SMAN 4 Mataram Pupuk Semangat Wiraswasta Siswa

HASIL KERAJINAN: Salah satu kerajinan siswa SMAN 4 Mataram berupa cukli kerang yang ditunjukkan pembimbingnya, Subti (kiri) dan Waka Humas SMAN 4 Mataram, Anak Agung Gde Rai Adjana (kanan) (NASRI/RADAR LOMBOK)

MATARAM—Ada yang berbeda dari SMAN 4 Mataram, meski bukan sebagai sekolah kejuruan, tapi sekolah ini tetap memupuk semangat siswa untuk berwiraswasta.

Kepala SMAN 4 Mataram, Hj. Suprapti mengatakan, program yang dikembangkannya tersebut sudah berjalan satu tahunan. Program kewirausaan yang dilakukan siswa di sekolah ini dikelola langsung oleh siswa.

“Bantuan dana berasal dari pusat. Siswa langsung yang kelola dana ini,” ungkapnya, Selasa (15/11).

Adapun siswa yang terlibat dari program itu hanya untuk kelas X dan XI saja. Sementara untuk kelas XII tidak berani dilibatkan karena harus fokus menghadapi Ujian Nasional (UN).

Suprapti meyakini program yang dikembangkannya akan mampu menumbuhkan jiwa bisnis siswa. Di lain sisi program ini juga menumbuhkan karakter, kemandirian dan kekreatifan siswa.

Bentuk usaha yang dilakoni siswa sekolah ini, jelasnya, seperti kerjainan cukli, kria, anyaman dan yang lainnya. Sementara untuk pengembangan jenis makanan seperti kue dan jajanan yang digemari siswa semuanya dikembangkan pula oleh siswa.

Dari semua usaha yang dilakukan siswa, jelasnya, semua dananya merupakan bantuan dari pemerintah pusat. Karena itu, ketika siswa meminjam modal maka harus dikembakikan dan untungnya siswalah yang berhak mengambilnya. Namun untuk sementara kalau untuk jajan, siswa hanya bisa jualan di lingkungan sekolah saja.

Adapun kegiatan ini bagi Suprapti, tidak mengganggu kegiatan akademik siswa. "Yang jelas siswa kami tidak terbebani kok, malah mereka nikmati program ini," tambahnya.

Sementara pembimbing kewirausahaan SMAN 4 Mataram, Subti mengatakan, perkembangan kekreatifan siswa dinilainya cukup signifikan. Bahkan dari sisi perkembangan seni seperti pembuatan cukli kerang, kria dan anyaman cukup bagus. Karena hasilnya banyak yang sudah dipesan pembeli.

Begitu juga untuk kekreatifannya dalam pembuatan jajan, semuanya tinggal disebarkan ke pasar dan warung-warung kecil. Perkembangan tersebut terus dijaga dan dikelolanya agar benar-benar dinikmati siswa.

Namun Subti harus mengakui, dalam hal ini ada beberapa kendala yang membuatnya terkesan masih tidak maksimal. Kendala yang dimaksud adalah masih minimnya fasilitas pendukung berupa sarana dan prasarana dalam memaksimalkan hasil kerajinan siswa. (cr-rie)