SLB Pembina Mataram Sibuk Data Pegawai

Sungkono (Nasri/Radar Lombok)

MATARAM—Dengan resminya SMA, SMK dan SLB diambil alih pengelolaannya oleh Dikpora NTB membuat pihak SLB Pembina Mataram sibuk dengan pendataan pegawai dan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang dimilikinya. Ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya kesalahan dikemudian hari

Kepala SLB Pembina Mataram, Sungkono mengatakan, terdapat sekitar 21 guru dan pegawai PNS yang ada di sekolah itu. Pendataan dilakukan jauh-jauh sebelumnya untuk menghindari terjadinya kesalahan-kesalahan. Apalagi dalam hal ini berkaitan dengan soal gaji para pendidik.

Menurutnya, persoalan tersebut adalah hal yang sangat sensitif utnuk segera diselesaikan. Terlebih, rencananya sistem penggajian yang akan dikontrol Dikpora NTB ini akan dimulai awal Januari 2017 mendatang.

Baginya kondisi tersebut harus diperhatikan lebih awal. Namun bukan berarti proses belajar mengajar yang dijalankannya terbengkalai. "Ya saat ini kami fokus dengan pendataan para guru PNS, karena adanya pemindahan gaji ini," katanya, Kamis (8/12).

Ditambahkannya, dimana-mana sekarang lagi rebut-ributnya terkait alih kelola tersebut. Kekhawatiran yang bermacam-macam pun muncul. Dari kenyataan itu, untuk mengantisipasi terjadinya kekhawatiran di jajaran sekolah yang dipimpinnya, dia dengan sigap menjalankan arahan dari pihak-pihak terkait termasuk Dikpora NTB.

BACA JUGA :  Rekrut Pegawai, RSUD Bakal Gandeng Pihak Ketiga

Tidak hanya pada pegawai dan guru PNS saja yang di datanya. Pegawai dan guru honor pun juga didatanya. Khusus untuk yang honor, pihaknya mengaku sementara ini hanya mendapat imbauan dari pihak Dikpora NTB agar segera masukkan laporannya ke Pemerintah Provinsi NTB supaya segera disikapi.

Diakuinya, dengan sistem baru ini pihaknya sempat khawatir. Karena menurutnya akan berpengaruh pada kesejahteraan pegawainya. Namun setelah diikutinya informasi yang riil dari perkembangan sistem yang baru tersebut, pihaknya cukup tenang. Dengan begitu, para pegawai dan guru-gurunya tidak ikut terpengerauh. Bahkan proses belajar mengajar tetap berjalan dengan maksimal.

"Kekhawatiran memang tetap ada, tapi tidak pengaruhi proses belajar mengajar kok," tutupnya. (cr-rie)