Tahun 2018, NTB Targetkan 4 Juta Wisatawan

Rakor Dispar Provinsi dan Kabupaten

Tahun 2018, NTB Targetkan 4 Juta Wisatawan
KEK MANDALIKA: Salah satu destinasi wisata di NTB yang kedepan dapat menarik arus kunjungan wisatawan, yakni Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, yang kini masih dalam tahap pembangunan berbagai fasilitas oleh PT ITDC. (SIGIT SETYO/RADAR LOMBOK)

MATARAM—Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) NTB, HL Moh. Faozal, meyakini target angka kunjungan 4 juta wisatawan pada tahun 2018 mendatang, seperti tertuang dalam dokumen penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Provinsi NTB, akan tercapai.

“Keyakinan kami, setelah melihat tren kunjungan wisatawan ke NTB yang tahun 2017 ini ditargetkan sebanyak 3,5 juta. Ternyata hingga bulan Oktober ini telah mencapai angka 3,1 juta wisatawan. Artinya, dengan kerja keras kita bersama dengan para pelaku industri pariwisata, maka target 4 juta wisatawan pada tahun 2018 itu kami merasa optimis akan terwujud,” kata Faozal, di sela rapat koordinasi (Rakor) Dispar NTB dan Dispar Kabupaten/Kota, serta asosiasi/pengusaha wisata, Rabu (25/10).

BACA JUGA :  Lestarikan Budaya, Camat Jerowaru Gelar Festival Gangsing

Alasan lainnya sambung Faozal, okupansi 16 ribu room hotel rata-rata city hotel dan resort itu sudah mencapai 65 hingga 70 persen. Yang berarti rata-rata tingkat keterisian kamar sudah 100 persen pada periode tertentu.

“Demikian agenda pariwisata NTB tahun 2018 juga telah tersusun (kalender even), sehingga dapat menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk berkunjung. Termasuk even diluar daerah seperti Komodo Exercise 2018 (Mei) itu ada 5.000 orang. Kemudian IMF Bali juga dihadiri oleh ribuan peserta. Dari dua even diluar daerah itu saja, paling tidak akan ada 5000 orang yang akan berkunjung ke Lombok,” papar Faozal.

Terkait Rakor lanjutnya, selain membahas bagaimana kiat dan upaya menyukseskan NTB menuju 4 juta wisatawan tahun 2018. Pembahasan lainnya yakni soal tata kelola destinasi. “Kenapa ini jadi pointer pertama, karena itu yang jadi masalah kita. Kan banyak cerita dan kritik larinya ke destinasi, baik itu tentang sampah, pungutan, kesiapan keamanan, dan lainnya. Itu yang kita bahas tuntas,” bebernya.

Dalam tata kelola destinasi itu ada pengembangan kelembagaan, Pokdarwis diberikan berbagai fasilitas dan dilibatkan langsung dalam tata kelola destinasi. Demikian peran stakeholder, bagaimana guide, transportasi, dan lainnya. “Pra Rakor kita telah merumuskan siapa bekerja apa, dan semua sudah ada formulasinya. Tentu tidak selesai dalam satu hari. Tapi semua sudah kita rumuskan,” urai Faozal.

Berikutnya adalah calender of event, dimana Dispar NTB dalam Rakor sengaja mendatangkan Dinan Paris, yang kisah suksesnya dalam mengelola Jember Even Karnaval mulai dari lingkungan keluarga, hingga sukses seperti sekarang ini, tentu perlu didengar sebagai masukan.

“Alhamdulillah, empat event kita bisa masuk dalam 100 kalender event nasional, yakni Bau Nyale, Tambora, Moyo, dan Bulan Pesona Lombok Sumbawa. Terlepas dari kritik yang ada, tapi paling tidak kita sudah didukung pusat, dan berkewajiban menata event yang empat ini,” ulas Faozal.

BACA JUGA :  Menikmati Sunset di Pura Batu Bolong Kabupaten Lombok Barat

Selanjutnya strategi promosi, dan kemana berpromosi? “Di dalam daerah, promosi pariwisata NTB tentu masih menyasar kota-kota besar yang ada di Indonesia. Sedangkan untuk mancanegara, sasaran kita adalah Australia yang jadi sumber turis terbesar Bali dan Lombok. Kemudian Timur Tengah karena branding halal tourism, Asia (Korea), Cina, dan Malaysia yang sudah ada penerbangan langsung ke Lombok,” jelas Faozal.

Sementara Asisten II Setda NTB, Chaerul Mahsul, terkait target 4 juta wisatawan pihaknya mengaku optimistis akan tercapai. “Saya pikir optimistis kalau melihat persiapan. Target itu tidak terlalu fantastis, dan masih realistis. Apalagi beberapa tahun terakhir ini kita telah siapkan landasan-landasannya, event yang terjadwal, penataan destinasi, strategi promosi. Bahkan kita juga terbantu dengan promosi Vlog Presiden Jokowi yang viral. Jadi 4 juta wisatawan itu akan lebih,” ujarnya.

Saat ini sambung CM, sapaan akrabnya, ada gairah masyarakat untuk memunculkan pariwisata berbasis desa, yang ternyata itu menarik pasar (wisatawan). “Artinya, pasar yang terbuka ini harus dapat kita tangkap, dan harus difasilitasi oleh provinsi maupun kabupaten,” saran CM. (gt)