SMP dan sering kali melakukan hubungan persetubuhan.

“Hal itu dilakukan karena korban diancam terduga pelaku kalau tidak memenuhi keinginannya untuk berhubungan badan maka akan mengirim foto korban yang menggunakan seragam sekolah melakukan mesum bersama terduga pelaku,” terangnya

Atas dasar tersebut Unit PPA dan Tim Resmob Polresta Mataram mengamankan terduga pelaku di rumah Kepala Lingkungan Dasan Agung Pelita beserta barang bukti ke Polresta Mataram guna proses hukum dan penyidikan lebih lanjut.

Adapun barang bukti 1 unit HP merek Oppo warna Silver, 1 lembar baju lengan panjang warna hijau, dan 1 lembar baju kaos lengan pendek terdapat tulisan Embrace the Madness.

Kini terduga pelaku atas perbuatannya diancam Pasal 81 ayat (1) junto Pasal 76D UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak junto UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2002 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang, dengan ancaman hukuman penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar. (RL)

Komentar Anda