Sunarpi Promosi Rumput Laut NTB di Forum Ilmuwan Asia Pasifik

Sunarpi Promosi Rumput Laut NTB di Forum Ilmuwan Asia Pasifik
PEMBICARA: Rektor Unram, Prof. H. Sunarpi saat menjadi pembicara di ajang internasional, Asia Pasific Phycology Forum di Kuala Lumpur, 9 – 11 Oktober 2017. (IST FOR RADAR LOMBOK)

MATARAM–Prestasi membanggakan ditunjukan Rektor Universitas Mataram (Unram), Prof. H. Sunarpi di kancah inernasional. Sunarpi mewakili Indonesia di ajang internasional, yakni sebagai pembicara di Asia Pasific Phycology Forum di Kuala Lumpur dari tanggal 9-11 Oktober 2017.

Dihadapan lebih dari 900 orang peserta undangan dari berbagai negara di dunia itu, dari 8 pembicara dari berbagai negara di dunia, Sunarpi mempresentasikan potensi pengembangan rumput laut (alga) yang ada di Provinsi NTB, sebagaimana hasil penelitian yang telah dilakukannya sejak tahun 2005 silam.

“Alhamdulillah saya menjadi pembicara di forum ilmuwan terbesar di Asia Pasifik, satu-satunya dari Indonesia,” kata Sunarpi dalam pesan singkatnya melalui Whatsapp kepada Radar Lombok, Selasa kemarin (10/10).

Forum ini merupakan forum pertemuan ahli rumput laut (alga) se Asia Pasifik, termasuk Australia, Skandinavia, dan sejumlah negara di kawasan Pasifik. Pesertanya 900 orang, dimana forum tersebut merupakan forum ilmuwan terbesar di Asia.

Selain Sunarpi dari Indonesia di forum internasional pertemuan ilmuwan khusus alga terebut, sejumlah ilmuwan juga menjadi pembicara, diantaranya berasal dari Malaysia, Singapura, Jepang, Korea, Australia, Spain dan Finlandia.

Selama melakukan penelitian sejak tahun 2005 silam, Sunarpi menemukan 88 spesies alga yang tumbuh diperairan NTB dan potensinya sebagai penghasil alkaloid, yakni karagenan, agar san alginate, biofertilizer, kosmetik dan anticancer. “Beberapa hasil temuan di penelitian ini sedang saya ajukan hak patennya,” jelas Sunarpi.

Forum APPF (Asian Pacific Phycological Forum), merupakan forum pertemuan 4 tahunan ahli Phycology (Alga) se Asia Pasific, dan yang sedang berlangsung di Kuala Lumpur ini merupakan pertemuan yang ke 8. Pembicaranya bagus-bagus, mereka- yang punya nama besar dalam bidang algae dalam berbagai perspektif di kawasan Asia Pasifik.

Sebagai ilmuwan yang mumpuni dalam bidang ini, dan menjadi salah seorang invited speaker dari Indonesia yang diundang bicara dalam forum ini, mengangkat masalah potensi perairan laut NTB yang berada diantara garis Wallace dan garis Weber, dan diantara dua kekuatan arus besar dan arus kecil lautan Hindia, yang memiliki keaneka ragaman biota laut (mega diversity marine biota), dan memiliki biota endemik, termasuk makroalgae (seaweed), yang sangat potensial sebagai sumber alkaloid yakni karagenan, agar dan alginat, biofertilizer, bahan kosmetik dan anticancer.

Sebanyak 88 spesies makroalgae hasil kolejasinya di perairan NTB diantaranya 32 spesies tergolong algae merah, 18 spesies algae coklat dan 32 spesies algae hijau, sebagian besar masih tergolong type liar, belum dibudidayakan ini.

Hasil penelitian yang cukup panjang sejak tahun 2005 itu bekerjasama dengan IOES (Institute of Ocean and Earth Sciences) Universitas Malaya Malaysia, Faculty of Science Melbourne University Australia dan School of Medicine Fukushima Medical University Jepang.

Hasilnya cukup progressif, yang dibuktikan dengan banyaknya publikasi ilmiah pada jurnal internasional berimpact factor tinggi seperti journal of applued phycology, dan lainnya dan telah menarik perhatian peserta forum ini dan dunia industri yang berasal dari berbagai negara di kawasan Asia Pacific.

“Bila kedepannya hasil riset ini dihilirisasi oleh dunia industry, tentu akan menjadi kekayaan ekonomi masyarakat NTB, yang secara khusus dapat menaikkan income masyarakat pesisir, dan masyarakat NTB pada umumnya,” kata Sunarpi.

Sunarpi mengaku potensi produksi rumput laut di Provinsi NTB begitu besar. Terlebih lagi, Provinsi NTB merupakan daerah kepulauan yang menjadi salah satu daerah penghasil rumput laut terbesar di Indonesia. Hanya saja, persoalan yang dialami oleh petani rumput laut adalah masalah kualitas produksi dan produktivitas yang masih kurang.

Selain itu, selama ini produksi lumput laut di Provinsi NTB masih dijual dalam bentuk gelondongan saja, belum diolah dalam bentuk berbagai kerajinan dan produk lainnya yang bernilai tinggi. Karena itu perlu dilakukan penerapan teknologi tepat guna, untuk memberikan nilai tambah ekonomi yang besar bagi petani rumput laut yang ada di Provinsi NTB.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTB, H. Lalu Hamdi mengatakan, untuk mengembangkan potensi rumput laut di NTB, pemerintah daerah telah mulai memberikan bantuan dan pendampingan kepada petani rumput laut, seperti diberikan alat pengolahan rumput laut. Selain dilakukan pendampingan bagi petani rumput, utamanya untuk pengolahan menjadi berbagai macam pangan bernilai ekonomi tinggi.

Potensi budidaya rumput laut di sepanjang pesisir pantai NTB cukup besar. Hanya saja saat ini belum mampu dioptimalkan pemanfaatan lahan yang begitu luas untuk budidaya rumput laut. Yang bisa dimanfaatkan baru 25 persen. “Potensi pengembangan lahan produksi rumput laut sangat besar di NTB. Hanya saja, karena persoalan harga yang belum menjanjikan, petani banyak yang beralih ke pekerjaan lain,” kata Hamdi.

Produksi rumput laut di NTB tahun 2016 sebanyak 1.080 ton, melampaui target yang sebesar 850 ton. Tahun 2017 DKP NTB menargetkan produksi rumput laut 950 ton. Sebagian besar produksi berada di kawasan pesisir Kabupaten Sumbawa yang mencapai 500 ton lebih, kemudian disusul Lombok Timur sebanyak 170 ton, Kabupaten Bima dan Kabupaten Sumbawa Barat. (luk)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid