Selama Stok Belum Aman, Bulog Pastikan Tak Ada Mobnas

MATARAM—Kepala Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Provinsi NTB, Arif Mandu memastikan pihaknya tidak akan membawa beras asal NTB keluar daerah, sebelum stok untuk kebutuhan dalam daerah NTB aman.

“Sampai saat ini Bulog NTB belum mengeluarkan beras ke daerah lain (Mobnas). Saya pastikan beras NTB tidak akan keluar selama persediaan dalam daerah belum aman,” kata Kepala Perum Bulog Divre NTB, Arif Mandu di Mataram, Rabu (13/7).

Arif mengatakan, hingga saat ini jajarannya terus berupaya secara maksimal menyerap gabah petani dengan berbagai terobosan, agar bisa mencapai target sebanyak 211 ribu ton setara beras hingga akhir tahun 2016 ini. Perum Bulog Divre NTB hingga Rabu (13/7) sudah mampu menyerap pembelian gabah petani sebanyak 92 ribu ton setara beras, atau sama artinya ketahanan stok beras NTB hingga akhir tahun 2016 mendatang.

Karena serapan pembelian gabah petani baru sekitar 38 persen lanjut Arif, pihaknya tidak akan membawa keluar beras NTB, meski Bulog Pusat meminta untuk menyuplai kebutuhan daerah lain. Pasalnya, belajar dari pengalaman tahun lalu, beras asal NTB keluar, namun disatu sisi stok untuk kebutuhan dalam daerah NTB sendiri berkurang.

BACA JUGA :  Bulog Kurangi Pembelian Bawang Merah Petani Bima

“Kita tidak ingin beras dari NTB keluar. Sementara dalam waktu tidak lama, beras luar masuk NTB. Intinya. kita ingin maksimalkan kebutuhan NTB disuplai dari hasil dalam daerah sendiri,” kata Arif.

Dikatakan, saat ini Perum Bulog Divre NTB memanfaatkan secara optimal penyerapan gabah petani di musim panen “gaduh” yang ada di Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Barat. Selama musim panen gaduh, Arif berharap bisa menyerap sebanyak-banyak gabah petani, sehingga target sebanyak 211 ribu ton setara beras bisa tercapai untuk stok ketahanan pangan NTB tiga hingga empat bulan awal tahun 2017 aman.

Karena itu, Arif terus mendorong dan menyemangati jajarannya untuk melakukan pendekatan kepada petani agar mau menjual gabah mereka kepada Bulog dengan harga acuan pembelian pemerintah (HPP). “Kita berharap hasil panen padi petani di masa panen “gaduh” bisa lebih bagus, sehingga harga bisa stabil. Kalau panen parsial, maka ini yang jadi persoalan. Karena harga akan lebih tinggi dari HPP, dan itu jadi kendala Bulog,” pungkasnya. (luk)