Table Top Asita NTB di Jatim Bukukan Transaksi 3,2 M

TRANSAKSI BISNIS: Para pelaku usaha wisata NTB ketika sedang transaksi bisnis dengan para pelaku usaha wisata Jatim, dalam kegiatan Table Top Gathering Pesona Lombok Sumbawa yang digelar Disbudpar NTB di Hotel Novotel Ngagel Surabaya, Sabtu (19/11). (SIGIT SETYO/RADAR LOMBOK)

SURABAYA—Direct Promotion Pesona Lombok Sumbawa, atau kegiatan promosi pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) NTB di Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur (Jatim), selama dua hari, 19 – 20 November 2016, diawali dengan even Table Top Gathering (pertemuan bisnis) antara pelaku usaha wisata NTB dengan para pelaku usaha wisata Jatim.

Yang membanggakan, meskipun kegiatan B to B (business to business) itu dilaksanakan hanya beberapa jam saja, yaitu sejak pukul 11.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB, ternyata berhasil membukukan transaksi senilai Rp 3,2 miliar.

“Industri (seller) dari NTB yang berangkat mengikuti kegiatan Table Top Gathering di Jatim ada sebanyak 25 pengusaha wisata, terdiri dari para pengusaha perhotelan, dan travel agent. Sementara untuk pengusaha wisata Jatim yang hadir sebanyak 65 buyer (pembeli),” kata Ketua DPD Asita NTB, Dewantoro Umbu Djoka, usai kegiatan Table Top Gathering yang berlangsung di Hotel Novotel Ngagel, Surabaya, Sabtu (19/11).

“Dengan rata-rata setiap seller berhasil menjual 4 paket grup, yang biasanya masing-masing paket grup terdiri dari rombongan tamu berjumlah 100 hingga 200 orang. Maka hingga akhir kegiatan berhasil dibukukan transaksi senilai Rp 3,2 miliar,” sambung Wanto, sapaan akrabnya.

Sebelumnya, dalam pembukaan Table Top Gathering Pesona Lombok Sumbawa, Ketua DPD Asita Jatim, Arifuddinsyah, menyampaikan ucapan terima kasih kepada para pelaku usaha wisata NTB, khususnya Disbudpar NTB, yang telah menggelar kegiatan B to B di daerahnya.

Menurutnya, Surabaya sebagai salah satu Kota Besar di Indonesia, tentu sangat tepat dijadikan sebagai lokasi promosi pariwisata NTB, mengingat Surabaya dengan Bandara Internasional Juanda-nya merupakan hub, atau pusat pergerakan dari seluruh masyarakat Indonesia, bahkan mencanegara sebelum mereka melanjutkan penerbangan ke daerah tujuan lain di daerah-daerah Indonesia.

“Setahun, di Jawa Timur ada pergerakan wisatawan domestik sebanyak 4,5 juta orang. Jumlah sebesar itu merupakan pasar wisatawan yang sangat potensial bagi NTB. Apalagi setelah ada kegiatan B to B antara pelaku usaha wisata NTB dan Jatim sekarang. Maka jaringan bisnis yang baik antar pelaku usaha wisata kedua daerah ini, kami anggota DPD Asita Jatim yang jumlahnya sebanyak 400-an travel agent yang aktif, memiliki paket jualan baru, yakni paket wisata ke Lombok maupun Sumbawa,” ujar Arifuddinsyah.

Jujur diakui Ketua DPD Asita Jatim, dia merasa iri dengan perhatian yang telah diberikan Pemerintah Provinsi NTB, dalam hal ini Disbudpar NTB kepada para pelaku usaha wisatanya. Dimana Pemda NTB telah memfasilitasi, maupun menggelontorkan anggaran yang sangat besar untuk promosi wisata keluar daerah.

“Karena itu, tak heran ketika kami DPD Asita Jatim sedang mengadakan kunjungan kerja keluar negeri. Masyarakat diluar negeri sana ternyata tidak banyak yang mengenal Indonesia. Tetapi mereka justru mengenal Bali dan Lombok, tanpa mengetahui kalau kedua daerah itu adanya di Indonesia. Apalagi Jatim, mana mereka tau,” beber Arifuddinsyah.

Semua itu sambungnya, ternyata berkat promosi gencar dan terus-menerus yang dilakukan Pemda NTB, baik keluar daerah, maupun keluar negeri. “Rupanya kami (Jatim) harus banyak belajar dengan Pemda NTB untuk urusan mengembangkan sektor kepariwisataan ini. Bagaimana Pemprov NTB mengalokasikan dana yang begitu besar untuk program-program Disbudpar NTB. Apalagi saya juga mendengar, per tahun untuk BPPD (Badan Promosi Pariwisata Daerah) NTB juga mendapat dana hibah sebesar Rp 7 miliar. Ini sungguh luar biasa. Kami yang di Jatim, kebetulan saya juga Wakil Ketua BBPD Jatim, nol persen anggarannya,” tutur Arifuddinsyah.

Sedangkan Kepala Disbudpar NTB, HL Moh. Faozal, mengakui bahwa untuk mempromosikan sektor kepariwisataan NTB itu, tidak cukup hanya didukung dengan anggaran yang besar saja. Tetapi juga dibutuhkan inovasi dan kreatifitas dari para pengelolanya, termasuk pemerintah daerah, dalam hal ini Disbudpar NTB.

“Jujur saja, kalau instansi lain mungkin hari libur itu adalah waktu untuk beristirahat atau bersama keluarga, tidak demikian dengan para pegawai atau staf Disbudpar NTB. Hari libur justru kami sibuk memantau obyek-obyek wisata yang ada di berbagai daerah di Lombok maupun Sumbawa. Kami harus melihat langsung, bagaimana kondisi suatu destinasi wisata. Menambah fasilitas kalau kurang, dan memperbaiki kalau ada yang rusak,” ujar Faozal.

Disebutkan, tahun 2016 ini saja, Disbudpar NTB telah melakukan pembenahan berbagai fasilitas publik di 38 destinasi wisata. Selain itu, mengingat kini NTB sedang gencar promosi wisata halal, setelah tahun 2015 lalu berhasil mendapatkan penghargaan sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia, dan destinasi bulan madu halal terbaik dunia. Disbudpar NTB juga memprogramkan sertifikasi halal untuk restauran dan perhotelan.

“Tercatat ada sekitar 120 hotel dan restauran yang telah mendapatkan sertifikat halal di NTB. Semua itu kita lakukan demi kenyamanan dan keamanan para tamu yang sedang berwisata, khususnya para wisatawan muslim yang kini mulai banyak berdatangan ke Lombok,” papar Faozal.

Melalui kegiatan-kegiatan promosi wisata seperti yang dilakukan di Surabaya ini, selain untuk menjaring potensi wisatawan domestik yang sebanyak 4,5 juta per tahun. Sekaligus untuk mempererat hubungan antar pelaku usaha wisata kedua daerah, melalui bisnis pariwisata yang saling menguntungkan.

“Apalagi hubungan emosional antara NTB dan Jatim ini sangat erat, dimana hampir sebagian besar pelajar asal NTB lebih memilih untuk melanjutkan kuliah di Jatim, apakah itu di Malang, Surabaya, Jember, termasuk ke pondok pesantrennya. Bahkan sebagian besar para pejabat NTB adalah lulusan perguruan tinggi di Jatim, termasuk saya sendiri juga lulusan Universitas Brawijaya Malang,” pungkas Faozal. (gt)