Tahun Ini Harga Rumah Subsidi Naik Jadi Rp 174 Juta

HARGA NAIK : Pembangunan unit rumah subsidi di kawasan perbatasan Lombok Barat – Kota Mataram dan tahun 2022 ini terjadi kenaikan harga jual. (DEVI HANDAYANI / RADAR LOMBOK)

MATARAM – Pemerintah Pusat menaikkan harga penjualan rumah subsidi pada tahun 2022 ini sebesar 4 persen dari harga tahun sebelumnya. Kenaikan harga penjualan rumah subsidi dari Rp 168 juta naik menjadi Rp 174 juta atau naik di angka 4 persen dari harga tahun 2021.

“Kenaikan terendah di NTB sebesar 4 persen jika dibandingkan dengan daerah lain. Karena kemarin kita sempat naik tertinggi dibanding Jakarta, dari Rp 168 juta jadi Rp 174 jutaan,” kata Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) NTB H Heri Susanto, Ahad (2/1).

Heri menyampaikan bahwa kenaikan harga jual rumah subsidi sendiri akan mulai disosialisasikan kepada masyarakat di Januari ini dan sudah jalan. Meskipun mengalami kenaikkan, pemerintah secara nasional menambah kuota untuk rumah subsidi, bahkan tidak ada kekurangan.

“Kisaran mungkin di NTB 5-6 ribu unit. Artinya masih cukup tersedia. Dengan kenaikan harga masih sangat bisa diakses oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Angsuran perbulan mungkin di sekitaran Rp1,1 juta atau Rp 1,2 juta. Uang muka masih tidak berubah di angka 1 persenan,” terangnya.

BACA JUGA :  PHK Masih Menjadi Ancaman Pekerja Hingga 2022

Dikatakan Heri, untuk pembangunan rumah subsidi di Kota Mataram belum Memungkinkan, karena belum ada lahan. Kalau pun ada, harga tanah tidak sebanding dengan harga jual rumah subsidi. Karena harga tanah di Kota Mataram sangat tinggi untuk kelas rumah subsidi. Sementara ini, lebih banyak di pinggiran kota, seperti perbatasan dengan Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur. Lantaran di daerah Mataram jika dilihat untuk perumahan itu sudah padat.

“Harapan saya Mataram kedepan RTLH saja lah. Karena kalau arahnya ke sawah itu saya pikir tidak pas juga. Kasihan pemilik sawah, lahannya sudah habis,” tuturnya.

BACA JUGA :  Jamkrida NTB Sebaiknya Dikonversi Jadi Syariah

Kendati demikian, masih banyak pengembang yang membangun rumah subsidi. Karena memang kebutuhan rumah subsidi di NTB cukup banyak dari masyarakat.

“Kalau tidak salah hitungan saya hampir 40 perumahan yang subsidi.

Kawasannya dari 40 perumahan itu 60 persennya masih di sekitaran seputaran Mataram, seputaran pinggir Mataram selebihnya terbagi-bagi,” ujarnya.

Sementara, kawasan Mandalika sudah mulai banyak yang menginisiasi membangun rumah, ada yang komersil dan subsidi. Tantangan di sana masih harga tanah, jika cocok maka bisa dibangun untuk komersil. Sedangkan, rumah subsidi ini adalah rumah orang yang banyak bekerjanya seputaran Mataram, sehingga kalau membuat di sana lebih ke arah investasi bukan untuk ditinggali.

“Kecuali nanti kalau sudah mulai masif, hotel-hotel sudah mulai banyak karyawan banyak rumah susbsidi saya pikir seiring sejalan waktu bisa bertumbuh di sana,” ujarnya. (dev)