Stabilkan Harga, Bulog Gelar Pasar Murah Cabai

PASAR MURAH CABAI: Kepala Perum Bulog Divre NTB, H. Achmad Ma’mun bersama Kepala Perwakilan BI Provinsi NTB, Prijono, Kepala Biro Ekonomi Pemprov NTB, H. Manggaukang Raba, saat melepas operasi pasar murah cabai dan kebutuhan pokok lainnya, Senin (9/1) (LUKMAN HAKIM/RADAR LOMBOK)

MATARAM–Harga cabai rawit merah di Provinsi Nusa Tenggra Barat (NTB) sudah mulai turun dari Rp 120 ribu/kg, kini sudah menjadi Rp 95 ribu/kg. Kendati demikian, Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Provinsi NTB bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi NTB, Senin (9/1) tetap menggelar pasar murah untuk sejumlah komoditi pangan, termasuk cabai.

Untuk dihari pertama operasi pasar, Perum Bulog Divre NTB menggelontorkan sebanyak 100 kilogram cabai rawit yang disebar di sejumlah pasar tradisional di Kota Mataram. Harga jual cabai rawit merah kepada masyarakat/konsumen Rp90 ribu/kg.

“Operasi pasar cabai rawit merah dan komoditi pangan lainnya akan terus kami lakukan sampai harga stabil,” kata Kepala Perum Bulog Divre NTB, H. Achmad Ma’mun disela-sela pelepasan armada mobil operasi pasar yang dihadiri juga anggota TPID NTB, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Prijono, Kepala Biro Administrasi Perekonomian Pemprov NTB, H. Manggaukang Raba, Senin (9/01).

Perum Bulog Divre NTB menurunkan empat mobil untuk langsung masuk ke pasar-pasar tradisional, serta keliling (mobile) ke sejumah perkampungan padat penduduk untuk menjual tiga komoditas pangan, seperti cabe dengan harga jual Rp90 ribu/kg, beras medium Rp8.000/kg, beras premium Rp10.000/kg dan gula pasir Rp12.500/kg.

[postingan number=3 tag=”cabai”]

“Hari ini kita lihat respon pasar, kalau harga cabai sudah Rp90 ribu/kg, maka bisa kita turunkan menjadi Rp80 ribu/kg, guna stabilisasi harga di tengah masyarakat,” kata Achmad Ma’mun.

Kepala Perwakilan BI Provinsi NTB, Prijono mengatakan,  kenaikan harga cabai ini menjadi hal yang rutin setiap tahunnya di Provinsi NTB bahkan secara nasional. Hal tersebut lebih disebabkan permintaan lebih besar dibandingkan dengan pasokan/produksi.

“Masalah cabai ini menjadi klasik setiap tahunnya. Ini perlu kebijakan struktural untuk antisipasi kenaikan harga yang sangat tinggi,” kata Prijono.

Prijono mendorong pemerintah daerah menyikap permasalahan kenaikan harga cabai di waktu tertentu yang sangat tinggi. Melalui adanya kebijakan struktural, seperti pola tanam cabai yang diatur, serta memperbaiki distribusi rantai pemasaran tidak hanya cabai, tapi juga produk pangan lainnya.  

“Pengaturan pola tanam dan juga jaminan ketersediaan produk setiap waktu. Sehingga kenaikan harga komoditas pangan ini tidak terlalu tinggi, melainkan masih dalam sewajarnya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Biro Administrasi Perekonomian Setprov NTB, H. Manggaukang Raba menyebut sepanjang tahun 2016, produksi cabai dalam daerah yang dibawa keluar NTB mencapai 4.252 ton lebih. Banyak cabai asal NTB yang keluar daerah tersebut, lebih disebabkan harga di luar lebih menjanjikan. Akibatnya, sebagian besar produksi cabai dalam daerah dibawa keluar untuk memenuhi permintaan yang cukup banyak dari luar daerah disertai harga yang menjanjikan.

“Kalau dibandingkan dengan jumlah cabai yang dibawa keluar NTB pada tahun 2015 dengan 2016 terjadi peningkatan hingga 82 persen. Ini juga menjadi salah satu penyebab harga cabai mahal di NTB sebagai sentra produksi,” kata Manggaukang.

Manggaukang menambahkan, inisiatif yang dilakukan Perum Bulog Divre NTB menggelar operasi pasar untuk cabe dan kebutuhan pokok lainnya merupakan sebagai bentuk kebijakan strategis untuk jangka pendek guna menstabilkan harga.  Untuk jangka menengah dan jangka panjang sangat perlu dilakukan penanaman cabai secara tertata. Selain itu, juga program pemanfaatan lahan pekarangan rumah, hendaknya penting untuk dihidupkan kembali untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

“Cabai asal NTB banyak disuplai ke Jakarta, Batam, NTT, Banten dan beberapa daerah lainnya. Kedepan perlu ditata ulang pola tanam dan juga arus distribusi cabai dan juga berbagai kebutuhan pokok lainnya,” pungkasnya. (luk)