Swab Acak Bisa Berdampak Turunnya PAD 2021

SWAB ACAK: Kebijakan swab acak yang dilakukan Satgas Covid-19 di pasar-pasar tradisional mendapatkan kritikan DPRD Kota Mataram. (SUDIRMAN/RADAR LOMBOK)

MATARAM—Kebijakan swab acak yang kini sedang digalakkan Satgas Covid-19 Kota Mataram, dinilai bisa berdampak pada pendapatan asli daerah (PAD) Kota Mataram tahun 2021. Akibat pandemi, perekonomian di Kota Mataram semakin terpuruk. Dimana beberapa sumber penyumbang PAD seperti pasar tradisional maupun pusat perbelajaan, kantor swasta, perbankan dan tempat hiburan malam mulai sepi pengunjung.

Swab acak, membuat masyarakat menjadi takut. Seperti beberapa kasus di pasar tradisional yang sudah mulai sepi, karena terus beredar isu akan dilakukan swab acak antigen. Dampaknya kalangan pedagang akhirnya urung berjualan di pasar. Begitu juga dengan pembeli, banyak yang mengurungkan niat untuk berbelanja.

Anggota Komisi II DPRD Kota Mataram HM Zaini mengatakan, kebijakan tersebut memiliki dampak yang sangat besar bagi Kota Mataram. Disatu sisi, mulai banyak pusat-pusat perbelanjaan maupun pasar tradisional yang sepi. “Kota Mataram ini kota jasa. Tentunya masih sangat berharap sumbangan PAD dari sektor perdagangan,” katanya.

Dampaknya sangat besar di triwulan pertama, dan pastinya akan terjadi penurunan drastis PAD Kota Mataram. Ditengah pandemi covid-19, beberapa sumber pembiayaan dari pusat sudah tidak bisa diandalkan lagi. Pemkot Mataram harus melakukan evaluasi diri untuk penanganan penyebaran Covid-19, bukan sekedar melakukan swab maupun tracing kontak. Karena ini salah satu kecemasan dari warga selama ini.
Seperti dipasar tradisional, disatu sisi mereka harus mengeluarkan retribusi yang masuk ke kas daerah menjadi PAD. Tetapi kalau dalam keadaan sepi, tentunya pedagang juga akan merasakan rugi. Mereka juga terkena dampak, karena ini urusan soal perut. Jangan sampai keterlaluan, para pedagang yang menjadi korban dengan kebijakan swab acak.

Dari segi PAD, kata Zaini masih berkaitan dengan angka kunjungan ke Mataram. Terutama untuk jasa perdagangan, dimana saat ini beberapa pusat perbelajaan sudah mulai sepi dan takut dikunjungi. Bagaimana mereka mau menyetorkan, pendapatan saja berkurang selama ini.

Kedepan, penerapan pencegahan penyebaran virus Covid-19 harus lebih arif dan bijaksana. Karena masyarakat yang terus menajdi korban. Para pelaku UMKM, tidak berjalan maksimal, dan masih banyak yang tutup karena pandemi Covid-19. “Dari sektor bawah saja sudah mengeluh, terhitung sudah setahun dampak dari Covid-19,” jelasnya.

Sementara itu, anggota Fraksi Demokrat, Shinta Primasari mengatakan, dampak yang dirasakan masyarakat saat pandemi Covid-19 sangat berat. “Kita harapkan kebijakan dari kepala daerah juga lebih mengedepankan nasib masyarakat saat ini. Jangan sekedar swab saja, tapi dampaknya sangat besar, terutama dipasar banyak yang sepi setelah ada swab,” pungkasnya. (dir)