Solar Langka, Masyarakat Diarahkan Gunakan BBM Nonsubsidi

ANTRIAN SEPI : Kondisi SPBU Bengkel nampak tidak ada antrian kendaraan untuk pengisian solar. (IST/RADAR LOMBOK )

MATARAM – Beberapa hari belakangan ini antrian panjang kendaraan roda empat, utamanya dam truk, dan mobil boks barang dan truk barang terlihat antri panjang di sejumlah SPBU untuk mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar. Antrian panjang kendaraan roda empat tersebut disebabkan, terjadinya kelangkaan BBM jenis solar di hampir semua SPBU di pulau Lombok.

Sejumlah pengusaha di NTB, seperti Gabungan Pengusaha Kontruksi Indonesia (Gapeksindo) NTB dan asosiasi pengusaha jasa angkutan, penggilingan, pengusaha industri kecil menengah dan juga sebagian masyarakat nelayan mulai mengeluhkan kelangkaan solar di NTB. Pasalnya, usaha mereka menjadi terkendala. Operasional mesin yang membutuhkan BBM Solar tak bisa bekerja maksimal jika bahan bakar terbatas.

Terkait kelangkaan BBM jenis solar tersebut, pihak Pertamina Rayon Ampenan membantah adanya kelangkaan Solar di SPBU.

Sales Branch Manager I NTB PT Pertamina Ampenan, Aria Aditya berkilah tidak pernah ada kelangkaan BBM jenis solar. Kendati demikian, Aria mengakui jika pihak Pertamina mulai mengarahkan masyarakat untuk menggunakan BBM nonsubsidi.

“Solar sulit dimana?. Sekarang sudah tidak ada antrian di mana – mana,” bantah Aria Aditya, Rabu (2/9).

Kendati demikian, Aria tak membantah jika beberapa hari belakangan ini kondisi sejumlah SPBU memang terdapat antrian panjang untuk membeli BBM jenis solar. Namun kondisi tersebut sudah mulai normal, Rabu (2/9) di sejumlah SPBU BBM jenis solar sudah mulai tersedia dan pelayanan sudah kembali berjalan seperti biasanya.

“Itu kan kemarin, sekarang kondisi lapangan sudah aman dan tidak ada kendala begitu juga dengan stok,” ungkapnya.

Aria menyampaikan, jika masyarakat sudah harus mulai pahami adalah BBM subsidi, yakni Premium adalah jenis bahan bakar penugasan khusus dan Solar subsidi adalah jenis bahan bakar tertentu. Kedua jenis bahan bakar tersebut memiliki kuota yang diberikan oleh pemerintah setiap tahunnya, sehingga PT Pertamina harus dapat menyalurkan kedua jenis bahan bakar tersebut sesuai dengan kuota yang diberikan.

“Berbeda dengan BBM nonsubsidi yang tidak memiliki kuota atau tidak terbatas,” katanya.

Aria berharap bagi konsumen kendaraan pribadi dan pelaku usaha industri atau sektor lain yang selama ini menggunakan bahan bakar premium dan solar subsidi dapat mulai berkenalan dan beradaptasi menggunakan bahan bakar jenis bakar umum atau BBK yang tersedia di SPBU.

“Tidak ada kelangkaan solar sampai saat ini. Apalagi adanya antrian panjangan truk-truk yang mengisi di beberapa SPBU di Kota Mataram,” pungkasnya. (dev)