Suhaili Diminta Mantapkan Komunikasi dengan Golkar

M Suhaili FT - Firadz Pariska (AHMAD YANI/RADAR LOMBOK)

MATARAM — DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) NTB mendorong bakal calon wakil Gubernur NTB, HM Suhaili FT agar memantapkan komunikasi politik dengan Partai Golkar. Sehingga peluang koalisi Partai Golkar – PKS di kontestasi Pilgub NTB dengan mengusung duet Zulkiflimansyah – HM Suhaili FT (Zul-Uhel) bisa terealisasi dan terwujud dengan baik.

Seperti diketahui, duet Zul-Uhel sudah menggelar deklarasi sebagai pasangan bakal calon Gubernur dan bakal calon wakil Gubernur NTB di kontestasi Pilgub NTB, Sabtu (8/6) lalu. “Tentu harapan kita koalisi Partai Golkar – PKS bisa terwujud,” kata Ketua DPW PKS NTB, Yek Agil, Kamis kemarin (13/6).

Menurutnya, deklarasi duet Zul-Uhel yang sudah digelar itu menjadi kabar menggembirakan bagi warga NTB, karena keduanya menunjukkan keseriusan untuk berpasangan. Dengan deklarasi itu, sekaligus menjawab keraguan publik bahwa pasangan ini dianggap tidak mungkin terwujud.

Karena posisi sebelumnya, baik Zulkiflimansyah dan HM Suhaili FT terpisah. Mereka masing-masing mencalonkan diri sebagai bakal calon Gubernur NTB. “Deklarasi ini menunjukkan keseriusan pasangan ini untuk maju pada Pilgub NTB 2024,” imbuhnya.

Sebab itu, pihaknya berharap ke Partai Golkar sebagai partai tempat HM Suhaili FT bernaung, sekaligus kader senior di sana, dapat dipertimbangkan untuk diusung. “Kami berharap Partai Golkar bisa mempertimbangkan untuk memberikan dukungan kepada Abah Uhel (panggilan akrab Suhaili FT, red) sebagai wakil dari Pak Zul,” harap Yek Agil.

Terlepas dari itu, Yek Agil sangat menghargai seluruh regulasi dan proses yang ada di internal Golkar, terkait dukungan pada Pilkada 2024. “Kami mendorong agar Abah uhel bisa mengikuti seluruh tahapan yang ada di Partai Golkar, dan aktif berkomunikasi dengan partainya,” ujarnya.

Sementara itu, Abah Uhel angkat bicara terkait alasan dirinya pisah dengan Asrul Sani, yang juga putra mantan Bupati Lombok Timur dua periode, Ali BD. Mengapa kemudian dia lebih memilih jadi Cawagub pendamping Zulkieflimansyah di kontestasi Pilgub NTB 2024. “Ada hal-hal yang mungkin, mohon maaf, dalam perjalanan ada hal yang belum bisa dipenuhi,” ungkap mantan Bupati Lombok Tengah ini.

Abah Uhel mengatakan, bahwa ada kondisi dan situasi yang tidak mendukung dirinya maju bersama Asrul Sani di kontestasi Pilgub NTB, sehingga dia harus melepas Asrul Sani sebagai Cawagub. “Ada situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan,” ucapnya.

Walau demikian, dia mengatakan sampai saat ini masih menjaga komunikasi dengan Asrul Sani sebagai saudara dan sahabat. Dia mengakui bahwa keinginan dirinya menjadi wakil Zulkieflimansyah, sekaligus juga menurunkan ego dirinya, yang sebelumnya Cagub, dengan menjadi Cawagub. “Jadi banyak calon gubernur dari Lombok Tengah, tetapi kita memilih menurunkan ego, menjadi wakil Zulkieflimansyah,” tandasnya.

Sementara itu, Sekretaris DPD Partai Golkar NTB Firadz Pariska, menyampaikan bahwa arah dukungan Partai Golkar di kontestasi Pilkada NTB dipastikan final pada Agustus 2024 mendatang. Itu menyusul pendaftaran pasangan Cagub dan Cawagub NTB di Komisi Pemilihan Umum (KPU) baru akan mulai dibuka pada tanggal 27 Agustus 2024 mendatang.

Untuk itu, Firadz meminta kepada para bakal Cagub dan Cawagub NTB agar lebih bersabar menunggu proses tahapan penentuan arah dukungan Partai Golkar di kontestasi Pilgub NTB. “Kita harapkan semua calon kepala daerah bersabar dengan proses yang sedang berjalan,” tuturnya.

Dia menegaskan, arah dukungan Partai Golkar di kontestasi Pilgub NTB itu sepenuhnya menjadi kewenangan dan hak prerogatif dari DPP Partai Golkar. Dimana dari hasil survei yang menggambarkan tingkat elektabilitas atau keterpilihan dan popularitas atau keterkenalan para Cakada akan menjadi salah satu acuan dan pertimbangan DPP Partai Golkar dalam memutuskan final arah dukungan di Pilkada NTB. “Arah dukungan diputuskan final setelah semua proses selesai, yakni pada bulan Agustus,” tandasnya.

Sebab itu, dia berharap hasil survei nantinya akan dijadikan evaluasi oleh para bakal Cakada di sisa waktu yang ada. Lebih spesifik, dia mengatakan kemungkinan besarnya akan ada proses mengeliminir empat kandidat di ujung atau sesaat menjelang pendaftaran ke KPU.

Seperti diketahui, ada lima kandidat yang telah diberikan surat tugas oleh DPP Partai Golkar, yakni HM Suhaili FT, Mohan Roliskana, Lalu Gita Ariadi, Lalu Muhammad Iqbal dan Indah Damayanti Putri. “Seiring waktu berjalan, akan ada yang mengundurkan diri karena progres survei yang tidak bagus,” ucap Firadz.

Menurutnya, terpenting bagi para bakal Cakada adalah melakukan evaluasi terkait tahapan penjaringan yang diikuti di Partai Golkar. Dengan evaluasi, para bakan Cakada mengetahui dan memahami apa yang harus dilakukan, agar  punya gambaran yang utuh soal peta pertarungan di sisa waktu yang ada. “Bagaimana memaksimalkan waktu yang tersisa untuk meningkatkan elektabilitas,” imbuhnya.

Pihaknya juga menghargai jika ada kader Partai Golkar yang telah melakukan deklarasi pasangan calon untuk Pilgub NTB 2024. Namun menurutnya, DPP Partai Golkar telah menetapkan mekanisme, yang salah satunya adalah melalui survei.

Dia memastikan ada tiga survei yang dilakukan oleh Partai Golkar, dimana survei yang dilakukan pada Mei lalu, sebagai tahap awal. Selanjutnya survei kedua akan dilakukan pada Juli, dan survei ketiga atau terakhir dilakukan pada Agustus, dengan survei simulasi berpasangan Cagub dan Cawagub, sebelum pendaftaran pasangan di KPU.

“Dengan tiga kali survei, akan diperoleh gambaran trend elektabilitas para bakal calon kepala daerah secara utuh. Baru kemudian rapat bersama di DPP untuk memutuskan final arah dukungan di Pilgub NTB,” lugasnya. (yan)

Komentar Anda