SMPN 4 Keruak Kekurangan Ruang Belajar

MINIM RKB: Tampak bangunan SMPN 4 Keruak kekurangan Ruang Kelas Belajar (RKB) dan tidak memiliki tembok pembatas (Janwari irwan/ Radar Lombok)

SELONG–Sekolah Menengah Pertama (SMPN 4 ) Negeri Keruak yang berada di Desa Tanjung Luar, Lombok Timur mengalami kekurangan ruang belajar, bahkan minim fasilitas.

Kepala SMPN 4 Keruak, H. Amrullah Fauzi menjelaskan, masalah kekurangan ruang kelas yang dialami oleh sekolahnya merupakan hal yang sudah lama. Namun sejak beberapa kali diajukan hingga  saat ini belum mendapat tanggapan dari pemerintah.

“Berbicara kekurangan kita sudah lama kekurangan, bukan hanya ruang kelas saja yang kurang, fasilitas sekolah juga sangat minim dibandingkan dengan sekolah negeri-negeri lainnya,”ugkapnya kepada Radar Lombok, Selasa (15/11).

Disampaikannya, SMPN 4 Keruak yang dibangun pada tahun 2012 silam mempunyai ruang belajar sebanyak 3 unit. Dari jumlah ruang kelas itu jumlah siswa sebanyak 120 siswa. Namun dengan jumlah siswa sebanyak itu sekolah ini mengalami kekurangan ruang kelas dan terpaksa memakai ruang guru.

“Untuk ruang belajar pada tahun ini yang sebenarnya sebanyak 4 ruang belajar. Namun karena kekurangan kita menggunakan ruang guru.” jelasnya.

Selain itu sambungnya, pada tahun ajaran 2016 sebenarnya ratusan siswa yang mendaftar di sekolah tersebut.  Namun karena kekurangan ruang kelas membuat pihak sekolah hanya mengambil sebanyak 50 orang siswa saja. “Dengan keadaan seperti ini kita tidak bisa memaksakan diri untuk menerima yang lebih banyak. Sedangkan fasilitas kita terbatas,” tegasnya.

Tidak hanya fasilitas yang kekurangan, SMPN 4 Keruak juga tidak mempunyai tembok pembatas. Ini dikarenakan pihak sekolah masih takut membuat tembok karena tanah tempat berdirinya sekolah ini  merupakan tanah milik desa, bukan milik sekolah.

“Tanah ini kan milik desa, kita sudah melakukan upaya untuk membebaskan lahan ini  agar dimiliki oleh sekolah namun hingga saat ini masih belum bisa dilakukan,” ujarnya.

Padahal melihat keadaan seperti ini, lanjutnya, seharusnya ada jalan keluar dari pemerinah agar pembangunan sekolah tidak ada yang diragukan lagi. Lantaran tidak dipagar, tak jarang sekolah ini dimasuki kerbau dan anjing.

Diakuinya, pada tahun 2014 SMPN 4 Keruak pernah mendapat bantuan berupa Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk alat-alat IPA. Namun karena keterbatasan sarana prasarana seperti ruang laboratorium yang tidak ada, sehingga alat untuk IPA tidak bisa digunakan.

Pihak sekolah berharap kepada pemerintah untuk membantu membangun ruang belajar. Pihak juga berharap agar pemerintah membebaskan lahan tempat sekolah ini berdiri.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Lombok Timur, Lalu Suandi menegaskan, untuk SMPN 4 Keruak yang saat ini kekurangan ruang belajar pada tahun 2017 akan diusahakan ruang belajar. Ini mengingat sekolah ini sangat minim fasilitas.

Setelah dilakukan peninjauan ke lokasi lanjutnya, beberapa keluhan yang dialami oleh SMPN 4 Keruak antara lain, sekolah ini masih kekurangan ruang kelas sebanyak 2 unit. Dengan begitu, pada tahun 2017 mendatang, pihaknya akan usahakan untuk menambah ruang belajar.

Terkait lahan sekolah ini yang masih dimiliki oleh desa, sebenarnya jika dipermasalahkan sangat bermasalah. Namun menurutnya, tanah yang dimiliki oleh desa juga merupakan tanah milik pemerintah. “Pemerintah desa itu kan pemerintah juga, ada pemerintah desa, ada kecamatan, dan lain, justru sekarang ini bagaimana caranya agar kita sebagai pemerintah itu bisa berbuat baik kepada masyarakat, jadi kedepannya kita akan usahakan untuk membantu sekolah ini,” pungkasnya. (cr-wan).