Tak Dilibatkan Bekerja, Puluhan Warga Demo SPBU

Puluhan Warga Demo SPBU
DEMO: Masyarakat lingkar SPBU saat menggelar aksi demonstrasi menuntut agar dilibatkan bekerja, Kamis kemarin (8/3). (M Haeruddin/Radar Lombok)

PRAYA – Puluhan warga lingkar Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Lingkungan Tengari Kelurahan Praya berunjuk rasa menolak SPBU di tempat mereka.

Mereka merasa sangat kecewa terhadap pihak menejemen SPBU, karena selain tidak ada kontribusi untuk pembangunan pemerintah kelurahan. Namun keberadaan SPBU itu juga dalam pengoperasianya tidak memprioritaskan tenaga kerja dari warga setempat. “Sebenarnya kami tidak menolak adanya SPBU ini. Namun seharusnya penyerapan tenaga kerja harus merupakan warga sekitar juga, tidak tenaga hanya dari luar saja,” ungkap warga setempat, Alim saat demo Kamis kemarin (8/3).

Disampaikan juga bahwa dalam pendirian tempat usaha seperti SPBU, maka  harus ada kajian yang mendalam, terutama terkait dampak terhadap warga. Serta apa kontribuasi buat warga setempat. Karena  mereka tidak ingin warga hanya sebagai penonton saja. Mereka seharusnya dimanfaatkan oleh pihak perusahaan untuk bekerja karena bisa mengurangi penangguran di wilayah itu. “Kami juga melihat dari manajemen SPBU tidak transparan dalam proses perekrutan tenaga kerja, terutama tenaga operator karena kebanyakan tenaga kerjanya dari luar wilayah ini. Sehingga terkesan adanya permainan dari oknum-oknum tertentu,” tukasnya di hadapan semua warga serta aparat kepolisian.

Hal yang sama disampaikan warga lainya Iwan Wijaya, sebelum SPBU diberikan izin untuk dibangun di lokasi,  sudah ada kesepakatan antara warga dengan pihak managemen SPBU agar memproritaskan tenaga kerja dari warga setempat. Malah saat itu, pihak manajemen sudah berjanji untuk memprioritaskan warga setempat. “Tapi kenyataan malah sebaliknya, tidak ada  yang dapat terpenuhi. Sehingga wajar kalau masyarakat sekarang menuntut kesepakatan tersebut. Kami tidak akan mentoleransi lagi. Kalau tuntutan masyarakat agar dalam waktu dekat tidak dapat dipenuhi, masyarakat akan menutup secara paksa SPBU tersebut dan tidak membiarkan beroperasi lagi,” ancamnya.

Karena itu, warga berharap agar pihak SPBU memperhatikan warga setempat.  Warga hanya ingin bekerja dan terkait skiil pihaknya yakin warga setempat mampu atau siap untuk bekerja di sana. Bila memang tidak paham, pihak perusahaan bisa memberikan pelatihan untuk mereka terlebih dahulu. “Kalau menurut saya tidak ada yang sulit bekerja di SPBU. Warga hanya melihat sebentar dan belajar saya yakin warga langsung bisa,” katanya.

Demo dilakukan mulai sekitar pukul 09.00 Wita itu sempat memanas. Bahkan, saat itu sempat melakukan pemblokiran kepada pertamina. Beruntung, pihak kepolisian yang sejak awal telah berjaga-jaga di lokasi cepat meredam situasi. Untuk itu, kedua belah pihak kemudian dilakukan mediasi untuk mencarikan solusinya.

Menanggapi tuntutan warga, dari perwakilan petugas SPBU, Nengah Wirye yang menemuai aksi demo menyatakan, bahwa pihaknya berjanji apa yang menjadi tuntutan masyarakat akan disampaikan kepada pemilik pertamina. Pihaknya tidak bisa memberikan kepastian dalam hal ini. Karena dirinya hanya sebagai pegawai yang dipercaya oleh pemilik pertamina dan diperbantukan untuk sementara waktu mengelola pertamina tersebut. Sehingga saat ini tidak bisa memenuhi permintaan masyarakat. “Kami berjanji akan memutuskan solusi permasalahan tersebut sampai tenggang waktu paling lambat tanggal 23 Maret mendatang,” jelasnya.

Setelah mendengar keputusan dari pihak pertamina, akhirnya sedikit membuat warga lega. Warga kemudian langsung berhamburan pulang ke kampungnya masing-masing dalam keadaan aman dan lancar. (met)