Sulitnya Administrasi Jadi Kendala Pengusaha Ekspor dari NTB

EKSPOR : Misbah saat memperlihatkan produk kerajinan miliknya yang sudah merambah pasar luar negeri. (RATNA / RADAR LOMBOK)

MATARAM – Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki kontribusi yang cukup besar bagi perekonomian daerah. Hanya saja pasar dari produk UMKM masih didominasi oleh pasar lokal dan dalam negeri.

Salah satu pengusaha ekonomi kreatif (Ekraf) di Kota Mataram Misbah mengatakan pelaku UMKM masih memiliki sejumlah kendala yang cukup besar dalam memasuki pasar global melalui kegiatan ekspor. Antara lain permasalahan sulitnya administrasi untuk keperluan ekspor, pemasaran, dan kendala pengiriman serta logistik. Selama ini produk ekraf yang dikelolanya sudah mampu merambah pasaran mancanegara tetapi ekspor barang kerajinan itu harus melalui pihak ketiga.

“Kalau ekspor langsung banyak sekali yang diurus, perlu dipelajari itu administrasi ekspornya. Karena agak ribet administrasi dua negara. Belum lagi mengurus kontainernya, belum lagi mencari buyer, pembayarannya seperti apa dan lainnya. Apalagi pembayaran sampai 4 bulan,” katanya kepada Radar Lombok, Rabu (11/1).

Misabah mengaku lebih memilih untuk menjual produknya melalui pihak ketiga, yakni buyer dari Bali, Surabaya atau DKI Jakarta. Karena administrasi pengiriman barang tidak serumit saat melakukan ekspor langsung ke negara tujuan.

Baca Juga :  Pengusaha Mulai Kibarkan Bendera Putih

“Paling yang bisa dilayani langsung adalah Malaysia, karena melalui kargo, sehingga lebih mempermudah pengirimannya. Nanti pihak kargo yang mengurus semuanya bersama konsumen, kita tinggal kirim,” imbuhnya.

Menurutnya, masih banyak potensi yang dimiliki daerah untuk dijual ke pasar Internasional. Jika benar-benar dimanfaatkan dan difasilitasi dengan baik. Apalagi jika pelaku UMKM ini diberikan sedikit pemahaman tentang inovasi-inovasi produk yang bisa menarik minat konsumen luar negeri.

“Geliat kerjinan gerabah hanya berlangsung empat tahun sekali. Dengan berbagai macam inovasi yang dilakukan diharapkan perkembangan usaha gerabah tetap eksis sepanjang waktu,” ujarnya.

Ada banyak produk yang ditawarkan Misbah, mulai dari gerabah yang menjadi primadona konsumen luar negeri, hingga beberapa kerajinan aksesoris yang berbahan baku rotan dan juga bambu.

Baca Juga :  UMKM Keluhkan Harga Minyak Goreng Curah Makin Mahal

“Jadi sekarang kita fokus membuat desain dan hal-hal baru yang untuk menarik minat konsumen luar negeri,” katanya.

Sejauh ini tidak banyak kendala yang dihadapi selama proses produksi. Biasanya hanya persoalan musim hujan yang membuat pembakaran dan pengeringan gerabah yang lebih banyak memakan waktu.

Dari usaha yang dikelolanya. Sudah lebih dari puluhan perajin gerabah yang diberdayakan yang tersebar di Kabupaten Lombok Timur, Lombok Barat hingga Lombok Tengah. Bahkan omzet yang diraup selama tahun 2022 mencapai Rp 2 milliar dan ditargetkan tahun 2023 omzet bisa mencapai Rp 9 milliar.

Oleh karena itu pihalnya berharap kedepan NTB bisa melakukan ekspor langsung tanpa melalui buyer dari daerah lain. Terlebih sudah ada Pelabuhan Carik, sehingga mempermudah kontainer melakukan pengiriman langsung dari Lombok.

“Banyak produk UMKM yang mempunyai potensi besar di pasar ekspor, seperti gerabah atau kerajinan, aksesoris dan mutiara,” tandasnya. (cr-rat)

 

Komentar Anda